IAKMI : Ini Masalah Serius, 800 Pelajar Di Sumut Menikah Di Masa Pandemi

IAKMI : Ini Masalah Serius, 800 Pelajar Di Sumut Menikah Di Masa Pandemi

  • Bagikan
AHLI Kesehatan Masyarakat, Destanul Aulia, SKM, MBA, M.Ec, Ph.D. Dia menyebutkan, 800 pelajar di Sumut yang menikah dan bekerja di masa pandemi sebagai masalah serius. Waspada/Ist
AHLI Kesehatan Masyarakat, Destanul Aulia, SKM, MBA, M.Ec, Ph.D. Dia menyebutkan, 800 pelajar di Sumut yang menikah dan bekerja di masa pandemi sebagai masalah serius. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Dikabarkan sebanyak 800 Pelajar di Sumatera Utara (Sumut) memilih tidak mau pembelajaran tatap muka (PTM). Ini dikarenakan banyak yang sudah bekerja dan bahkan menikah.

Berdasarkan jumlah yang dilansir dan diakui oleh Dinas Pendidikan Sumut menyatakan ada sekitar 800 pelajar yang tidak menghadiri pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah.

Bahkan Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumatera Utara, Syaifuddin mengatakan adapun faktor yang membuat siswa tak hadir dalam PTM, yakni malas karena terlalu lama belajar di rumah, sudah bekerja dan paling banyak sudah menikah.

Jelas ini merupakan persolan baru bagi dunia pendidikan di Sumut. Tanggung jawab siapa? Dampak buruk apa yang akan terjadi pada anak menikah dini terutama dari segi kesehatannya?

Menjawab ini Ahli Kesehatan Masyarakat, Destanul Aulia, SKM, MBA, M.Ec, Ph.D (foto) mengatakan di Medan, Minggu (3/10), banyaknya pelajar memilih menikah dan bekerja tegasnya ini merupakan masalah serius.

Semua pihak harus sama-sama bergandengan tangan untuk menyelesaikan persoalan ini. Bukan hanya dinas pendidikan tapi semua sektor. Ini merupakan tanggung jawab bersama.

Dikatakannya, banyaknya pelajar menikah dini merupakan akumulasi dari banyak faktor, di antaranya faktor internal, seperti pendidikan anak itu sendiri, tingkat pemahaman agama, tingkat kematangan emosional dan faktor eksternal, yaitu tingkat pendidikan ayah dan ibu, sosial ekonomi keluarga, nilai budaya.

NIlai budaya sepertinya mendominasi seperti pandangan terhadap anak perempuan yang sering dianggap sebagai aset keluarga dan mempunyai nilai kehormatan yang tinggi dan juga sering dianggap hanya mempunyai tujuan untuk menikah dan mempunyai anak.

Selain nilai budaya juga akses teknologi informasi yang terbatas di kalangan remaja, sehingga informasi yang diterima tidak secara utuh diterima.

Ini menyebabkan peluang untuk mendapatkan pengetahuan ataupun informasi lainnya menjadi hambatan utama.

Sehingga hanya terbatas saja mendiskusikannya di kalangan mereka, sehingga mendorong menikah dini untuk remaja di pedesaaan. Sedangkan diperkotaan sebaliknya akses informasi yang terbuka lebar dan akses kasih sayang keluarga yang terbatas menyebabkan pergaulan yang bebas dan mendorong untuk menikah dini.

Tidak Baik

Destanul Aulia, yang juga Dosen di Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Sumatera Utara (FKM USU) ini, juga membeberkan bahwa menikah dini sangat tidak baik bagi kesehatan remaja.

Begitu juga masa depan bangsa yang sangat bergantung dengan perjalanan kehidupan manusia mulai dari bayi, balita, remaja, dewasa dan lansia.

“Remaja yang menikah dini belum memiliki fungsi organ yang kuat seperti organ intim dan sistem reproduksi, belum memiliki kesiapan dari segi emosional dan juga belum siap dari sisi sosial dan budaya, ” jelasnya.

Ketidaksiapan ini mempengaruhi peta perjalanan kehidupan manusia. Akan lahir bayi yang cenderung prematur dan stunting, balita yang sering sakit-sakitan, dewasa yang sering terserang penyakit menular dan lansia cenderung mempunyai metabolisme yang kurang baik.

Sehingga rentan terhadap penyakit tidak menular, seperti diabetes melitus (DM), jantung dan stroke.

“Untuk itulah, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) mempunyai aturan untuk usia pernikahan yaitu 21 tahun untuk perempun dan 25 tahun untuk laki-laki,” jelasnya.

Lebih lanjut Destanul Aulia mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan terjadinya pernikahan dini, sehingga menyelesaikan permasalahan ini bukan hanya tanggung jawab sektor kesehatan saja, melainkan juga tanggung jawab BKKBN.

“BKKBN itukan tugasnya bagaimana membangun keluarga sejahtera, jadi semua itu dimulai dari keluarga itu. Bahkan pernikahan dini itu merupakan program yang unggul di badan tersebut,” urainya.

“Untuk mencegah ini, semua sektor harus berperan aktif dalam mencegah pernikahan dini ini. Kementrian agama dan ulama misalnya bisa memberikan penyuluhan dari sisi agama,” katanya.

Kemudian dari sisi pendidikan itu sangat penting karena kesehatan remaja itu masuk dalam salah satu tujuan di sektor pendidikan.

“Setiap remaja harus diberikan edukasi seks remaja sehingga remaja itu mau terbuka dan transparan kepada keluarga nya, kawan dan guru. Kalau ini bisa dikomunikasikan tentu ini akan menghambat terjadi pernikahan dini,” ujarnya lagi.

Dia juga menegaskan yang juga bertanggung jawab adalah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Anak ini menjadi tanggung jawab yang besar. “Mereka harus memiliki program yang sifatnya penguatan fungsi keluarga di hulu,” sebutnya.,

Menikah dan bekerja di usia sekolah ini menganggu masa depan bangsa. Kalau terganggu bisa membuat produktivitas menurun akibatnya tidak bisa bersaing dengan negara yang lain.

“Parahnya, negara kita nanti sibuk mengurusi orang sakit saja, untuk itu ini harus menjadi perhatian besar bagi negara ini. IAKMI meminta Pemprovsu memberikan perhatian yang besar untuk program promotif dan preventif,” tandasnya. (cbud)

  • Bagikan