Masalah Overkapasitas Di Rutan Lapas, Perlu Implementasi Nyata Restorative Justice Dalam Penerapan Hukum

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Penanganan persoalan overkapasitas rutan dan lapas di Indonesia sangat perlu mengimplementasikan pendekatan restorative justice secara nyata. Sehingga hukuman pidana penjara tak selalu menjadi solusi dalam penegakan hukum sejumlah kasus kejahatan yang terjadi negeri ini.

Demikian disampaikan Kepala Rutan Klas I Medan/Rutan Tanjunggusta Theo Adrianus Purba (foto) saat berdiskusi bersama wartawan yang tergabung dalam Forum Wartawan Hukum (Forwakum) Sumut, di taman Rutan Klas I Medan, Selasa (5/10) sore.

“Persoalan overkapasitas ini bukan lagi masalah baru, malah kita semua sudah tahu sama tahu lah masalah itu umum di sebagian besar rutan maupun lapas di Indonesia, apalagi kondisi abnormal masa pendemi ini. Tapi sebenarnya kalau membahas penanganan overkapasitas, sangat penting mengimplementasikan restorative justice secara nyata dalam proses penegakan hukum di negeri ini,” ucap Theo.

Dikatakan Theo, sebagai langkah upaya mengimplementasikan restorative justice secara nyata dalam proses penegakan hukum tersebut, rancangan Undang-undang KUHP Nasional perlu segera disahkan.

“Karena salah satu wujud Keadilan dalam UU KUHP Nasional dijelaskan juga merujuk adanya pidana alternatif yang sangat mungkin diberlakukan dalam penegakan hukum sejumlah kasus kejahatan. Sebagaimana pidana alternatif yang telah diterapkan dalam sistem penegakan hukum sebagian besar negara maju,” ujar Theo.

Sanksi Sosial

Pidana alternatif yang dimaksud itu dijelaskan Theo, lebih bersifat sanksi sosial semisal berupa hukuman kerja sosial, kewajiban menjalankan tugas pelayanan publik tertentu tanpa pamrih, hingga membayar denda dengan taksasi nominal sesuai tindak kejahatan yang dilakukan.

Apalagi jika pola penegakan hukum tersebut memungkinkan bisa berfungsi sekaligus mendukung program sosial pemerintah dan negara. Khususnya dalam upaya meningkatkan pelayanan publik tanpa harus mengeluarkan anggaran membayar sumber daya manusia.

“Jadi pidana penjara tak selalu jadi solusi dalam penegakan hukum kasus kejahatan, harusnya juga tidak semua perkara mesti diajukan ke pengadilan. Bayangkan saja misalnya, selain wajib mengembalikan uang negara, koruptor juga dihukum membersihkan fasilitas umum publik seperti di pasar tradisional selama bertahun-tahun,” kata Theo.

Theo juga mencontohkan sejumlah kasus pidana yang terbilang dilematis namum pelakunya berujung di penjara hingga akhirnya menambah kapasitas penghuni rutan. Terlebih para pelaku kasus kejahatan itu menjadi “pemasok” terbesar kapasitas jumlah penghuni rutan meskipun layak menjalani pola hukuman alternatif sebagai wujud keadilan.

“Bukan menganggap kasusnya sepele ya, tapi seperti contoh kasus narkoba. Banyak para pemakai narkoba yang sebenarnya layak direhabilitasi tapi dihukum seperti bandar. Akhirnya para pelakunya menjadi penghuni rutan selama bertahun-tahun dan tidak sedikit jumlahnya. Kasus lainya lagi seperti pencurian yang kerugiannya tak sampai puluhan juta, bahkan ada yang tak sampai jutaan rupiah tapi hukumannya maksimal,” bebernya.

Lebih jauh dikatakan Theo yang mengaku telah merasakan suka duka selama 21,5 tahun mendedikasikan diri dalam pembinaan kepada warga binaan, tugas membina orang-orang yang dinyatakan bersalah dalam menjalani kehidupan juga perlu dengan sentuhan cinta.

Dengan kapasitas Rutan Klas I Medan yang saat ini dihuni 4.300 warga binaan, menurutnya banyak hal yang harus dimengerti dengan kepekaan hati dan perasaan.

Dalam hal bagaimana memastikan kesehatan jasmani dan rohani para warga binaan, hingga soal kebutuhan mendasar sehari-harinya sebagaimana manusia seperti masyarakat lain pada umumnya.

“Sebenarnya ini tanggungjawab moril kita semua. Bagaimana cara kita menangani dan menyikapi beragam permasalahan mereka, kita juga harus menyelami karakter mereka. Intinya Kita juga harus berupaya memanusiakan manusia lah meskipun dengan segala latar belakang kasus kejahatan yang mereka lakukan,” kata Theo.

Pada kesempatan yang sama dalam silaturahmi dan diskusi tersebut, Ketua Forwakum Sumut, Aris Rinaldi Nasution menyampaikan rasa terima kasihnya mewakili seluruh wartawan anggota Forwakum yang hadir berbincang berbagi pengalaman dengan Theo Adrianus.

“Forwakum Sumut mengucapkan terima kasih sekaligus apresiasi atas capaian dan etos kerja bapak sebagai Karutan Tanjunggusta yang telah berupaya mengedepankan rasa kemanusiaan dalam menangani warga binaan di kondisi abnormal dan overkapasitas. Semoga tetap komunikatif berdiskusi serta bersilaturahmi dengan rekan wartawan untuk menyampaikan gagasan positif maupun inovasi tugas,” kata Aris. (m32).

Teks foto:

Kepala Rutan Klas I Medan, Theo Adrianus Purba.Waspada/Rama Andriawan.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *