Jalan Aloha Dipasang Portal, Anggota Dewan Nilai PT KAI Arogan

Jalan Aloha Dipasang Portal, Anggota Dewan Nilai PT KAI Arogan

  • Bagikan
JALAN Aloha Lingkungan II, Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan yang dipasang portal oleh PT KAI, sehingga kawasan tersebut seperti terisolir dan geliat ekonomi jadi mati. Waspada/Andi Aria Tirtayasa
JALAN Aloha Lingkungan II, Kelurahan Martubung, Kecamatan Medan Labuhan yang dipasang portal oleh PT KAI, sehingga kawasan tersebut seperti terisolir dan geliat ekonomi jadi mati. Waspada/Andi Aria Tirtayasa

MEDAN (Waspada): SUDAH beberapa bulan belakangan ini, sejumlah warga yang bermukim di Jl. Aloha Lingkungan II Kelurahan Martubung Kecamatan Medan Labuhan seperti terisolir sejak pihak PT Kereta Api Indonesia memasang portal.

Akses keluar masuk ke jalan tersebut, kini hanya bisa dilalui kendaraan roda dua saja, kendaraan roda empat tak bisa melintas lagi.

Pasca pemasangan portal tersebut, pengusaha bengkel mobil bangkrut karena mobil tidak bisa lagi melintasi jalan tersebut, vihara sepi dari pengunjung dan gudang-gudang penyimpanan truk terpaksa tutup.

Seorang warga Aulia ,40, menuturkan Jl. Aloha merupakan jalan umum jadi PT KAI tidak bisa sesuka hatinya memasang portal permanen. “Seharusnya PT KAI memasang portal buka tutup sehingga kendaraan bermotor roda dua dan roda empat bisa melintasi kawasan tersebut,” jelas Aulia, Sabtu (24/5).

Menurut Aulia, alasan PT KAI memasang portal karena sering terjadi kecelakaan lalulintas tidak bisa diterima begitu saja, seharusnya PT KAI memasang portal atau plang yang bisa buka tutup saat kereta api hendak melintas.

Selain itu, tambah Aulia, bagi warga yang hendak mengantarkan jenazah ke lokasi pekuburan muslim terpaksa menghentikan laju mobil ambulansnya karena terhalang portal dan terpaksa membawa jenazah dengan menggunakan tandu berjalan kaki menuju lokasi pekuburan.

Sementara itu, pemilik bengkel mobil terpaksa menutup usaha dan memberhentikan sejumlah pekerjanya karena tidak ada lagi pemilik mobil yang datang ke bengkelnya karena tidak ada akses keluar masuk pasca pemasangan portal tersebut.

“Pemasangan portal ini sama artinya menutup usaha bengkel saya,” sebut Herlian.

Karena tidak ada respon dari pihak PT KAI terhadap keluhan warga, akhirnya sejumlah warga mengadukan masalah ini ke DPRD Kota Medan.

Segera Dibuka

Berdasarkan pengaduan warga tersebut, Komisi I DPRD telah melakukan rapat dengar pendapat yang dihadiri pihak PT KAI dan Dinas Perhubungan Medan.

Hasilnya, Komisi I DPRD Medan merekomendasikan agar portal tersebut segera dibuka demi kepentingan umum namun sampai sekarang portal tersebut belum dibuka juga.

Anggota Komisi I DPRD Medan Mulia Asli Rambe menyebutkan, pihak PT KAI terkesan arogan dan tidak mau memperdulikan kondisi warga yang bermukim di kawasan tersebut, apalagi di masa pandemi Covid-19.

“Sikap arogansi dari PT KAI membuat geliat perekonomian di Lingkungan II jadi terganggu. Usaha bengkel mobil dan gudang jadi tutup karena mobil tidak bisa keluar masuk akibat pemesangan portal tersebut. Bahkan vihara tak berfungsi lagi,” ujar Mulia Asri Rambe yang akrab dipanggil Bayek ini.

Politisi dari Partai Golkar ini juga menyebutkan, pemasangan portal tersebut sejatinya sesuai Peraturan Daerah (Perda), pemasangan portal di atas tanah negara merupakan wewenang Dinas Perhubungan, apalagi portal yang dipasang oleh PT KAI berada di atas tanah negara dan bukan di lahan PT KAI.

“Kalau portal tersebut dipasang di atas lahan milik PT KAI sampai sekarang PT KAI belum bisa memperlihatkan alas hak kepemilikan lahan tersebut. Sudah dua kali PT KAI berjanji akan memperlihatkan alas hak tersebut namun sampai sekarang tidak ada realisasinya,” sebut Bayek.

Bayek mengingatkan agar PT KAI tidak bersikap arogan kepada masyarakat, apalagi di saat pandemi Covid-19 seharusnya membantu perekonomian rakyat kecil dan bukan sebaliknya mematikan usaha ekonomi rakyat.(m27)

  • Bagikan