DPRD Minta Bangun Kincir Angin di Madina

  • Bagikan
Anggota Komisi B DPRD Sumut, Sugianto Makmur. DPRD Minta Bangun Kincir Angin Cegah Pencemaran Sungai di Madina Waspada/Partono Budy
Anggota Komisi B DPRD Sumut, Sugianto Makmur. DPRD Minta Bangun Kincir Angin Cegah Pencemaran Sungai di Madina Waspada/Partono Budy

Medan (Waspada): DPRD minta bangun kincir angin untuk cegah pencemaran sungai akibat penambangan liar di Madina.

“DPRD minta bangun kincir angin di Madina, yang bertujuan cegah pencemaran sungai dari molekul merkuri yang sangat berbahaya bagi manusia,” kata anggota DPR Sumut, Sugianto Makmur kepada Waspada, di ruang dewan, Kamis (27/2).

Selama ini, molekul merkuri yang terbuang di aliran sungai akibat proses ceroboh pengayakan atau pemijahan bebatuan yang mengandung serpihan emas.

“Saat pengayakan, ada dua unsur zat yang berbahaya dalam bebatuan; pertama sianida dan merkuri. Nah, sianida bisa larut jika bercampur air, sedangkan merkuri merupakan molekul padat yang tidak dapat terurai,” katanya.

Masyarakat di Madina, terutama yang berada di kawasan sungai tempat banyak mengandung bebatuan bumi yang mengandung serpihan emas, tidak memahami proses pemisahan unsur dan molekul padat dan cair secara kimiawi.

Itu menjadi penyebab timbulnya berbagai penyakit cacat lahir, karena air yang mengandung merkuri bisa masuk ke dalam pori-pori (yang bisa merusak kulit) atau uapnya terhirup melalui mulut yang mengganggu metabolisme tubuh.

Hal inilah yang mendasari pemikiran untuk menolak rencana Pemprovsu menutup tambang liar di Madina.

Ratusan Tahun

Alasannya, penambangan manual ini sudah berlangsung ratusan tahun di sana. “Nanti kalau ditutup, mereka bilang, masak di zaman pascakemerdekaan ini, mereka gak boleh cari nafkah di negerinya sendiri,” kata politisi PDI-P ini.

“Sebenarnya, saya sudah lama di Madina dan tahu persis soal tambang liar ini. Kalau ditanya ditutup (tambang liar), saya tidak setuju,” katanya.

Sebagai gantinya, pihaknya sudah lama menggagas kepada Pemkab Madina sejumlah langkah.

“Pertama, membangun kincir angin, rehabilitasi sungai dan memidahkan tempat pemrosesan di lokasi tertentu agar limbahnya tertampung dan tidak mengalir ke mana-mana,” katanya.

Tetapi, menurut Sugianto, Pemkab Madina dan Pemprovsu kelihatannya gamang menghadapi masalah ini, sehingga menjadi berlarut-larut.

Disebut gamang karena mungkin kalau tambang liar ditutup, masyarakat kehilangan mata pencarian, dan kalau dibiarkan, timbul korban merkuri.

Karenanya, kita berharap Pemkab Madina dapat mengundang tim ahli untuk membangun kincir angin, yang bertujuan dapat memproses air beracun mengandung merkuri menjadi air bersih dan layak digunakan. (cpb)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.