Waspada
Waspada » FK Puspa Bersama PKPA Akan Konsisten Bela Hak Anak
Medan

FK Puspa Bersama PKPA Akan Konsisten Bela Hak Anak

PERLINDUNGAN Anak. FK Puspa bersama PKPA akan konsisten bela hak anak. Ilustrasi
PERLINDUNGAN Anak. FK Puspa bersama PKPA akan konsisten bela hak anak. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Forum Komunikasi Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (FK Puspa) Kota Medan bersama Pusat Kajian Perlindungan Anak (PKPA) akan konsisten bela hak anak.

FK Puspa diketuai Muhammad Jailani, MA bersama PKPA Sumut dengan Direktur, Keumala Dewi dan jajarannya akan konsisten bela hak anak di Kota Medan maupun Sumut.

Hal itu mengemuka, Kamis (10/9) sekaitan kondisi anak-anak di Kota Medan di jalanan, termasuk fenomena manusia silver (bahkan ada yang tewas), anak mengemis yang semakin merebak di tengah kota, khususnya di masa pandemi Covid-19.

“Tentu keberadaan mereka di jalan sangatlah berisiko. Risiko dari eksploitasi, kekerasan, pelecehan, kecelakaan, kesehatan dan lainnya,” kata Jailani.

Dia mencontohkan, fenomena bocah silver di Kota Medan, yang juga wajah perlindungan anak, akhir-akhir ini semakin merebak, khususnya di masa pandemi Covid-19.

Hampir di setiap sudut persimpangan jalan, mereka beraksi dengan cat silver-nya sambil membawa kotak berharap diberikan sejumlah uang dari pengendara di jalan.

Tentu keberadaan mereka di jalan sangatlah berisiko. Risiko dari eksploitasi, kekerasan, pelecehan, kecelakaan, kesehatan dan lainnya.

Merebaknya modus anak-anak silver ini dapat dilihat dari dua faktor disebut dengan faktor penekan (push factor) dan faktor penarik (pull factor).

Faktor penekan utama selalu disebutkan karena masalah ekonomi, yang menjadikan seseorang mau melakukan pekerjaan apapun agar dapat bertahan hidup atau memenuhi kebutuhannya.

Konteks kebutuhan ini berkembang dinamis bukan saja lagi kebutuhan sandang pangan, namun bergerak pada aktualisasi, dan komunikasi pada ruang publik lebih luas seperti bermain, internet dan gadget.

Maka ketika ruang bermain tidak ada lagi di sekitar rumah anak, maka jalan menjadi ruang bermain alternatif bagi mereka.

Sementara faktor pendorong yang menyebabkan anak menjadi manusia silver adalah pertama ada peluang strategi baru di mendapatkan rupiah lebih di jalan.

Jika pada awal 90 an sampai awal tahun 2000-an, hanya bisa meminta minta dengan “mutung”, mengamen, berjualan asongan dan koran, maka mengimitasi strategi berada “di jalan” di Eropa turun ke Jakarta.

Itu, dilakukan dengan menjadi bocah silver dan juga menjadi badut.

Miris

Profesi ini dianggap menarik dan lucu bagi sebagian pengendara yang melintas di jalan, sehingga memudahkan mereka untuk memperoleh uang dari lakon tersebut.

“Kasus Jonathan (10) “bocah silver” yang tewas tertabrak truk pada malam hari, 31 Agustus di simpang Jl Amal sekitar pukul 23.00 WIB, tentu membuat kita miris, sebab diketahui kegiatanya itu untuk mendapatkan uang, ungkapnya.

Hal senada disampaikan Direktur PKPA, Keumala Dewi, bahwa pemerintah dalam hal ini Pemko Medan harus ikut andil dalam mencegah munculnya bocah silver di Kota Medan.

Memang, sebelumnya pada medio Juni 2020 dilakukan razia pada manusia silver bersama gelandangan dan pengemis di kota Medan yang sama sekali tidak mencerminkan tindakan yang berbasis hak anak.

“Juga hak azasi manusia. Kejadian kematian Jonathan juga menyiratkan adanya satu persoalan dalam penanganan perlindungan anak di Kota Medan yang harus dibenahi secara komprehensif dan menggunakan pendekatan berbasis hak anak,” kata Keumala Dewi.

Setelah ini, sambung Keumala Dewi akan digelar diskusi bersama untuk membahas masalah anak dan menjabarkan pada instansi terkait, agar bisa diselesaikan bersama, guna menjembatani anak-anak di Kota Medan sebagai penerus bangsa. (m22)

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2