Waspada
Waspada » DPRD Sumut Dorong Penyelesaian Konflik Harimau-Manusia Di Langkat
Medan

DPRD Sumut Dorong Penyelesaian Konflik Harimau-Manusia Di Langkat

ANGGOTA DPRD Sumut Sugianto Makmur. DPRD Sumut dorong penyelesaian konflik harimau-manusia di Langkat. Waspada/Ist
ANGGOTA DPRD Sumut Sugianto Makmur. DPRD Sumut dorong penyelesaian konflik harimau-manusia di Langkat. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Anggota DPRD Sumatera Utara Sugianto Makmur (foto) mendorong pemerintah dan intsansi terkait dalam penyelesaian konflik antara harimau Sumatera dan manusia (warga masyarakat) di Langkat.

Yakni segera mensosialisasikan kesepakatan yang sudah diambil secara maksimal guna menindaklanjuti terjadinya kembali dua ekor sapi milik warga yang dimangsa harimau Sumatera yang masuk kampung di Lau Damak Kabupaten Langkat.

“Kita imbau Pemkab Langkat, BB-KSDA Sumut dan TNGL mensosialisasikan kesepakatan mengkandangkan hewan ternak dan melarang memburu hewan liar, secara maksimal,” ujar anggota DPRD Sumut dari dapil (daerah pemilihan) Binjai dan Langkat Sugianto Makmur Amd Li kepada wartawan, Minggu (7/3) di Medan, terkait harimau Sumatera kembali memangsa dua ekor sapi milik warga Lau Damak-Langkat.

Menurutnya, persoalan tersebut merupakan tugas pemerintah khususnya BB-KSDA dan Pemkab Langkat untuk melakukan sosialisasi tentang pengkandangan hewan ternak dan melarang masyarakat memburu hewan liar di kawasan hutan untuk sementara waktu, agar konflik harimau dan manusia bisa segera berakhir.

Makin Sedikit

Berdasarkan data dari TNGL, lanjut Sugianto Makmur, hewan mangsa harimau Sumatera semakin sedikit membuat harimau mencari mangsa di tempat yang baru.

Sementara kebiasaan warga melepas hewan ternak di kawasan kebun, memancing kedatangan Harimau Sumatra.

Karena, ungkap anggota Komisi B DPRD Sumut ini, menurut BB-KSDA Sumut, Desa Lau Damak termasuk daerah lintas harimau Sumatera dan harusnya hewan ternak dikandangkan, agar tidak dibiarkan bekeliaran.
Tapi bisa jadi Harimau kelaparan, sehingga yang biasanya menjauhi hunian penduduk, kini berburu ternak milik warga masyarakat.

Sebaiknya selama 1-2 tahun ini, masyarakat dilarang berburu hewan liar di kawasan hutan, supaya ada kesempatan hewan-hewan mangsa harimau berkembang biak.

Masyarakat sendiri meminta supaya harimau bersangkutan ditangkap dan dipindahkan ke lokasi lain. Ini bisa jadi solusi sementara, tetapi kenyataanya manusialah yang masuk ke “rumah” harimau.

Karenanya, bila ada harimau remaja yang sedang belajar berburu atau harimau tua yang sudah tidak sanggup berburu hewan liar, mereka akan memangsa ternak yang dilepaskan tanpa penjagaan.

Menurut politisi PDI Perjuangan ini, mengubah kebiasaan masyarakat dari melepas ternak dengan mengkandangkan ternaknya, bisa menjadi solusi yang lebih tepat.

Di satu sisi, Harimau Sumatera merupakan hewan langka, perlu dilestarikan. Disisi lain, masyarakat juga perlu mendapatkan ketenangan hidup. (cpb)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2