Waspada
Waspada » Jelang PTM, FSGI Survei Vaksinasi Untuk Guru
Medan

Jelang PTM, FSGI Survei Vaksinasi Untuk Guru

VAKSIN COVID-19.Jelang PTM FSGI survei vaksinasi untuk guru. Ilustrasi
VAKSIN COVID-19.Jelang PTM FSGI survei vaksinasi untuk guru. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) berkesimpulan bahwa vaksinasi untuk guru dan mengutamakan Prokes sangat diperlukan dalam pelaksanaan Pembelajaran Tatap Muka (PTM).

“Vaksin bagi guru bukan jadi dasar buka sekolah tatap muka.
Namun penyiapan infrastruktur dan, protokol kesehatan dasar utama,”kata Sekjen FSGI, Heru Purnomo, Fahriza Marta Tanjung, Wakil Sekjen, Mansur Wakil Sekjen dan Retno Listyarti, Dewan Pakar FSGI, Kamis(18/3) usai pelaksanaan webinar.

Untuk itu, kata Heru Purnomo, Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) berinisiatif melakukan survey singkat tentang “Persepsi Guru  Atas Program Vaksinasi”. Survei diikuti oleh 2.406 guru dari 23 provinsi di Indonesia.

Hasil survei meunjukkan bahwa 91,73% guru bersedia di vaksin dan 8,17% guru menolak divaksin dengan alasan khawatir efek samping  dan ragu pada kualitas vaksinnya.

Disebutkan, dari 2.406 guru yang mengikuti survey berasal dari jenjang pendidikan  PAUD/TK sampai SMA/SMK/MA dengan rincian sebagai berikut : 6,28% guru PAUD/  TK, 50,50% guru SD/ MI, 37,20% guru SMP/ MTs dan 5,99% guru SMA/ SMK/ MA.

“Adapun usia para guru  berada pada rentang rentang 20-59 tahun dengan rincian, usia 20-29 tahun sebanyak 17,62%, guru yang berusia 30-39 tahun sebanyak 22,69%, guru yang berusia 40-49 tahun sebanyak 20,57% dan dominan diikuti oleh guru SMA/ SMK/ MA sebanyak 39,11%,” ucapnya.

Vaksinasi Guru

Dilanjutkannya, pemerintah telah menetapkan guru sebagai kelompok prioritas tahap kedua pemberian vaksinasi Covid 19.

Alasan guru ditetapkan sebagai kelompok prioritas adalah karena guru termasuk kelompok petugas pelayanan publik yang memiliki interaksi dan mobilitas tinggi dalam pekerjaannya.

Meskipun siswa belum divaksin, namun pemerintah merencanakan buka sekolah tatap muka usai seluruh guru selesai di vaksin pada Juni 2021.

Kata dia, dari total responden sebanyak 2.406 guru, mayoritas sebanyak 94,85% telah mengetahui informasi mengenai vaksinasi Covid 19 bagi guru. Sementara selebihnya 4,15% tidak mengetahui informasi ini.

Selebihnya memperoleh informasi dari media online sebanyak 49,82%, media sosial sebanyak 45,71%, Televisi/ Radio sebanyak 43,34% dan media cetak sebanyak 20,16%.

Hasil survei ini sambung dia, menunjukkan bahwa mayoritas guru telah menerima informasi mengenai vaksinasi Covid 19 bagi guru.

Secara dominan pula sumber informasi yang digunakan guru merupakan sumber informasi yang dapat dipercaya yaitu pengumunan sekolah dan media online. Walaupun masih ada guru yang menerima informasi dari media sosial dengan jumlah yang cukup banyak.

Ditambahkannya, alasan guru tidak bersedia mengikuti Vaksinasi Covid 19 dikarenakan khawatir dengan efek samping dari vaksinasi Covid 19 sebanyak 63,32% dan sebanyak 41,71% ragu dengan kualitas produk vaksin. Berikutnya beralasan memiliki penyakit bawaan (comorbid) sebanyak 25,13% dan karena pemberitaan negatif tentang vaksinasi di media sosial sebanyak 22,11%.

Ada juga yang menyatakan karena masih ada kemungkinan tertular Virus Covid 19 sebanyak 12,06% dan penyebaran virus Covid 19 yang tidak mengkhawatirkan pada wilayah guru yang bersangkutan sebanyak 10,55%.

Sisanya menyatakan bahwa lebih baik ikut vaksinasi secara mandiri sebanyak 3,02% dan sebanyak 0,3% karena tidak takut terinfeksi virus Covid 19.

“Meski begitu, antusiasme guru untuk mengikuti Vaksinasi Covid 19 ternyata cukup besar dari keseluruhan responden, sebanyak 91,73% guru,” paparnya.

Rekomendasi

Untuk itu, lanjut Heru, FSGI menyampaikan 3 Rekomendasi.

Pertama, mendorong Kemdikbud, Dinas-dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan di daerah untuk melakukan sosialisasi lebih massif Khususnya untuk guru jenjang SMA/SMK dan yang berusia dibawah 50 tahun agar mendukung program vaksinasi covid-19;

Kedua, FSGI mendorong Materi Sosialisasi ditekankan pada  Kualitas vaksin dan efek sampingnya serta jaminan Keberhasilan vaksin, karena guru-guru yang menolak vaksi meragukan kualitas vaksin dan mafaat bagi dirinya.

Ketiga, FSGI mendorong Pemerintah pusat dan daerah  membuat program yang terencana dan prioritas kepada Guru dan terinformasikan dengan baik ke seluruh guru negeri maupun swasta di seluruh wilayah Indonesia.

Keempat, FSGI mendorong pemerintah pusat dan daerah tidak menjadikan program vaksinasi  dasar untuk membuka sekolah, sebelum memastikan tersedianya prokes di sekolah, dan adanya jaminan bahwa ada SOP Protokol Kesehatan dapat dijalankan oleh semua warga sekolah.(m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2