Kearifan Lokal Dan Guru Penentu Keberhasilan Sekolah Penggerak

  • Bagikan
KADISDIKSU Prof Wan Syaifuddin (tengah) foto bersama usai menyematkan pakaian khas Melayu kepada pembicara Seminar/Webinar Transformasi Paradigma Baru Pendidikan”, Sabtu, (27/11) di Aula T Amir Hamzah Disdiksu. Waspada/ist
KADISDIKSU Prof Wan Syaifuddin (tengah) foto bersama usai menyematkan pakaian khas Melayu kepada pembicara Seminar/Webinar Transformasi Paradigma Baru Pendidikan”, Sabtu, (27/11) di Aula T Amir Hamzah Disdiksu. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Kepala Dinas Pendidikan Sumatera Utara (Kadisdiksu) Prof Wan Syaifuddin MA, Ph.D mengatakan, keberhasilan sekolah penggerak ditentukan guru dan lokalitas budaya yang merujuk pada karakter daerah dalam kearifan lokal.

“Bukan hanya kurikulum, sarana prasarana, dua pertiga keberhasilan pembelajaran karena peran guru serta tradisi/budaya dalam kearifan lokal,” kata Prof Syaifuddin selaku keynote speaker sekaligus membuka Seminar Nasional/Webinar “Transformasi Paradigma Baru Pendidikan”, Sabtu, (27/11) di Aula T Amir Hamzah Disdiksu.

Kata Kadisdiksu, sekolah penggerak dalam kebijakan Merdeka Belajar di Sumatera Utara telah menghasilkan, 7 sekolah penggerak SLB. Selanjutnya ada 31 sekolah penggerak SMA dengan bantuan yang diperoleh sebesar Rp130 juta setiap sekolah yang bersumber dari BOS Afirmasi/Kinerja.

Kemudian 47 sekolah penggerak SMK dengan kategori sekolah revitalisasi, sekolah pusat keunggulan (Centre of Excellent). Sumut merupakan provinsi ketiga terbanyak mendapat sekolah pusat keunggulan dengan menerima dan Rp 3,5 miliar sebagai sekolah vokasi yang bisa dipakai untuk fisik gedung dan alat-alat peraktek di sekolah.

Oleh karenanya, kepala sekolah penggerak harus mampu menggunakan dana untuk kemajuan sekolahnya. “Tidak ada lagi istilah tak mampu tapi harus bisa bekerja maksimal. Kedepan, kepala sekolah harus bekerja siap tekanan dari LSM dan pihak manapun,” pintanya.

Sementara itu pembicara sesi I Prof Dr Suwardi Endraswara M.Hum (dosen Universitas Negeri Yogyakarta) materi “Paradigma Baru Pendidikan Berbasis Permainan Zoobotani Sastra dan Peran Guru” menjelaskan, inti sekolah penggerak adalah belajar Pancasilais, bagaimana hidup tak boleh sombong dan saling tolong menolong serta pembentukan karakter siswa di sekolah.

Pembicara sesi II, Drs Yuli Cahyono MPd (widyaiswara Lembaga Pengembangan dan Pemberdayaan Kepala Sekolah (LPPKS) Solo dengan materi “Kepala Sekolah dan Pengawas Sekolah Dalam Pembelajaran Berdiferensiasi”, mengharapkan adanya transformasi perubahan peran guru dalam menciptakan anak didik senang dan sejahtera saat belajar di sekolah.

“Pembelajaran berdiferensiasi akan memperkuat wawasan pengetahuan dan penguatan sumber daya manusia guru. Setiap anak punya bakat/minat berbeda namun diupayakan guru dapat merespon positif setiap siswa saat mendidik di kelas,” jelasnya.

Kordinator Pengawas (Korwas) Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara Dra Rivolan Priyanti Ph, MPd didampingi Ketua Panitia Irwansyah Nur SPd, MSi menyampaikan apresiasi atas kerjasama yang baik ini dan mengucapkan terima kasih kepada Kadisdiksu, Kacabdis, Sekretaris dan Kabid yang sudah mendukung dan memotivasi kegiatan seminar/webinar ini sehingga jumlah peserta yang ikut seminar sangat banyak.

Kegiatan ini dijadwalkan 2 kali setahun atas kerja keras Kordinator Pengawas (Korwas) dan tim kerja yang menginginkan adanya peningkatan ilmu, wawasan guru, kepala sekolah dan pengawas di Sumut,” ujarnya.

Kegiatan ini akan diikuti sekira 1.300 lebih secara daring dan 250 orang peserta luring. Tampil juga pembicara sesi II Prof Dr H Abdul Munir M.Pd (dosen Universitas Negeri Medan) materi “Paradigma Baru Pendidikan Indonesia Melalui Sekolah Penggerak”. (m19)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *