Ka. Humas Unimed Raih Doktor Di USU

Ka. Humas Unimed Raih Doktor Di USU

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Kepala Humas Universitas Negeri Medan (Unimed) Muhammad Surip (foto) meraih gelar doktor Prodi Linguistik Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Sumtera Utara (USU).

Dosen FBS Unimed ini, berhasil meraih gelar doktor usai mempertahankan disertasinya pada ujian promosi doktor Prodi Linguistik FIB USU, Jumat (6/8) di kampus USU Medan.

Surip berhasil mempertahankan disertasi dengan judul “Metafora Politik Pilpres 2019 di Media Massa Nasional” dengan bimbingan promotor Dr. Eddy Setia, M. Ed., TESP., kopromotor 1 Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., dan kopromotor 2 Dr. Gustianingsih, M. Hum, dengan dosen penguji Dr. Mulyadi, M. Hum, Prof. Amrin Saragih, MA., Ph.D, Rahmadsyah Rangkuti, M.A., Ph.D, dan Dr. Joko Kusmanto, M. Hum.

Ujian promosi doktor M. Surip yang dilaksanakan secara daring melalui aplikasi zoom ini diikuti ratusan orang yang terdiri dari keluarga, pimpinan Unimed, pimpinan FBS Unimed, Jurusan Bahasa Indonesia Unimed, teman sesama mahasiswa prodi linguistik USU, dan kolega sahabat-sahabat promovendus dosen Unimed.

Menurut Surip dalam promosi doktornya, metafora masih menjadi pilihan bagi jurnalis dalam menyampaikan informasi kepada publik melalui media massa.

Penggunaan metafora bagi jurnalis merupakan bentuk kreativitas berpikir yang menimbulkan keindahan berbahasa.

Di kalangan jurnalis, metafora sering digunakan dan ditemukan dalam berbagai berita, baik secara lisan dan tulisan, seperti teks berita dalam media massa, dialog politik di media elektronik dan komunikasi antar jurnalis.

Bentuk metafora dalam berbahasa menunjukkan ciri keekonomisan, karena dapat menjelaskan situasi, konsep, atau gagasan dengan ringkas dan lebih komprehensif dari pada ungkapan secara harfiah.

Metafora tidak hanya sebagai gejala bahasa yang bersifat estetis dan retoris, akan tetapi juga sebagai gejala umum dalam aktivitas berbahasa bagi manusia.

Metafora terpadu ke dalam bahasa dan pikiran, sebagai suatu cara untuk mengalami dunia dan digunakan untuk mengungkapkan suatu pemikiran atau konsep tertentu yang sering bersifat abstrak tentang suatu gejala atau peristiwa yang menjadi pusat perhatian melalui pemetaan lintas ranah dalam sistem konseptual.

Dalam penelitian disertasinya yang berhasil dipromosikan dalam ujian terbuka Doktor, ada tiga temuan yakni temuan teoretis.

Metafora politik menghadirkan suatu pengembangan dari konsep CMT ke arah spesifik kekhususan leksikal yang mengkonstruksi budaya ke Indonesiaan (politik sontologo, politik genderuwo, hantu/tuyul/orang mati ikut memilih, roh debat dan pemilih siluman) dan realitas ibadah beragama masyarakat (politik keikhlasan, politik kebaikan, sedekah suara, politik uang sumbangan, iman politik dan sedekah putih).

Tiga Pendekatan

Temuan spesifik yg khas data metafora politik di atas juga menjadi temuan metafora baru berdasarkan tiga pendekatan menurut Martins (2006) dan Siregar (2014).

Metafora baru yg khas ini belum ditemukan dalam konteks pilpres tahun-tahun sebelumnya, (jendral kardus, politik genderuwo, politik sontoloyo, pemilih siluman, politik keikhlasan, politik sukarela, politik kebaikan, dan sedekah putih), yang kedua temuan empiris.

Pemetaan data metafora konseptual dipakai dalam beberapa ranah. Metafora dgn leksikon Jihad, ada dalam beberapa ranah, yakni; ranah perang, agama, dan ekonomi), artinya tidak dikotomi.

Data metafora berhubungan erat dengan latarbelakang penutur.

Ditemukan berdasarkan data, orang yang aktif memakai metafora dalam berkomunikasi merupakan orang cerdas, memiliki latarbelakang pendidikan yg baik dan berpengalaman.

Selain itu pemakaian metafora dalam wacana politik lebih sopan, ramah dan indah dalam berbahasa, yang ketiga temuan metodologis.

Media massa cenderung kurang kreatif dalam mengkonstruksi berita ujaran metafora, karena datanya dominan dikutip/diambil dari pernyataan-pernyataan politisi saat debat publik di televisi, platform youtube, dan pernyataan politisi di akun medsosnya.

Doa dan Selamat

Di ahkhir ujian promosi, Rektor USU Dr. Muryanto Amin, Rektor Unimed Dr. Syamsul Gultom, Dekan FBS Unimed Dr. Abdurrahman dan Dekan FIB USU Dr. T. Thyara Zein, dan semua kolega dosen, sahabat menyampaikan doa dan selamat atas pencapaian Saudara M. Surip berhasil meraih gelar doktor tepat waktu.

Sangat jarang mahasiswa yang memiliki kesibukan dan tugas tambahan di sebuah perguruan tinggi bisa tamat tepat waktu dan meraih predikat dengan pujian/cumloude.

Selamat kepada Unimed karena bertambah dosen yang bergelar Doktor, semoga antara USU dan Unimed terus berkolaborasi untuk memajukan institusi kita menjadi kampus terbaik, maju dan berkelas dunia. Amin, tutup Dr. Muryanto Amin, saat menutup ujian promosi. (m19)

  • Bagikan