Waspada
Waspada » Lindungi Anak Korban Pencabulan Dan Trafficking
Medan

Lindungi Anak Korban Pencabulan Dan Trafficking

PERLINDUNGAN ANAK. Kordinator Divisi Advokasi Yayasan Pusaka Indonesia, Elisabeth meminta pemerintah lindungi anak yang menjadi korban pencabulan dan perdagangan anak (trafficking). IIustrasi
PERLINDUNGAN ANAK. Kordinator Divisi Advokasi Yayasan Pusaka Indonesia, Elisabeth meminta pemerintah lindungi anak yang menjadi korban pencabulan dan perdagangan anak (trafficking). IIustrasi

MEDAN (Waspada): Kordinator Divisi Advokasi Yayasan Pusaka Indonesia, Elisabeth meminta pemerintah lindungi anak yang menjadi korban pencabulan dan perdagangan anak (trafficking).

“Campur tangan pemerintah dinilai penting untuk lindungi anak korban pencabulan dan perdagangan,” kata Elisabeth di Medan, Selasa (12/1).

Dia merespon maraknya aksi kejahatan seksual pada anak maupun traficking dilakukan orang tua pada anaknya sendiri.

Menurutnya, langkah itu sangat perlu dilakukan guna memulihkan kondisi trauma pada anak. Sedangkan pelaku kejahatan pada anak harus dihukum maksimal dengan hukuman yang berlaku. Selain itu diberikan hukuman  yang membuat mereka jera atas perbuatannya.

Kata dia, campur tangan pemerintah khususnya Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak(PPA) bersama Dinas Sosial dalam merehabilitasi anak sebagai korban kejahatan seksual maupun traficking, sebagai upaya penyelamatan pada anak sebagai bagian dari generasi bangsa masa datang.

Jika pelaku kejahatan eksploitasi seksual maupun kejahatan seksual adalah orang tua anak sendiri, sambung Elisabeth, perlu juga memastikan bagaimana pemerintah ikut campur tangan memelihara anak, karena orang tuanya akan menjalani hukuman.

“Hal itu bertujuan agar anak-anak tidak  terlantar tanpa orang tuanya. “Apalagi mereka tidak punya saudara yang mengasuh dan merawatnya,” kata Elisabeth.

Saat ditanyakan jika orang tua yang melakukan traficking utamanya pada anak sendiri dengan alasan ekonomi,  Elisabeth menyebutkan hal itu bisa saja modus orang tua yang tidak mau bekerja keras untuk menghidupi anak-anaknya.

“Kesulitan ekonomi dialami hampir semua orang tua, baik yang punya kerja apalagi yang tidak punya penghasilan. Namun bukan berarti seorang ibu gelap mata dengan menjual anaknya atau ikut menjual narkotika,” katanya.

Kalau seorang ibu, lanjutnya, mau dan tidak malu melakukan pekerjaan yang halal, ada saja peluang untuk penghasilan halal.Dan yang penting juga  harus bisa menjaga kepercayaan orang dan bekerja keras.

Miris

Terpisah Pengamat Hukum, Rina Melati Sitompul menyampaikan perasaan miris, atas kejahatan dilakukan pada anak.

“Miris dan sedih. Yang seyogianya orang tua sebagai pelindung malah menjerumuskan. Degradasi moral orang tua itu kan pelindung, bahkan pengayom anaknya. Kondisi ekomomi bukan membearkan satu pengalihan tanggungbjawab dengan menjerumuskan anaknya,” kata Rina Sitompul

Kata dia, bagi siapapun yang memiliki kuasa dan tanggung jawab jikalau melakukan penerumusan  pantas hukuman terberat layak dibebankan kepadanya.

“Orang lain saja yang tidak memiliki kaitan tapi melakukan penjerumusan pantas dihukum. “Akibat mengejar materi dan kesenangan anak pun tega dijual itu bukalah pantas dilabeli manusia,” paparnya.

Sebelumnya diberitakan Reskrim Unit Pidum Polrestabes Medan menangkap ibu kandung penjual anak gadisnya kepada lelaki hidung belang di Hotel Reddorz Jl. Dahlia, Kec. Medan Tembung.

Tersangka ASN alias Nona, 42, warga Jl. Bayangkara Medan dijebloskan dalam sel tahanan Polrestabes Medan.

Selanjutnya diberitakan pula bahwa polisi mengamankan seorang kakek predator yang mencabuli 6 Bocah laki-laki dengan imbalan uang Rp50 ribu hingga Rp140 ribu kepada korbannya.

Tersangka EL, 51, warga Kec. Medan Helvetia. Sementara korbannya sebanyak enam orang berusia 13 sampai dengan 16 tahun.

Kanit PPA Polrestabes Medan,  AKP Madianta Ginting kepada wartawan, Senin, (11/1) mengatakan, tersangka ini diamankan warga Helvetia 6 Januari 2021 dan diserahkan ke Polrestabes Medan. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2