Lindawaty, S.pd : Mandirikan Tunanetra Gapai Impian

Lindawaty, S.pd : Mandirikan Tunanetra Gapai Impian

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Pada 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional, dimana  suka cita para guru menerima pujian dari murid dan orang tua siswa.


Demikian halnya dengan Lindawaty,SPd, tunanetra atau penyandang disabilitas penglihatan, yang kini menjadi guru sekaligus Pembina Yayasan Pendidikan Dwituna Harapan Baru dan guru kelas Akademik atau tunanetra
multiple disabilities with visual impairment(MDVI),yakni tunanetra ganda atau disebut majemuk.

“Ya, Hari Guru identik dengan membangun kembali konsep menjadi guru. Membangkitkan semangat berbagi dan memandirikan siswa menggapai impian masa depannya,”ungkap Lindawaty,lulusan Unimed ini Rabu (24/11).

Sambil membuka lipatan laptop dan menarik kursi untuk dirapatkan ke meja, Lindawaty terlihat sangat paham dimana posisi laptop dan wayar colokan listrik, sehingga ia dengan mudah mengalirkan listrik ke laptop.


Perlahan laptop menyala dan guru yang masa kecilnya dihabiskan belajar di SLB Pembina Medan di Jl.Guru Sinumba,itupun menyalakan tombol on pada laptop.
“Sebentar ya, belum terkoneksi ke jaringan internet,”paparnya sembari meraba huruf demi huruf di tuts laptopnya.

Sambil melihat dengan seksama,guru ini menekan huruf pada layar papan kyboard komputer, sayapun berpikir bagaimana seorang tunanetra bermain komputer kemudian mengajar secara daring.

Sesaat kemudian,Lindawaty bicara. “Ini sudah ada aplikasinya yakni komputer bicara yang diinstal terpisah. Sehingga memudahkan tunanetra menggunakan laptop mengajar secara daring,bahkan kami sudah bisa, mengetik bahkan menulis buku serta melakukan proses editing tanpa perlu tergantung dengan orang awas (sighted person),”ucapnya.

Selain itu, tambah dia, untuk membaca teks dalam format digital, bisa document Word, PDF, atau berselancar di internet. Bahkan membaca buku cetak secara langsung pun dimungkinkan dengan bantuan alat scanner. Maka itu, bukan mustahil lagi tunanetra dapat lebih mudah menjadi seorang penulis, jurnalis, admin, atau apapun yang sebelumnya terhambat dengan kemampuan menulis awas.

Lalu bagaimana Lindawaty menjalankan tugas sebagai guru?
“Wah, pertemuan dengan siswa ada tatap muka dan secara daring,pada Senin sampai Jumat selama 3 jam saja,”ucapnya.

Saat ditanya apa kesulitanya menjadi guru?

Lindawaty yang juga aktif dalam berbagai organisasi tunanetra ini mengakui kesulitan saat awal anak-anak tunanetra disekolahka’ orang tuanya.

“Jadi, pembelajaran tunanetra ini dengan kurikulum fungsional. Awalnya siswa diasesmen dulu, mereka itu tunatetra jenis apa? Apakah kategori tunanetra kelompok, kurang penglihatan (low vision) dan buta total (totally blind).Jadi, sebagai guru kita juga harus paham, anak itu masuk golongan apa. Agar dalam skema mendidik tidak salah,”ujarnya.

Apa yang membuat Lindawaty yang juga mengajar Bahasa Inggris dan Komputer ini, bahagia menjadi guru?
“Saya memang terpanggil menjadi guru sejak kecil. Lalu giat sekolah termasuk sekolah terintegrasi dan kuliah di Unimed. Dengan begitu, saya ingin mendermakan ilmu saya pada anak tunanetra,”ungkapnya.
Bagaimana membangun impian peserta didik?

“Di sini, ada peminatan untuk siswa, sehingga mereka bisa memilih hobi dan bakatnya. Bersama orang tua, akan kami evaluasi dan pembinaan secara khusus dan membuat perjanjian bersama orang tua dan siswa sehingga puncaknya anak tunanetra itu mau jadi apa. Kalau hobi masak, fokusnya masak apa. Ya, satu-satulah agar impian mereka tercapai. Tunanetra itu harus mandiri, bisa mengurus dirinya sendiri, berbudi pekerti yang baik, tidak mengeluh dengan keadaan, sebab mereka tidak sendirian di dunia ini, “sebutnya.
Saat ditanya berapa gaji dia terima sebagai guru?

Lindawaty hanya senyum tanpa menyebut angka. “Saya guru mendidik, bagi kami disini bagaimana mendidik anak tunanetra dengan semangat berbagi. Apalagi yang belajar di sini ada yang berbayar dan ada yang tidak sehingga finansial belum jadi prioritas.

Karenanya Hari Guru, bagi saya menjadi saat memperbaharui semangat mengajar saya harus berbuat apa,”ungkapnya penuh semangat. Anum Saskia

Waspada/Anum Saskia
Lindawaty saat mengajar secara daring di ruang kelas.

  • Bagikan