Kasus TBC RO Banyak Diderita Warga Berpenghasilan Di Bawah UMK

  • Bagikan
SALAH seorang pasien TBC. Kasus TBC RO banyak diderita warga berpenghasilan di bawah UMK. Waspada/Ist
SALAH seorang pasien TBC. Kasus TBC RO banyak diderita warga berpenghasilan di bawah UMK. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Kasus tuberkulosis (TBC) di Kota Medan tahun 2020 dilaporkan 5.220 kasus dan 86 kasus diantaranya terkonfirmasi sebagai TBC RO (TBC resistan obat). Mirisnya, 36 pasien dari 86 pasien TBC RO memiliki penghasilan di bawah UMK Medan yang berdampak pada kemampuan dalam memenuhi asupan gizi.

Ketua Pejuang Sehat Bermanfaat (Pesat) Sumut Listiani Ketaren mengatakan dari data pendampingan pasien TBC RO yang dilakukan Pesat tercatat 36 pasien dari total 86 pasien TBC RO memiliki penghasilan di bawah UMK Kota Medan yang berdampak pada kemampuan dalam memenuhi asupan gizi.

“Persoalan TBC tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan, namun juga sosial ekonomi. Keterbatasan finansial menjadi salah satu permasalahan yang dihadapi, sehingga turut berdampak dalam memperburuk kondisi gizi pasien,” katanya Senin (27/9).

Melihat situasi tersebut, Pesat sebagai organisasi pendamping pasien TBC di Medan bekerjasama dengan Aksata Pangan untuk mendukung pemenuhan kebutuhan gizi pasien TBC RO melalui distribusi makanan bergizi kepada pasien. Berdasarkan juknis penatalaksanaan TBC RO di Indonesia 2020 halaman 189 diketahui bahwa salah satu indikator keberhasilan pengobatan adalah pemenuhan kebutuhan gizi.

Kolaborasi Pesat dengan Aksata Pangan sudah terjalin sejak 9 April 2021 hingga saat ini. Selama pandemi tidak sedikit pasien dampingan Pesat yang harus kehilangan pekerjaan sehingga kebutuhan asupan gizi seimbang bukan menjadi prioritas utama bagi mereka. Melalui kegiatan distribusi makanan bergizi yang merupakan kolaborasi ini, sebanyak 15 pasien TBC RO telah terbantu dalam kurun waktu 1 hingga 2 bulan terakhir.

Pesat juga menerima paket makanan dari Aksata Pangan yang kemudian didistribusikan kepada pasien TBC RO yang membutuhkan pada saat pendampingan ke rumah pasien ataupun diserahkan ke beberapa Puskesmas di Medan, tempat pasien TBC RO menjalani pengobatannya.

Pesat telah mendistribusikan sebanyak 500 paket takjil (kue basah, bubur kacang hijau dan air mineral), 71 kardus susu cair, 78 kg pisang, 21 paket sereal dan 4 kardus sereal sarapan yang telah didistribusikan langsung kepada pasien TBC RO dan pasien TBC sensitif obat melalui Puskesmas di Kota Medan.

Kolaborasi ini akan berlangsung secara berkala. Melalui kegiatan kemitraan ini, Pesat membuka kerjasama dengan instansi lain untuk mendukung keberhasilan pengobatan TBC RO di Kota Medan dalam mendukung tercapainya Eliminasi TBC di 2030. “Melalui kegiatan ini, kami berharap dapat membuat pasien semakin patuh dalam pengobatan dan memudahkan Pesat dalam melakukan pendampingan,” tutupnya.

Berkurang Selama Pandemi

Sementara, salah satu pasien TBC RO yang saat ini sedang menjalani pengobatan berinisial IS (61). Ia adalah pasien dampingan Pesat yang penghasilannya berkurang selama masa pandemi ini. IS berprofesi sebagai penarik becak, dalam kesehariannya mengayuh becak hanya memperoleh Rp20.000 perhari pada saat pandemi.

Sebelum pandemi, ia berpenghasilan hingga Rp120.000 per harinya. Dengan berkurangnya penghasilan, ia harus berusaha untuk tetap dapat memenuhi kebutuhan bagi lima anggota keluarganya, sehingga tidak jarang asupan gizi yang seharusnya menjadi hal yang penting dalam proses pengobatan IS menjadi terabaikan.

“Dengan adanya dukungan ini, saya merasa sangat terbantu terlebih dalam memenuhi kebutuhan pangan harian. Ini menjadi penyemangat juga bagi saya, bahwa masih ada pihak-pihak yang peduli,” ujar IS pasien TBC RO dampingan Pesat. (cbud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *