Waspada
Waspada » Kesetaraan Gender Dalam Pandangan Islam Tetap Aktual Dibicarakan
Medan

Kesetaraan Gender Dalam Pandangan Islam Tetap Aktual Dibicarakan

PEMBICARA yang memaparkan materi dalam diskusi digelar Pengurus One Day One Juz Medan. Setara gender dalam pandangan Islam tetap aktual dibicarakan. Waspada/ist
PEMBICARA yang memaparkan materi dalam diskusi digelar Pengurus One Day One Juz Medan. Setara gender dalam pandangan Islam tetap aktual dibicarakan. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Topik kesetaraan gender dalam pandangan Islam menjadi perbincangan dominan ratusan muslimah Indonesia dan tetap aktual untuk dibicarakan.

Hal itu terungkap  dalam Diskusi Publik online, Sabtu pagi (9/1) dengan pembicara antaranya, Ketua Umum ODOJ DPA Medan, Yasir Arafat dan Novia Irawati, pengurus ODOJ (One Day One Juz) Medan serta Ustadzah Mahmudah dan Ustadzah Chairunnisa Rahmawati.

Yasir Arafat yang mengangkat tema Membumikan Alquran melangitkan perempuan menyampaikan Islam menampilkan potret perempuan yang mulia, cerdas, serta melahirkan para generasi ulama dan ilmuwan.

Ini berbeda jauh dengan potret masa kini dimana banyak muslimah dilecehkan dan mengalami kekerasan.

Karena itu perlu untuk kembali pada nilai-nilai yang diajarkan dalam Islam.

Ustadzah Mahmudah menyampaikan munculnya feminisme di kalangan muslim. Menurutnya, kaum feminis mengadopsi cara berpikir feminisme Barat dan memandang Islam sebagai ajaran patriarki.

Mahmudah juga mengkritik tafsir para feminis atas pandangan Islam yang menjadikan akal sebagai asas dalam penafsiran Alquran, tidak terikat pada dasar ijtihad yang benar dan kaidah yang murni dan tepat, juga liberalisasi penafsiran sehingga menjadikan akal diatas penafsiran dalil.

Mengutip dari Lothrop Stoddard dalam ‘The New World of Islam‘ menjelaskan, Islam datang dengan ajaran yang memberi perlindungan terhadap perempuan juga semua umat di dunia.

Bukan Ide Islam

Pembicara Ustadzah Chairunnisa Rahmawati yang turut hadir sebagai narasumber membenarkan ide kesetaraan gender dalam pandangan Islam tetap aktual dibicarakan. Namun itu bukan merupakan ide Islam, bahkan jelas-jelas tidak memiliki akar di dalam Islam.

Chairunnisa juga menambahkan bahwa Islam memandang keadilan sebagai pemberian hak kepada yang berhak menerimanya, dan menempatkan sesuatu pada tempatnya.

Sedangkan Ustadzah Linda Wulandari yang memaparkan materi jebakan feminisme dan demokrasi guna eksploitasi perempuan untuk kapitalisme dan melawan Islam.

“Banyaknya solusi ala sekuler semacam RUU P-KS dan sejenisnya juga tidak melindungi perempuan, bahkan fakta Kemenkes mengungkap 93% pelajar telah terpapar pornografi, bahkan dari data KPAI, terdapat 264 kasus prostitusi dan perdagangan orang yang melibatkan anak,” tuturnya.

Linda menganggap RUU P-KS justru menjadi pintu masuk liberalisme yang merusak perempuan dan menjadi tambal sulam untuk menutupi gagalnya sistem demokrasi melindungi perempuan.

Penyelenggara kegiatan, Novia Irawati, pengurus ODOJ (One Day One Juz) Medan juga menyampaikan banyaknya kasus perempuan yang terjun pada bisnis kotor yang menjerumuskan mereka pada kekerasan.

Namun sayangnya hal tersebut dilihat sebagai permasalahan gender sehingga upaya melahirkan undang undang penghapusan kekerasan seksual pun digaungkan oleh para feminis, dengan melihat persoalan dampak, bukan akar masalah terjerumusnya perempuan dalam lingkar kemiskinan tersebut.

Kegiatan virtual tersebut dihadiri ratusan peserta muslimah dari berbagai daerah di Indonesia dan menghadirkan tokoh perpuan yang turut menyampaikan aspirasi dan gagasan terkait topik yang dibicarakan.(m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2