Waspada
Waspada » Karakteristik Muttaqin Hamba Allah Sejati
Medan

Karakteristik Muttaqin Hamba Allah Sejati

Dr H Ardiansyah, Lc, MA selaku Wakil Ketua Umum MUI SU yang juga Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN SU khatib shalat Id di Masjid Baiturrahman Komplek Pemda Tk II Medan. Waspada/ist
Dr H Ardiansyah, Lc, MA selaku Wakil Ketua Umum MUI SU yang juga Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN SU khatib shalat Id di Masjid Baiturrahman Komplek Pemda Tk II Medan. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Pelaksanaan Shalat Idul Fitri di Masjid Baiturrahman Komplek Pemda Tk II Medan, Kamis (13/5) berlangsung lancar.

Adapun bertindak sebagai khatib Shalat Id Dr H Ardiansyah, Lc, MA selaku Wakil Ketua Umum MUI Sumut, yang juga Dekan Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sumut.

Dalam khutbah berjudul Karakteristik Muttaqin Hamba Allah Sejati, dipaparkan hari Idul Fitri ini, umat Islam di seluruh penjuru dunia mengucapkan syukur ke hadirat Allah atas segala nikmat yang telah diberikan-Nya.

Khususnya nikmat bulan Ramadhan, bulan yang khusus diciptakan untuk mendidik umat Islam agar mencapai kedudukan yang tertinggi dan mulia yaitu menjadi manusia bertakwa.

Sesungguhnya ketakwaan memberikan kemampuan kepada seseorang untuk membedakan antara kebenaran dan kebatilan.

Ketakwaan membuat seseorang memiliki sinar dalam hatinya, sehingga kehidupannya senantiasa berbuah kebaikan bagi dirinya dan orang lain.

Ketakwaan juga membuat seorang hamba berani dan tegar mengarungi kehidupan ini serta tidak merasa takut. Ketakwaan juga mempersatuakan Umat Islam dalam ukhuwah persaudaraan seakidah.

Oleh sebab itu, orang yang bertakwa senantiasa dianugerahi Allah kemampuan untuk melihat dan memilih yang benar dan meninggalkan kebatilan.

“Di pagi hari yang berbahagia ini, kita berkumpul di tempat ini untuk beribadah mengesakan Allah SWT, sebagai bentuk syukur kita terhadap keberkahan yang Ia anugerahkan kepada kita, setelah sebulan berpuasa dan melaksanakan ibadah lain seperti shalat tarawih, membaca Alquran, dan mengeluarkan zakat, infaq serta sedekah,” kata Ardianysah.

Dengan satu harapan kiranya Allah SWT mengampunkan dosa-dosa kita yang telah lalu.

“Semoga dengan amal ibadah tersebut kita mampu meraih ridha Allah SWT dan kelak di akhirat memasukkan kita ke dalam surga berkat rahmat-Nya,” ungkapnya.

Karakter Takwa

Dilanjutkannya, ketakwaan juga membuat seorang hamba berani dan tegar mengarungi kehidupan ini serta tidak merasa takut.

Ketakwaan juga mempersatuakan umat Islam dalam ukhuwah persaudaraan seakidah.

Oleh sebab itu, orang yang bertakwa senantiasa dianugerahi Allah kemampuan untuk melihat dan memilih yang benar dan meninggalkan kebatilan, Allah SWT berfirman:

Artinya: Wahai orang-orang yang beriman. Jika kamu bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan furqan (kemampuan membedakan antara yang hak dan batil) kepadamu dan menghapus segala kesalahanmu dan mengampuni.

Dilanjutkannya, ketakwaan merupakan buah dari ibadah puasa yang kita laksanakan pada bulan Ramadhan yang lalu.

Madrasah Ramadhan mengembalikan hamba-hamba Allah kepada kesucian dirinya.

Untuk mengukur kadar ketakwaan pada diri kita, maka kita perlu untuk mengetahui karakter dari sosok kaum bertakwa.

Selanjutnya kita melihat ke dalam diri, apakah karakter itu ada pada diri kita. Karakter kaum yang bertakwa (muttaqin) adalah sebagaimana yang dijelaskan oleh sayyidina Ali bin Abi Thalib RA, menantu sekaligus sepupu baginda Nabi SAW.

Sayyidina Ali berkata: “Takwa adalah Takut kepada Allah, Beramal sesuai Alquran, Qanaah (merasa cukup) dengan yang sedikit, Mempersiapkan diri untuk hari berpulang (kematian)”.

Empat Karakter

Maka seorang yang bertakwa itu paling tidak memiliki empat karakter tersebut.

Karakter Pertama, takut kepada Allah SWT. Karakter kedua, beramal sesuai Alquran, dengan kata lain mengedepankan nilai-nilai Alquran dan Sunnah nabi Muhammad SAW dalam setiap aspek kehidupan.

Karakter ketiga adalah sifat Qanaah (merasa cukup) dengan yang sedikit. Sifat qanaah berarti merasa cukup dengan nikmat yang diberikan Allah SWT kepadanya dari jalan-jalan yang halal, sekalipun tidak banyak.

Walaupun dengan berbagai cara, seseorang mampu mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya. Namun hal itu tidak ia lakukan, karena ia merasa bahagia dan cukup dengan yang halal walaupun sedikit.

Sifat ini adalah sifat para Nabi dan Rasul utusan Allah SWT. Hidup mereka sederhana dan bersahaja, dengan mensyukuri apa yang ada.

Karakter keempat yang dikemukakan Ali bin Abi Thalib RA adalah, mempersiapkan diri untuk hari berpulang (kematian).

Setiap kita akan meninggalkan dunia ini menuju ke alam barzah kemudian ke alam akhirat.

Perjalanan yang akan ditempuh sangatlah jauh. Setiap orang yang menyadari bahwa kelak ia akan melakukan perjalanan jauh, maka ia akan mempersiapkan bekal yang cukup.

Tidak ada bekal yang lebih baik dari ketakwaan itu sendiri.

Sebagaimana firman-Nya: “…Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Dan bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat!” (QS. al-Baqarah [2]: 197)(m22).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2