Waspada
Waspada » DPRD Sumut Khawatir Kenaikan BBM Picu Stabilitas Harga Bahan Pangan
Medan

DPRD Sumut Khawatir Kenaikan BBM Picu Stabilitas Harga Bahan Pangan

ANGGOTA Komisi B DPRD Sumut, Marajaksa Harahap. DPRD Sumut khawatir kenaikan bbm picu stabilitas harga bahan pangan. Waspada/Ist
ANGGOTA Komisi B DPRD Sumut, Marajaksa Harahap. DPRD Sumut khawatir kenaikan bbm picu stabilitas harga bahan pangan. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): DPRD Sumut khawatir kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) per 1 April dapat memicu stabilitas harga bahan pangan, terutama di masa pandemi Covid-19 ini.

“Kita khawatir masyarakat akan terpukul akibat kenaikan BBM yang dilakukan justru menjelang bulan suci Ramadhan,” kata anggota Komisi B DPRD Sumut, Marajaksa Harahap (foto) kepada Waspada, di Medan, Kamis (1/4).

Marajaksa merespon putusan Pertama melalui surat No 348/Q21030/2021-S3 perihal harga jual keekonomian BBM Pertamina Untuk Sumut yang ditujukan ke seluruh pengusaha SPBU Sumut, tertanggal 31 Maret 2021.

Surat yang diteken Region Manager Retail Sales I Pierre J Wauran itu memuat daftar harga Pertalite dari Rp 7.650 menjadi Rp 7.850.

Pertamax dari Rp 9.000 menjadi Rp 9.200 – Pertamax Turbo dari Rp 9.850 menjadi Rp 10.050 – Pertamina Dex dari Rp 10.200 menjadi Rp 10.450, Dexlite Rp 9.500 menjadi Rp 9.700, dan Solar Non PSO dari Rp 9.400 menjadi Rp 9.600.

Menyikapi hal itu, Marajaksa berpendapat, saat ini masyarakat sedang mengalami kesulitan akibat terdampak Covid-19. “Mereka juga dihantui kecemasan bakal merangkak naiknya harga kebutuhan pokok, terutama menjelang bulan suci Ramadhan dan Idul Fitri 1442 Hijriah nanti,” katanya.

Nah, masyarakat kembali dikagetkan dengan penyesuaian harga BBM yang meski relatif kecil, hal itu bisa berdampak besar. “Ini menurut saya sangat berpengaruh pada masyarakat yang hidupnya pas-pasan,” katanya.

Dijelaskan, jika penyesuaian tidak terelakkan, Marajaksa berpendapat, Pertamina hendaknya cermat dan jeli melihat situasi. “Apakah wajar menaikkan harga BBM menjelang hari besar keagamaan seperti Ramadhan dan Idul Fitri, apakah menguntungkan masyarakat atau Pertamina untung sendiri,” katanya.

Harusnya, Pertamina ikut andil memberi perhatian, dengan misalnya memberikan keringanan kepada masyarakat yang tidak mampu untuk memperoleh BBM menjelang Ramadhan. “Yang terjadi justru Pertamina agaknya menambah beban masyarakat,” katanya.

Komisi B, yang tupoksinya membidangi masalah pertambangan termasuk BBM, akan menjadwalkan pertemuan dengan Pertamina untuk mendapatkan masukan dan langkah-langkah yang perlu diambil terkait dengan kenaikan harga BBM.

Sekaitan dengan itu, sejumlah rumah makan mulai Kamis (1/4) ikut menyesuaikan diri untuk menaikkan harga menunya. Di salah satu rumah makan di Medan, harga jus pokat yang biasanya Rp 20.000, naik jadi Rp 24.000. Untuk nasi pakai ikan yang biasanya Rp 25.000 naik jadi Rp 30.000.

Selaras Dengan Pergub

Terpisah, Unit Manager Communication, Relations, & CSR Regional Pertamina Sumbagut Taufikurachman mengatakan, penyesuaian tersebut selaras dengan Peraturan Gubsu No 01 Tahun 2021 tentang Petunjuk Pelaksanaan Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB).

Dalam aturan tersebut terdapat perubahan tarif PBBKB khusus bahan bakar nonsubsidi dari sebelumnya 5 persen disesuaikan menjadi 7,5 persen di wilayah Sumatera Utara.

Sedangkan untuk tarif PBBKB Jenis BBM Khusus Penugasan (JBKP) seperti Premium dan Jenis BBM Tertentu (JBT) seperti Bio Solar tidak mengalami perubahan.

“Mengacu pada perubahan tarif PBBKB yang ditetapkan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, sesuai dengan surat edaran Seketaris Daerah Provinsi Sumut, per tanggal 01 April 2021, Pertamina melakukan penyesuaian harga khusus untuk BBM nonsubsidi di seluruh wilayah Sumut,” tutur Taufikurachman dalam keterangannya di Medan. (cpb)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2