Waspada
Waspada » Konsorsium Permampu Peringati IWD Virtual
Medan

Konsorsium Permampu Peringati IWD Virtual

SUASANA kegiatan digelar secara virtual. Konsorsium Permampu peringati IWD bertemakan "Perempuan Sumatera Otonom atas tubuhnya, bersatu melawan kekerasan berbasis gender, menghormati keberagaman dan tangguh di masa Pandemi Covid -19 berlangsung Senin (8/3)secara virtual. Waspada/ist
SUASANA kegiatan digelar secara virtual. Konsorsium Permampu peringati IWD bertemakan "Perempuan Sumatera Otonom atas tubuhnya, bersatu melawan kekerasan berbasis gender, menghormati keberagaman dan tangguh di masa Pandemi Covid -19 berlangsung Senin (8/3)secara virtual. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Perayaan Hari Perempuan International atau Internasional Woman Day (IWD) bertemakan “Perempuan Sumatera Otonom atas tubuhnya, bersatu melawan kekerasan berbasis gender, menghormati keberagaman dan tangguh di masa pandemi Covid -19 berlangsung Senin (8/3).

Acara digelar secara virtual oleh Konsorsium Permampu yang terdiri atas 8 LSM Perempuan di Pulau Sumatera.

Kegiatan secara virtual, diikuti oleh 143 peserta (132 perempuan dan 11 laki-laki) mewakili Aktivis Perempuan, FKPAR Sumatera, Forum Perempuan Muda, Forum Multistakeholder, dan jurnalis.

Dalam perayaan tersebut Dina Lumbantobing selaku Koordinator Permampu membuka acara dengan mengingatkan kembali sejarah yang telah dimulai sejak tahun 1911.

“Di saat pandemi Covid-19, kekerasan seksual maupun bentuk kekerasan lainnya berbasis online juga semakin marak terjadi, sementara ketegangan dalam rumah tangga yang menimbulkan Kekerasan Dalam

Rumah Tangga (KDRT) juga banyak dialami perempuan,” ungkapnya.

Data di WCC Sinceritas-PESADA di akhir 2020 tetap menunjukkan pola kekerasan terhadap perempuan yang sama, dimana KDRT tetap tertinggi yaitu  68 kasus ( 49.6%), sementara di arena publik sebanyak 44 kasus (32 %), dan 25 kasus Kekerasan Terhadap Anak Perempuan/KTAP (18%).

Sedangkan catatan tahunan 2020, Cahaya Perempuan WCC dan Media Lokal menunjukkan kasus Kekerasan Seksual merupakan kasus tertinggi, yaitu 181 kasus (66 %) Kekerasan Terhadap Anak Perempuan/KTAP 3 kasus (1%) dan kasus KDRT (Kekerasan terhadap Isteri) 90 kasus (32.85%).

Sementara di WCC Palembang sepanjang tahun 2020, Divisi Pendampingan WCC Palembang telah melakukan pendampingan sebanyak 113 kasus.

Yakni terdiri dari: Kekerasan Seksual berupa perkosaan, pelecehan seksual dan kekerasan seksual lainnya 46 kasus (40,71%), KDRT 41 kasus (36,28%).

Kekerasan Dalam Pacaran (KDP) 15 kasus (13,27%); dan beragam bentuk kekerasan lainnya 11 kasus (9,74%). Di Lampung Lembaga Advokasi Perempuan DAMAR memonitor 147 kasus Ktp/a, kasus tertinggi adalah kekerasan seksual dengan jumlah 92 kasus, KDRT 42 kasus, trafficking 12 kasus.

Diskusi

Berdasarkan data di atas, digelar diskusi bersama. Permampu dari Sumatera Barat, Ramadhaniati (Direktur LP2M) dan Ketua Forum Perempuan Akar Rumput (FKPAR) Sumatera Barat, Marsusi Luthfi.

Mereka  menegaskan  dukungan Perempuan Sumatera kepada SKB 3 Menteri Tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut di Lingkungan Sekolah yang diselenggarakan Pemerintah Daerah.

Hal ini dinilai semakin menegaskan perlindungan negara atas hak warga dalam kebebasan beragama dan berkeyakinan, melindungi otonomi perempuan atas tubuhnya dan penghormatan terhadap keberagaman.

Sementara Ernawati (Koordinator Program-Flower Aceh) dan Rika Yusrina (Forum Perempuan Muda Aceh) mengkritisi kecenderungan promosi dan praktik perkawinan anak dengan menunjukkan kasus dari hasil penelitian terhadap 36 perempuan yang menjalankan pernikahan pada usia anak di Banda Aceh, Pidie dan Aceh Utara.

Perkawinan anak di Aceh disebabkan oleh kemiskinan dan masih kuatnya mitos-mitos yang salah tentang seksualitas dan reproduksi perempuan sepertinya perawan tua, khawatir anak melakukan zinah, dan lain-lain.

Imbas Pandemi Covid-19

Di bagian akhir diskusi, 9 orang perwakilan dari lembaga anggota Konsorsium dan perempuan akar rumput menyampaikan perasaan mereka selama 1 tahun pandemic Covid-19. Dimana usaha yang mereka geluti kena imbas dan mengalami kesulitan.

Ini menunjukkan bagaimana perempuan rentan mengalami kekerasan berbasis gender, feminisasi kemiskinan dan diskriminasi selama pandemic Covid-19. Tetapi juga sekalihus menunjukan resiliensi perempuan dalam menghadapi masa-masa sulit pandemi Covid-19.

Perayaan IWD diakhiri dengan komitmen bersama seluruh peserta untuk:

1.Lebih peka terhadap seluruh bentuk pelanggaran HAM, Hak Azasi Perempuan (HAP), dan hak anak perempuan dan saling membantu mengatasi kesulitan pada masa pandemic Covid-19.

2.Bersatu mengkampanyekan otonomi perempuan atas tubuhnya dan melawan segala bentuk kekerasan berbasis gender dan perkawinan anak sebagaimana diamanahkan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi terhadap Perempuan (UU No.7 Tahun 1984) dan UU No 16 tahun 2019 perubahan pasal 7 UU Perkawinan No 1 tahun 1974.

3.Mendorong Pemerintah Daerah dan Lembaga Pendidikan agar konsisten melaksanakan  SKB 3 Menteri Tentang Penggunaan Pakaian Seragam dan Atribut untuk mewujudkan pendidikan yang adil terhadap perempuan, memperkuat nilai toleransi dan kebhinekaan Indonesia.

4.Negara harus memberi perlindungan kepada aktivis perempuan yang juga rentan mengalami kriminalisasi karena memperjuangkan hak-hak perempuan.

Selanjutnya Dina Lumbantobing selaku Koordinator Permampu menyerukan bahwa Perempuan Sumatera Otonom, Sehat, Kreatif. (m22/A)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2