Dosen USU Ciptakan Arang, Asap Cair Untuk Pengawet Makanan

Dosen USU Ciptakan Arang, Asap Cair Untuk Pengawet Makanan

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Program pengabdian pada masyarakat berbasis penelitian untuk mengembangkan produk-produk hasil penelitian dosen, menjadi produk komersil terus berlanjut.

Seperti Prof. Dr. Rosdanelli Hasibuan MT bersama Dr. Ir. Juliza hidayati, MT yang mengantarkan product from Lab to market, dengan komoditi arang dan asap cair melalui metode pirolisis, berbahan baku tempurung kelapa dengan skema Program Pengembangan Usaha Produk Intelektual Kampus (PPUPIK).

Disebutkannya, pengembangan arang dan asap cair yang memiliki tiga grade masing-masing; grade 1, 2 dan 3 ini dibiayai dana non Pemasukan Negara Bukan Pajak (PNPB) Universitas Sumatera Utara (USU) tahun 2021.

Asap cair ini paparnya, memiliki banyak manfaat seperti menggumpalkan getah, mengawetkan kayu. “Jika tahun lalu yang dihasilkan masih grade tiga. Tahun ini dimurnikan kembali, hasilnya sudah ada yang grade 1 dan grade 2. Ini bisa dijadikan pengawet makanan dan akhirnya untuk kosmetik,” sambungnya.

Pengawet Makanan

Sedangkan untuk asap cair grade satu dan dua bisa menjadi sebagai pengawet makanan.

“Untuk grade satu dan dua ini, kita belum ada kerjasama dengan perusahaan yang akan menggunakan. Kita masih menyosialisasikan kepada pedagang bakso, karena selama ini ada yang mengunakan boraks sebagai pengental atau pengawetnya. Jadi kita, minta mereka menggunakan asap cair ini menggantikan boraks atau formalin,” sambungnya.

Selanjutnya untuk produk arang jelasnya, sudah ditawarkan ke restoran-restoran kecil yang ada di sekitar kampus. “Untuk arang ini, sudah kita ditawarkan ke restoran-restoran kecil yang ada di sekitar kampus, untuk ayam bakar, ikan bakar,” ujarnya.

Prof. Rosdanelli menambahkan, menggunakan arang tempurung mempunyai keunikan dibandingkan arang kayu. Karena arang tempurung memiliki asap yang lebih sedikit.

“Ini produksinya belum banyak. Kalau banyak dan kapasitasnya bisa terjamin, kita bisa kontrak dengan perusahaan di Belawan yang memang menampung arang untuk membuat karbon aktif. Itu ada dan kita sudah bisa konek ke sana,” ujarnya. Prof. Rosdanelli menyebutkan, sejauh ini rata-rata kapasitas produksi arang baru sekira 200 kg bahan baku dengan hasil 80 kg setiap kali produksi.

“Ini semua aplikasi dari penelitian, kalau awalnya kapasitasnya, kecil-kecil. Sekarang lebih besar dan sudah bisa dipasarkan. Ini sudah bisa skala pilot plan. Setelah dikaji, ternyata bisa dibuat scale up, dan bisa mengikuti program PPUPIK, ” pungkasnya. (m19)

Teks foto

Prof Dr Rosdanelli Hasibuan bersama mahasiswa saat memproduksi arang dan asap cair dengan menggunakan metode pirolisis kimia USU. Waspada/ist

  • Bagikan