Waspada
Waspada » FGSI Catat Perlindungan Untuk Guru Masa Pandemi-19 Lemah
Medan

FGSI Catat Perlindungan Untuk Guru Masa Pandemi-19 Lemah

Logo FSGI. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat, selama masa pandemi Covid-19, perlindungan terhadap guru sangat lemah. Ilustrasi
Logo FSGI. Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat, selama masa pandemi Covid-19, perlindungan terhadap guru sangat lemah. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) mencatat, selama masa pandemi Covid-19, perlindungan terhadap guru sangat lemah.

Tercatat di Indonesia 42 orang guru wafat terpapar Covid-19 dan dua orang Tata Usaha, kemudian ada 200 guru yang positif. Sedangkan secara khusus di Sumut belum terangkum data yang pasti.

Hal ini disampaikan, Wakil Sekjen FGSI, Fahriza Marta Tanjung, Senin(24/8).

“Karenanya, Sekjen FSGI Heru Purnomo menyampaikan rasa duka cita mendalam dan sangat prihatin atas lemahnya perlindungan untuk guru,”kata Fahriza.

Disampaikannya, ada 35 guru di Surabaya yang wafat akibat Covid-19, hal ini merupakan sebuah tragedi kemanusiaan yang telah mengorbankan guru sebagai garda terdepan di sekolah.

Pendidik yang akan memberikan bekal bagi terciptanya generasi emas pada tahun 2045 nanti.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perlindungan terhadap guru sangat lemah di masa pandemi ini.

Walaupun kemudian data ini dibantah oleh Satgas Covid 19 Pemko Surabaya, FSGI ingin melihat kasus ini secara substansi tidak melulu persoalan angka-angka sehingga bisa mengambil langkah-langkah ke depan yang lebih baik.

Apalagi melihat buruknya penanganan Covid 19 oleh Pemerintah yang banyak dikeluhkan berbagai pihak. FSGI ingin agar semua bersiap untuk skenario terburuk sekalipun, termasuk dunia pendidikan.

“FSGI mencatat di Indonesia hingga 18 Agustus 2020 sudah ada 42 guru dan 2 pegawai Tata Usaha Sekolah yang meninggal karena covid 19. Padahal, sebelum pandemik saja kita sudah kekurangan guru, kalau para guru tidak dilindungi, maka potensi penularan covid 19 di lingkungan satuan pendidikan akan tinggi jika sekolah dibuka pemerintah daerah tanpa ada persiapan yang matang,” ujarnya.

FSGI meragukan persiapan pembukaan sekolah dilakukan dengan sungguh-sunguh, mengingat daftar periksa buka sekolah saja banyak tidak dipenuhi oleh sekolah. Contohnya di kabupaten Toba.

“Walau statusnya zona oranye, 50 Sekolah jenjang SMP di Kabupaten Toba, Sumatera Utara melakukan pembelajaran tatap muka, dengan ketentuan 3 hari masuk sekolah dalam seminggu dengan 3.5 jam tatap muka di sekolah.

Ketika Kami mengecek daftar periksa di Kemdikbud terkait pembukaan sekolah, ternyata dari 51 SMP tersebut yang mengisi baru 13 sekolah dan 37 sekolah belum mengisi. Dari 13 sekolah yang mengisi ternyata 1 SMP tidak punya toilet, 1 tidak punya CTPS, 4 tidak punya disinfektan dan 8 tidak punya thermogun,” ungkap Fahriza Marta Tanjung, Wakil Sekjen FSGI.

Kasus Guru

Hal lain disampaikanya, penelusuran FSGI melalui lini masa ditemukan beberapa kasus guru yang tertular positif Covid 19 bahkan sampai meninggal dunia.

Di antaranya, di Pariaman (Sumatera Barat)  1 orang guru dan 1 orang operator sekolah dikonformasi positif Covid-19 pada tanggal 19 Juli 2020 setelah dilakukan swab test terhadap 1500 orang guru di Kota Pariaman.

Guru yang terkonfirmasi positif sempat mengajar sejak sekolah dibuka mulai dari tanggal 13 Juli 2020. Ada sekitar 90 siswa yang diajar secara tatap muka oleh guru tersebut.

Kemudian 40 orang guru dan karyawan sekolah yang mungkin melakukan kontak. Sejak 20 Juli 2020 sekolah di Kota Pariaman ditutup kembali

Di Padang Panjang (Sumatera Barat) 4 orang guru di SMP N 4 Padang Panjang dan 2 orang mahasiswa magang di SMP N 3 Padang Panjang dinyatakan positif Covid 19 pada tanggal 14 Agustus 2020 setelah Pemko Padang Panjang melakukan Tes Swab bagi guru.

2 orang guru di SMP N 4 Padang Panjang sudah melaksanakan pembelajaran tatap muka yang dimulai tanggal 13 Agustus 2020. Pemko Padang Panjang melakukan penutupan terhadap 3 sekolah yaitu SMP N 3 Padang Panjang, SMPN 4 Padang Panjang dan SMPN 2 Padang Panjang, yang berdekatan dengan salah satu sekolah tersebut.

Sementara sekolah lainnya tetap diizinkan melakukan Pembelajaran Tatap Muka.

Di Kalimantan Barat.

Per 10 Agustus 2020 dari hasil pemeriksaan test swab terhadap 604 orang guru dan rapid test terhadap 495 siswa ditemukan 8 orang guru dan 14 siswa positif Covid 19, yang terdiri dari : SMPN 1 Pontianak ada 3 orang guru, SMAN 2 Pontianak 2 orang guru; SMAN 3 Pontianak ada 2 orang guru dan 1 siswa .

Kemudian di SMAN 1 Ketapang ada 6 orang siswa, SMPN 1 Ketapang 2 orang siswa, SMPN 1 Sambas ada 3 orang siswa, kemudian SMAN 1 Ngabang, Landak ada 1 orang guru dan 2 siswa. Pada tanggal 12 Agustus 2020 ditemukan 8 orang guru di Kabupaten Melawi terkonfirmasi Positiv Covid 19.

Sementara itu, pada 19 Agustus 2020 ditemukan 10 orang guru pada salah satu SMP di Kabupaten Mempawah yang konfirmasi positif Covid 19.

“FSGI mengapresiasi pemerintah Provinsi Kalimantan Barat yang telah menggelar test PCR bagi ratusan guru di Kalimatan Barat sebelum membuka sekolah, sehingga tindakan tersebut dapat mencegah sekolah menjadi kluster baru”, ungkap Fahriza.

Selanjutnya di Madiun (Jawa Timur) ada 1 orang Guru SMPN 1 Dilopo meninggal dunia pada tanggal 1 Agustus 2020 setelah melakukan perjalanan ke Solo 19 Juli 2020.

Hasil swab keluar tanggal 2 Agustus 2020 dan dinyatakan positif. Pernah ke sekolah pada tanggal 23 Juli 2020 sehingga 67 warga sekolah ditest menggunakan Rapid Test dan hasilnya negatif.

Kemudia di Kudus (Jawa Tengah) 1 orang guru di SDN 1 Barongan Kudus positif Covid 19 meninggal pada tanggal 12 Agustus 2020. Rekan kerja korban menjalani isolasi mandiri karena saat dikonfirmasi positif korban melaksanakan aktifitas pembelajaran daring di sekolah.

Selanjutnya di Rembang (Jawa Tengah) 11 orang guru di SMKN 1 Gunem terkonfirmasi Positif Covid 19 berdasarkan hasil Swab Test tanggal 7 Agustus 2020.

Di Balikpapan (Kalimantan Timur)

28 orang guru dan pegawai sekolah yang berasal dari SD dan SMP di Kota Balikpapan terkonfirmasi Positif Covid 19 dari hasil Swab Test 6 Agustus 2020

Di Pati (Jawa Tengah)

1 orang guru SD Swasta meninggal dunia pada tanggal 18 Agustus 2020 tetapi tidak memiliki kontak erat dengan teman guru lainnya karena melakukan PBM Daring dari rumah.

Di Garut (Jawa Barat)

1 orang guru SMP terpapar Covid 19 berdasarkan data tanggal 20 Agustus 2020. Guru memiliki kontak erat dengan rekan sejawatnya karena sempat hadir ke sekolah.

Di Payakumbuh (Sumatera Barat)

Per tanggal 21 Juli 2020 2 orang guru di Payakumbuh dinyatakan positif Covid 19. Mereka mengalami infeksi di luar lingkungan sekolah.

Di DKI Jakarta

Diperoleh informasi dari sumber yang dapat dipercaya, bahwa salah satu SMKN di Jakarta Utara, 1 guru yang mengajar pendidikan agama Islam meninggal dunia karena covid 19, dan 3 guru lain yang sempat berkontak dengan guru yang bersangkutan saat di sekolah, ternyata positif covid 19.

Di Surabaya (Jawa Timur)

Per 24 Juli 2020 sudah ada 35 orang guru meninggal dunia di Surabaya akibat Covid 19. Angka ini akan terus bertambah karena pada tanggal 15 Agustus 2020 1 orang tata usaha SDN Bendul Merisi 1 meninggal dunia menambah daftar 3 orang guru yang meninggal terlebih dahulu pada sekolah tersebut.

Kemudian juga ditemukan 12 orang guru di SDN Ngagel 1 Surabaya terkonfirmasi positif. SDN Bendul Merisi 1 dan SDN Ngagel 1 dilockdown.

Sebelumnya guru-guru diwajibkan tetap masuk ke sekolah untuk melaksanakan pembelajaran daring. Kepsek SMP N 3 Surabaya meninggal pada tanggal 21 Juni 2020 karena positif Covid 19 seteleah sebelumnya dirawat karena diduga DBD.

Namun Satgas Covid 19 Pemkot Surabaya membantah, dan menyatakan ada 137 guru positif Covid dan 4 orang guru yang meninggal. (m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2