banner 325x300

Jejak Melayu Barus Potensi Sangat Berharga Di Sumut

  • Bagikan
KEPALA Balai Bahasa Sumatera Utara, Dr Maryanto bersama kepala sekolah yang mendapatkan Prasasti Pencanangan Sekolah Percontohan Mengutamakan Bahasa Negara di Ruang Publik, yakni Kepala SMPN 38 Medan. Kepala SMPN 9 Medan,Kepala SMPN 42,Kepala SMPN 25. Waspada/Anum Saskia
KEPALA Balai Bahasa Sumatera Utara, Dr Maryanto bersama kepala sekolah yang mendapatkan Prasasti Pencanangan Sekolah Percontohan Mengutamakan Bahasa Negara di Ruang Publik, yakni Kepala SMPN 38 Medan. Kepala SMPN 9 Medan,Kepala SMPN 42,Kepala SMPN 25. Waspada/Anum Saskia

MEDAN (Waspada): Melayu Barus merupakan aset yang tidak ternilai harganya, maka sangat perlu dimasyarakatkan dan diteliti jejak Kota Barus(ada di Tapanuli Tengah). Barus termasuk di antara kota-kota tua terkenal di seluruh Asia, setidaknya pada abad ke-6 Masehi. Menjadi kawasan terkenal di dunia.

Kini Barus potensinya perlu dipopulerkan terutama asset sejarah. Bahkan Presiden RI,Joko Widodo telah meresmikan Barus sebagai Titik Nol Peradaban Islam Nusantara pada 2017 silam.

Hal itu terungkap dalam kegiatan Gelar wicara (daring) nasional bahasa dan kemandirian bangsa bersama Presiden RI, menjalin Indonesia dari Propinsi Sumatera Utara melalui titik nol barus.

Kegiatan berlangsung,Selasa(27/10) di Hotel Polonia, digelar Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemenaterian Pendidikan dan Kebudayaan.

Hadir, Gubsu Edy Rahmayadi diwakili,Sekda Provsu,Hj.R.Sabrina,Kepala Balai Bahasa Sumatera Utara, Dr Maryanto, pembicara.

Di antaranya, Prof Abdul Hadi, W M,PhD (Pakar Sastra),Prof Amrin Saragih MA, selaku Ketua Forum Silaturahmi Guru Besar Sumatera Utara. Syech Ali Akbar Marbun. Tokoh Nasional Putra Barus, Dr Akbar Tanjung,Syamsul Arifin selaku Ketua Mabmi.

Dalam arahnya Gubsu Edy Rahmayadi disampaikan Sekda Hj.R.Sabrina, menyahuti keberadaan Barus sebagai pencetus lahirnya Sumpah Pemuda.

Momentum

Disebutkan, Momentum renungan sumpah pemuda 1928 ini mengingatkan bahwa proses melahirkan Bahasa Persatuan Indonesia dari induk Melayu juga melibatkan secara langsung tokoh pemuda dari Tapanuli, Sumatera Utara, yakni Sanusi Pane.

Beliau merupakan salah satu pengkaji untuk Naskah Pidato Kongres Pemuda Indonesia Pertama pada tanggal 2 Mei 1926.

“Pemerintah Provinsi Sumatera Utara sangat mendukung usulan pengangkatan Sanusi Pane sebagai Pahlawan Nasional.

Tokoh pemuda Sumut inilah yang memang orang pertama bertindak sebagai penggerak pelahiran atau penerbitan bahasa Indonesia sebelum gagasan bahasa persatuan itu dibawa oleh Muhammad Yamin dari pertemuan Kongres Pemuda pertama tersebut ke Kongres Pemuda Indonesia kedua 1928 dengan hasil akhir berupa tiga butir ikrar: Satu Tanah Air, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa Persatuan.

Sebagai penggerak pertama kelahiran Bahasa Indonesia, Sanusi Pane juga menggerakkan pendirian Lembaga Kebahasaan “Institut Bahasa Indonesia” pada kongres Bahasa Indonesia pertama pada tahun 1938 di Solo.

Populerkan Barus

Para pembicara, Syech Ali Akbar Marbun. Tokoh Nasional Putra Barus,Dr.Akbar Tanjung, juga sepakat untuk mempopulerkan Barus sebagai kota peradaban melayu dan Islam. Bahkan sangat perlu mendirikan Museum Nasional Barus sebagai pusat peradaban nusantara.

Mendirikan Lembaga Pendidikan Tinggi KeIslaman, agar kajian pengetahuan keagamaan yang terus berkembang dan menjadikan Barus sebagai Kabupaten Kota karena sangat cocok dari sisi geografis dan potensi yang dimiliki.

Demikian pula pemaparan Prof Amrin Saragih,MA, selaku Ketua Forum Silaturahmi Guru Besar Sumatera Utara.
Kata dia, peran BARUS pada Titik Nol.

Yakni,sebagai pusat perdagangan (sebelum kedatangan Islam atau sebelum abad Masehi para saudagar dari Mesir, Persia, jazirah Arab, India, Cina, Armenia, Yunani dll datang ke Barus.

Mereka datang untuk membeli kapur barus dan komoditas Iain, seperti kemenyan, minyak nilam, gambir, gaharu, jahe, kayu manis, merica, gading, cula, emas; jenazah raja-raja Firaun Mesir dibalsem dengan kampur barus).

Sebagai pusat (penyebaran) agama Islam (Islam masuk ke Barus pada tarikh 48 H dan dari Barus dakwah Islam menyebar ke wilayah Sumatra dan Nusantara.

Sebagai pusat budaya/bahasa Melayu (Islam disebarluaskan atau didakwahkan dalam bahasa Melayu ke wilayah nusantara; menjadi lslam-menjadi Melayu)

“Sedangkan tiga cakupan Melayu ada Ras/Etnik (antropologi: Kaukasus, Mongolid, Ethiopia, Indian dan Melayu).Ada agama/kepercayaan/budaya/adat/resam.

Dan Bahasa (pada awalnya sebagai lingua franca di wilayah nusantara sebelum diindonesiakan menjadi bahasa Indonesia. Turut memberi sambutan,Kapusbin mewakili Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI.

Kegiatan sekaligus pemberian piagam penghargaan Wajah Bahasa Sekolah SMP Negeri (SMPN 38 Medan , SMPN 25 Medan, SMPN 42 Medan, SMPN 9 Medan, SMPN 10 Tebing Tinggi, SMPN 2 Pandan dan MTs N 1 Langkat.
Berlangsung pula penandatanganan prasasti Pencanangan BUMN Percontohan Pengutamaan Bahasa Negara oleh PT Inalum dan Balai Bahasa. (m22)

  • Bagikan