Waspada
Waspada » Dugaan Salah Beri Obat, Hakim Vonis Bebas 2 Asisten Apoteker
Medan

Dugaan Salah Beri Obat, Hakim Vonis Bebas 2 Asisten Apoteker

SIDANG putusan kedua terdakwa di Ruang Cakra II PN Medan, Rabu (27/1). Hakim vonis bebas dua asisten apoteker atas kasus dugaan kesalahan pemberian obat. Waspada/Rama Andriawan.
SIDANG putusan kedua terdakwa di Ruang Cakra II PN Medan, Rabu (27/1). Hakim vonis bebas dua asisten apoteker atas kasus dugaan kesalahan pemberian obat. Waspada/Rama Andriawan.

MEDAN (Waspada): Hakim Ketua Sri Wahyuni Batubara memvonis bebas dua asisten apoteker di Apotek Istana I. Kedua asisten apoteker, Oktarina Sari, 21, dan Sukma Rizkiyanti Hasibuan, 20, tidak terbukti bersalah atas kasus dugaan kesalahan pemberian obat.

“Membebaskan terdakwa dari dakwaan penuntut umum dan memulihkan harkat dan martabat terdakwa,” ucap Sri Wahyuni, di Ruang Cakra II Pengadilan Negeri (PN) Medan, Rabu (27/1) sore.

Majelis hakim menilai, kedua terdakwa tidak terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagai orang yang melakukan, menyuruh melakukan atau turut serta melakukan perbuatan karena kesalahannya (kealpaannya) menyebabkan orang lain mendapatkan luka berat sebagaimana diatur dalam pasal 360 ayat (1) Jo. Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Majelis hakim tidak sependapat dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Vernando, yang semula menuntut kedua terdakwa dengan pidana selama 2 tahun penjara dan melanggar Pasal 360 ayat 1 dan 2 KUHPidana.

Mendengar vonis bebas tersebut, Sukma yang turut dihadirkan ke persidangan tampak meneteska airmata. Ia lalu mengucap syukur atas putusan itu. Sementara di luar persidangan, JPU Vernando menyatakan akan mengajukan kasasi.

Sangat Tepat

Penasihat hukum kedua terdakwa, Maswan Tambak mengapresiasi putusan majelis hakim, dikatakan Maswan bahwa fakta persidangan tidak ada satu fakta pun yang membuktikan kedua kliennya melakukan kesalahan, sehingga putusan tersebut dianggapnya sudah sangat tepat.

“Faktanya kan jelas, tidak terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar pasal yang didakwakan oleh penuntut umum, sehingga menurut kami keputusan tersebut sudah tepat, dan sesuai dengan fakta persidangan,” kata Maswan.

Diketahui, dalam dakwaan jaksa disebutkan, kasus ini bermula pada 6 November 2018, saksi korban Yusmaniar ditemani Freddy Harry pergi berobat ke klinik spesialis bunda. Setelah menerima resep, saksi korban ke Apotek Istana I di Jl. Iskandar Muda, Medan.

Pada 13 Desember 2018 kondisi saksi korban belum juga pulih sehingga menyuruh Freddy untuk membeli obat di Apotek Istana I dengan resep yang sama. Kemudian pada 16 Desember 2018, saksi korban mengalami sakit batuk dan pilek lalu pergi berobat ke rumah sakit umum Materna.

Di rumah sakit itu, kondisi saksi korban drop hingga harus masuk ICU. Pihak RSU Materna meminta keluarga untuk membawa obat-obatan yang di konsumsi oleh saksi korban yang didapat dari Apotek Istana I.

Disebutkan jaksa, dari keterangan Dr Tengku Abraham, ada obat yang tidak sesuai dengan tulisannya yang diberikan pihak Apotek Istana I, yaitu Amaryl M2. Sedangkan ia memberikan resep yang ditulis dengan jelas dan lengkap Methyl Prednisolon kepada saksi korban. (m32).

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2