Waspada
Waspada » Kajian Subuh Rayakan HUT Kemerdekaan RI Di Masjid Asy-Syafi’ah Medan
Medan

Kajian Subuh Rayakan HUT Kemerdekaan RI Di Masjid Asy-Syafi’ah Medan

Al Ustad Fadhli Sudiro didampingi Ketua BKM Asy Syafi'iah, Eddy Syofian bersama Sekretaris Muhammad Rais, Wakil Ketua Jonesman dan Purwanto Ketua PHBI berpoto bersama. Waspada/ist
Al Ustad Fadhli Sudiro didampingi Ketua BKM Asy Syafi'iah, Eddy Syofian bersama Sekretaris Muhammad Rais, Wakil Ketua Jonesman dan Purwanto Ketua PHBI berpoto bersama. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Dalam rangka menyemarakkan HUT Kemerdekaan RI ke 75, Ustad Fadhli Sudiro memberi kajian subuh di Masjid Asy-Syafi’ah Jl Sinumba Raya Helvetia Timur Medan, Minggu(16/8).

Hal ini disampaikan, Ketua BKM Asy Syafi’iah, Eddy Syofian bersama Sekretaris Muhammad Rais, Wakil Ketua Jonesman dan Purwanto Ketua PHBI.

Ketua BKM Asy Syafi’iah, Eddy Syofian menyebutkan, kajian spesial subuh menyambut HUT Kemerdekaan RI ke-75, pihaknya menghadirkan pentausiyah Al Ustad Fadhli Sudiro.

Dalam paparannya, Ustad Fadhli Sudiro menyampaikan bahwa

Pancasila itu harga mati. Tapi kok mau dirobah menjadi Trisila dan akhirnya Ekasila?

Sila Pertama Ketuhanan Yang Maha Esa, kok mau dirobah dengan Ketuhanan Yang Berkebudayaan ?

Ingat !! Bung Karno dan para founding father bangsa didalam sidang BPUPKI pasca Pidato Bung Karno 1 juni 1945, Piagam Jakarta 22 Juni 1945, pada saat menetapkan Pancasila dan Pembukaan dan UUD1945 tanggal 18 Agustus 1945 , telah sepakat urutan Pancasila itu.

Yaitu. 1.Ketuhanan Yang Maha Esa. 2. Kemanusian Yang Adil dan Beradab,3. Persatuan Indonesia,4. Kerakyatan Yang Dipimpin oleh Hikmah Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan,5. Keadilan Sosial bagi seluruh Rakyat Indonesia.

“Dalam Pembukaan UUD1945 di alenia ke III dinyatakan ” Berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa….Bukan berkat rahmat Tuhan Yang Berkebudayaan,mengapa ada upaya merubahnya? Ujarnya.

Maja, menyambut 75 tahun Kemerdekaan Indonesia, mari kita bersatu padu mengisi kemerdekaan ini. Jangan ada lagi yang mengagungkan dan membesarkan nama seorang tokoh.

Seolah olah dialah yang paling berjasa memerdekaan bangsa ini, hingga melupakan ratusan ribu rakyat , suhada, ulama, santri yang darahnya mengalir dibumi persada untuk kemerdekaan bangsa ini. Mereka 3,5 abad berjuang dari penjajah dan imperialisme barat.

Olok-olok

Dilanjutkanya, jangan ada lagi yang mengolok olok dan menyebut “Pekikan Allahu Akbar” bertentangan dengan semangat Nasionalisme.

Bukankah ketika kita belum memiliki Angkatan Bersenjata, KH Hasyim Ansyari ( Pendiri Nahdhatul Ulama) mengeluarakan ” Resolusi Jihad” untuk melawan penjajah yang diawali dengan ” Pekikan Allahu Akbar”?

Bukankah Serikat Dagang Islam, Nahdhatul Ulama,Muhamamdiyah, Al Washliyah, dan Ormas Islam lainnya yg lahir sebelum Kemerdekaan ini terwujud, mereka sudah berjuang untuk bangsa dan negara ?

“Mari “Kita Melawan Lupa”. Kecerdasan Beragama dan Kecerdasan Berbangsa jangan dipertentangkan. Jangan ada lagi yang mengklaim “Saya Pancasila” “Kami Pancasila” tapi ” kitalah pancasila,”sebutnya.

Dia juga mengajak agar mengisi kemerdekaan ini dengan mempersiapkan generasi bangsa yang berakhlak, inovatif dan produktif melalui pendidikan agama yang baik, meningkatkan ilmu pengetahuan dan penelitian serta mengembangkan infrastruktur dan modal sosial yang kuat dan berkelanjutan. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2