Kenali Gejala Infeksi Covid-19 Pada Saraf Otak

  • Bagikan
Virus corona. Ilustrasi
Virus corona. Ilustrasi

MEDAN (Waspada) : Infeksi virus corona tak hanya mempengaruhi sistem pernapasan manusia, melainkan juga pada saraf otak. Gejala yang dialami mulai ringan hingga berat.

Berdasarkan pernyataan, Prof Dr dr Aldy Safruddin Rambe SpS (K) dari Fakultas Kedokteran (FK) USU bahwa dampak infeksi virus corona terhadap saraf otak bisa dikatakan masih terbilang baru.

Setahun lebih ditemukan, di mana pada awalnya gejala yang dialami dianggap hanya berpengaruh terhadap paru-paru.

Namun, ternyata kemudian ada publikasi ilmiah menunjukkan banyak di luar organ paru-paru yang terkena juga. Artinya, bukan hanya menyerang paru-paru melainkan juga seluruh organ tubuh.

“Ada satu publikasi ilmiah yang sangat fenomenal di tahun Juni 2020, yang menyampaikan bagaimana virus corona bukan hanya menyerang paru-paru tetapi hampir seluruh organ tubuh. Covid-19 ini dapat berpengaruh terhadap susunan saraf pusat ke otak dan juga susunan saraf tepi (saraf yang menghubungkan saraf pusat ke seluruh tubuh),” ungkap Aldy, pada Selasa (16/3).

Covid-19 ini disebutkan di dalam tubuh akan menimbulkan suatu kondisi di mana darah menjadi kental, sehingga menimbulkan gangguan ke seluruh organ tubuh.

Kondisi ini yang sering menjadi penyebab kematian penderita corona berat.

“Kalau aliran darah ke otak kental maka terjadi penyumbatan. Dengan demikian, suplai darah terganggu atau berkurang dari seharusnya. Lantaran suplai darah berkurang, maka oksigen dan zat glukosa yang dialirkan ke otak juga berkurang,” terangnya.

Dikatakan Aldy, gangguan secara umum virus corona pada otak akan berdampak terhadap fungsi otak. Tapi, kalau menimbulkan gangguan pada satu pembuluh darah tertentu sehingga terjadi penyumbatan maka bisa stroke.

Selain itu, bisa berdampak atau menimbulkan gangguan pada organ lain seperti sakit pinggang dan nyeri otot. Namun, pada sistem saraf yang perlu jadi perhatian dan diawasi adalah gangguan pada otak karena dampaknya sangat besar yaitu bisa stroke.

“Gejala dini atau awal yang dialami berdasarkan publikasi ilmiah yaitu sakit kepala. Kepala terasa enteng seperti kosong, ada gangguan vertigo, gangguan keseimbangan dan paling spesifik hilang atau gangguan penciuman serta belakangan gangguan perasa,” kata Aldy.

Gejala-gejala tersebut, dia menyebutkan, harus diperhatikan walaupun tidak semua penderita corona mengalami gejala penciuman. Namun, di sisi lain banyak laporan ilmiah menyatakan penderita Covid-19 tidak sedikit mengalami gangguan penciuman.

“Virus ini bisa menimbulkan infeksi atau radang pada otak. Kemudian, bisa juga menimbulkan badai sitokin (mengalami demam dan sesak napas, hingga menjadi sulit bernapas) yang menyebabkan gangguan aliran darah ke otak,” sebutnya.

Saraf Penciuman

Lebih lanjut Aldy menyampaikan, virus corona bisa menginfeksi ke otak dari berbagai jalur.

Bisa jalur langsung melalui saraf penciuman dan bisa juga melalui peradangan yang menimbulkan reaksi berlebihan di tubuh, dan termasuk infeksi peradangan pada otak atau menimbulkan peradangan pada sistem pembuluh darah.

“Jalur masuknya Covid-19 ke tubuh manusia sudah beragam. Kalau dulu orang tahu masuknya ke paru-paru, kemudian masuk ke dalam darah dan menyebar ke seluruh tubuh termasuk ke otak,” katanya.

Selanjutnya, belakangan diketahui jalur masuknya virus corona melalui hidung, yang dikenal masuk melalui saraf penciuman.

Jadi, terhirup virusnya lalu masuk ke saraf penciuman yang ada di hidung hingga sampai ke otak. Akan tetapi, belakangan juga ada laporan lain yang menduga virus ini bisa sampai ke saraf otak dari paru-paru.

“Dampak yang paling sering ke otak yaitu tadi, stroke,” paparnya.

Aldy mengimbau, bagi pasien Covid-19 dengan gejala sedang hingga berat, jika ada muncul gejala sistem saraf, maka sebaiknya dianggap sebagai suatu kasus stroke sampai terbukti tidak.

Artinya, sampai bisa membuktikan dengan pemeriksaan tambahan bahwa pasien tersebut bukan stroke tetapi tetap ditangani sebagai pasien stroke.

“Kalau ada pasien corona yang mengalami gejala darah mengental, maka harus diberikan obat untuk mengencerkan darahnya. Dengan begitu, aliran darah tidak terlalu kental dan berfungsi mengalirkan darah dengan baik,” imbaunya.

Diutarakan Aldy, dia pernah menangani satu kasus pasien corona yang membuat kaget.

Awalnya, pasien itu negatif Covid-19 dengan gejala yang dialami ringan dan hanya satu yaitu sakit kepala. Pasien tidak mengalami demam, batuk maupun sesak napas.

Namun, ternyata setelah dilakukan pemeriksaan lebih lanjut pasien tersebut terinfeksi Covid-19.

Oleh karena itu, para tenaga kesehatan diharapkan selalu menggunakan APD lengkap saat memeriksa pasien dengan gejala ringan.

Sebab, bisa saja diawal negatif tetapi ketika dilakukan pemeriksaan lebih lanjut ternyata positif corona.

Masyarakat diminta tetap berhati-hati dan waspada dalam mencegah penularan Covid-19, karena ke sistem saraf juga bisa menyerang.

“Artinya, bukan hanya ke paru-paru tetapi ke otak juga dan menimbulkan dampak yang luar biasa. Bahkan, gejala yang dialami bisa permanen atau long Covid-19 seperti gangguan penciuman permanen,” pungkasnya.

Sementara, Prof Delfitri Munir menuturkan, gejala pasien corona pada saraf otak yang muncul mulai dari ringan hingga berat.

“Penyakit yang disebabkan Covid-19 ini bisa dibilang seribu wajah, karena bermacam-macam gejala yang dialami,” tandasnya. (cbud)

 

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *