Waspada
Waspada » Ibu Penjual Anak Kandung Divonis 4 Tahun Penjara
Medan

Ibu Penjual Anak Kandung Divonis 4 Tahun Penjara

MAJELIS hakim saat membacakan putusan terdakwa HSN yang digelar virtual di PN Medan, Rabu (21/7). Ibu penjual anak kandung divonis 4 tahun penjara. Waspada/Rama Andriawan
MAJELIS hakim saat membacakan putusan terdakwa HSN yang digelar virtual di PN Medan, Rabu (21/7). Ibu penjual anak kandung divonis 4 tahun penjara. Waspada/Rama Andriawan

MEDAN (Waspada): Majelis hakim diketuai Denny Lumbantobing menjatuhkan hukuman 4 tahun penjara terdakwa HSN. Warga Kec. Medan Tembung ini terbukti bersalah karena menjual anak kandungnya CN, 19, untuk dijadikan pelayan seks.

“Menjatuhkan pidana oleh karena itu dengan pidana penjara selama 4 tahun, denda Rp120 juta subsider 3 bulan kurungan,” kata hakim ketua Denny Lumbantobing dalam sidang virtual di Ruang Cakra 9 Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (21/7).

Majelis hakim menilai, HSN terbukti bersalah melakukan tindak pidana perdagangan orang, yakni terhadap anak kandungnya. “Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 2 ayat (1) UU RI Nomor 21 Tahun 2007 Tentang Pemberantasan Tindak Pidana Orang,” ucap hakim.

Hakim dalam amar putusannya mengatakan, adapun hal yang memberatkan karena perbuatan itu dilalukan terdakwa pada anak kandungnya sendiri. “Sementara yang meringankan terdakwa mengakui perbuatannya, dan belum pernah dihukum,” ujar hakim.

Menanggapi putusan itu, terdakwa HSN mengaku menerimanya. Vonis yang dijatuhkan hakim sama dengan tuntutan jaksa penuntut umum Chandra Naibaho.

Pelayan Seks

Pada sidang sebelumnya, saat memberikan keterangan di persidangan, korban CN, tak kuasa menahan tangis, saat menceritakan awal mula ibunya menjual dirinya ke laki-laki untuk dijadikan pelayan seks.

Korban terlihat ketakutan saat awal mula memberikan kesaksian. Menurut korban, ia terpaksa menuruti kemauan ibunya karena takut dianggap anak durhaka.

Atas bujukan ibunya, korban menurut saja. Kemudian oleh ibunya dipertemukanlah dengan laki-laki yang akan ‘membeli’ korban untuk melayani jasa seks. “Kami dipertemukan dekat ruko di Jl. Pancing, laki-lakinya dua orang. Kemudian dibawa ke hotel,” kata korban saat di persidangan.

Masih menurut korban, uang dari hasil melayani laki-laki, lalu diambil ibunya dengan alasan untuk biaya makan. Korban mengaku sebenarnya tak mau melakukan pekerjaan itu. Namun ia takut dengan ibunya. Ia tak mau melawan karena takut berdosa melawan orangtua.

Sementara, mengutip dakwaan jaksa penuntut umum (JPU) Chandra Naibaho, kasus ini bermula pada Januari 2021 lalu. Terdakwa HSN didatangi oleh lelaki hidung belang yang mencari jasa pelayanan seks.

Kemudian terdakwa mengarahkan korban yang merupakan anak kandung terdakwa untuk melayani nafsu lelaki tersebut di mana terdakwa memperkerjakan korban sebagai pekerja seks sudah berjalan selama 7 tahun.

Kemudian terdakwa dan lelaki tersebut sepakat tarif jasa pelayanan seks yang dilakukan oleh korban sebesar Rp350.000, kemudian terdakwa dan korban bersama lelaki tersebut pergi menuju Hotel Red Doorz Jl. Dahlia Kel. Indra Kasih Kec. Medan Tembung, Medan.

Setelah masuk ke dalam salah satu kamar hotel lalu lelaki tersebut menyerahkan uang sebesar Rp350.000 sebagai upah pelayanan jasa seks kepada korban yang diterima oleh terdakwa.

Kemudian terdakwa ke luar dari kamar hotel dan menunggu korban yang sedang melayani lelali di lobi hotel. Namun, pada saat terdakwa sedang menunggu, datang petugas kepolisian Polrestabes Medan melakukan penangkapan terhadap terdakwa.

Kemudian petugas kepolisian Polrestabes Medan menemukan serta menyita barang bukti uang sebesar Rp350.000 dari terdakwa yang diakui oleh terdakwa adalah uang yang diterima terdakwa dari lelaki hidung belang sebagai pembayaran tarif jasa pelayanan seks. (m32).

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2