Waspada
Waspada » Habaib Dan Perebutan Wacana Islam Topik Muzakarah MUI Sumut
Medan

Habaib Dan Perebutan Wacana Islam Topik Muzakarah MUI Sumut

PEMBICARA dalam kegiatan Muzakarah bulanan di MUI Sumut saat memaparkan makalahnya. Habaib dan perebutan wacana Islam topik muzakarah bulanan MUI Sumut. Waspada/ist
PEMBICARA dalam kegiatan Muzakarah bulanan di MUI Sumut saat memaparkan makalahnya. Habaib dan perebutan wacana Islam topik muzakarah bulanan MUI Sumut. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Sebutan Habaib, dan perebutan wacana Islam Indonesia menjadi topik Muzakarah bulanan MUI Sumut, Minggu (29/11).

Tampil sebagai pembicara Dr Imam Yazid, MA dan Dr Azhari Akmal Tarigan.

Ketua MUI Sumut, Prof Abdullah Syah MA menyebutkan muzakarah seperti ini sangat penting dilaksanakan, guna membahas hal-hal yang berkembang di masyarakat serta memberi solusi jika ada yang menjadi masalah.

Habaib dan perebutan wacana islam topik muzakarah ilmiah bulanan MUI Sumut yang diikuti seratusan pengunjung, dengan tetap menerapkan Protokol Kesehatan (Prokes).

Hadir Wakil Ketua Umum DP-MUI-SU, Dr H Arso, Ketua Komisi Fatwa, Drs H Ahmad Sanusi Lukman Lc, MA, tokoh agama dan undangan lainnya.

Sedangkan, pembicara Dr Imam Yazid, MA yang mengupas materi terkait Habaib, memaparkan bahwa Habaib berasal dari Bahasa Arab yang telah diserap ke dalam Bahasa Indonesia.

Habaib, dalam KBBI, diartikan sebagai para habib. Adapun arti habib, dalam KBBI, memiliki beberapa arti (yang dicintai; kekasih). Panggilan kepada orang Arab yang berarti tuan. Panggilaan kepada orang yang bergelar sayid.

“Sebagian masyarakat muslim dipastikan belum mengetahui tentang habaib.Khususnya di Sumatera Utara yang mayoritas habaibnya tidak menjadi juru dakwah. Padahal habaib diketahui cukup banyak di wilayah ini. Namun karena sebagian besarnya berprofesi pedagang, maka identitas mereka tidak sepopuler para habib di pulau Jawa,”ujarnya.

Disebutkan, Habaib yang datang ke nusantara, kebanyakannya, adalah para habib yang berasal dari Hadhramaut-Yaman. Mereka datang ke nusantara dari berbagai keluarga.

Klan yang terkenal dari mereka ialah keluarga as-Segaf, al-Kaff, al-Athas, Bin Syekh Abubakar, al Habsyi, Bafaqih, al-Aydrus, al-Haddad, Bin Smith, Jamalullail, Assiry, al-Aidid, al-Jufri, Bin Syahab, al-Qadri, Albar, al-Mussawa, Gathmir, Bin Aqil, al-Hadi, al-Zahir, Basyaiban, Ba’abud, Bin Yahya dan lain-lain.

“Harus diakui banyak jasa mereka dalam penyebaran Islam di seluruh Nusantara.Adapun Sembilan wali yang terkenal dengan istilah walisongo pun adalah keturunan dari zurriyat Rasulullah SAW,”katanya.

Hal lain disampaikannya, Panggilan habib/habaib, sayid, syarif, ‘alawiyin adalah salah satu panggilan terhadap keturunan Nabi Muhammad SAW, dari jalur Fatimah az-Zahra’ dan Ali bin Abi Thalib.

Secara historis, mereka telah berperan aktif menyebarluaskan Islam ke berbagai belahan dunia. Dakwah mereka mudah diterima oleh masyarakat karena kekhasan mereka dalam berdakwah.

Keberadaan mereka di Indonesia telah ada sejak masa kerajaan-kerajaan sebelum Indonesia merdeka.
Mereka bahkan ikut serta dalam upaya kemerdekaan dan mempertahankan kemerdekaan. Sebagian besar dari para habaib merupakan ulama dan juru dakwah.

Karena kedudukannya tersebut, penghormatan kepada mereka sebagaimana layaknya yang pantas didapatkan.

Keistimewaan yang spesial adalah mengalirnya darah manusia yang paling dicintai Allah SWT di alam semesta ini, yakni Rasulullah SAW. Sehingga penghormatan kepada mereka, khususnya di kalangan ulamanya, lebih menonjol dibandingkan yang lainnya.

Kemuliaan mereka sebagaimana yang telah dijelaskan bukan berarti para habaib itu ma’shum. Mereka tetap seperti manusia biasa yang bisa salah dan khilaf. Bila ada zurriyat Rasulullah SAW yang berbuat salah, maka kita diajarkan untuk menjaga adab dari menghina dan memakinya.

Sebagaimana pada umumnya dilarang menghina dan memaki orang lain, maka kepada mereka dikhususkan menjaganya karena dikhawatirkan akan menyakiti perasaan Rasulullah SAW.

“Jika kita telah mengenalnya (para habib) maka kita mampu bersikap sesuai petunjuk yang datang dari Alquran dan Sunah. Wallahu a’lam bi al-shawab,”katanya.

Islam Bukan Hanya Konsep

Pembicara, Dr Azhari Akmal dalam makalahnya yang berjudul, ‘Islam dan Negara pasca reformasi : Perebutan Wacana Islam Indonesia, mengungkapkan pesan yang disampaikan salah seorang intelektual Muslim, Dr Kuntowijoyo yang menegaskan Islam sebagai agama amal, sehingga tidak berhenti pada konsep atau teori an sich.

Untuk itu, ungkapnya diharapkan umat dapat lebih memaksimalkan serta mendukung proses pengumpulan dan memanjemen potensi zakat, infak dan sedekah secara profesional untuk meningkatkan kesejahteraan umat secara langsung, mengingat potensi yang ada bisa mencapai triliunan rupiah setiap tahunnya.

“Umat tidak lagi terjebak hanya untuk saling adu argumentasi dalam membuat kalkulasi besarnya potensi zakat tersebut,” ungkap Tarigan. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2