Waspada
Waspada » Dokter Spesialis Ginjal Di Sumut Masih Minim
Medan

Dokter Spesialis Ginjal Di Sumut Masih Minim

MEDAN (Waspada): Kepala Divisi Nefrologi Departemen Ilmu Penyakit Dalam FK USU dr Safrizal Nasution, SpPD-KGH menyebutkan, dokter spesialis ginjal atau internis Nefrologi di Sumatera Utara hanya ada sembilan orang.

Jumlah tersebut dinilai tidak cukup melayani pasien gagal ginjal yang setiap tahunnya terus bertambah untuk melakukan dialisis (cuci darah). Oleh karena itu, sembilan dokter internis Nefrologi ini mendidik dokter penyakit dalam (internis) selama 3 sampai 6 bulan hingga dia bisa menjadi dokter penanggung jawab pasien.
“Kalau dilihat dari kebutuhan itu memang kurang. Tapi sekarang ini kita utamanya kan dalam bentuk mensupervisi atau penanggungjawabi unit-unit Hemodialisis (tempat cuci darah-red), jadi sekarang ini sistemnya berjenjang. Kalau dalam struktur unit Hemodialisis itu penanggungjawab harian itu dokter umum.
Kemudian ada dokter internis (penyakit dalam), ini kita didik selama 6 bulan untuk memahami teknik-teknik dialisis, sehingga nantinya bisa menjadi dokter penanggungjawab pasien,” katanya, Kamis (11/3).
Dikatakannya, dokter internis yang dididik untuk memahami teknik-teknik dialisis di Sumatera Utara ada 50-55 orang.
“Dokter inilah yang menjadi motor utama kita yang akan ditempatkan di tempat yang tidak mungkin kita di situ. Sebab, dokter hanya bisa praktek di tiga tempat saja,” jelasnya.
Ketika ditanya penyebab minimnya jumlah dokter spesialis ginjal, apakah karena minat rendah? Syafrizal menjawab, dokter spesialis ginjal ini tingkatannya subspesialis.
“Untuk pendidikan kedokteran dokter umum saja 6 tahun, di tambah lag pendidikan dokter spesialis 4 tahun, jadi untuk subspesialis saja sekitar 14 tahun lamanya. Kemudian kalau PNS dia harus mengabdi dua tahun dulu baru bisa ambil spesialis, jadi banyak yang mengalami seperti itu,” tuturnya.
Namun, lanjutnya, dalam upaya meningy jumlah dokter internis Nefrologi ini, Pernefri (Perhimpunan Nefrologi Indonesia) sudah membuat terobosan-terobosan, salahsatunya mengurangi lama pendidikan.

Masih Kurang

Bukan hanya di Sumut, jumlah dokter spesialis ginjal di seluruh Indonesia juga masih kurang.
“Jumlah kita ini sekitar 140 orang, masih kurang dibandingkan dengan penduduk Indonesia sebanyak 260-an juta penduduk. Jadi kita masih kurang,” katanya.
Terkait jumlah penderita, Dr Syafrizal tidak mengetahui berapa jumlah pasti pasien dengan gagal ginjal. Namun, dia memastikan setiap tahun jumlahnya terus bertambah.
“Diagnosis gagal ginjal atau orang yang melakukan dialisis itu adalah satu dari empat penyakit dengan pengeluaran (klaim) terbesar ke BPJS Kesehatan,” pungkasnya.
Dia juga menyebutkan, belakangan ini pengetahuan masyarakat tentang cuci darah atau dialisis sudah berkembang.
“Dulu begitu divonis gagal ginjal dan cuci darah, cepat-cepat dia buat surat wasiat, karena merasa hidupnya tak lama lagi. Jadi panik duluan. Sekarang ini masyarakat sudah tahu kalau cuci darah itu indikasi nya apa, apakah dia akut atau kronis. Karena ada pasien cuci darah reguler masih bisa melihat anaknya jadi dokter penyakit dalam,” imbuhnya lagi.
Ditambahkannya, gagal ginjal akut bisa sembuh seperti sedia kala tapi kalau kronis tidak bisa sembuh sehingga harus cuci darah.
“Penyebab gagal ginjal itu paling banyak itu hipertensi dan diabetes, kemudian peradangan dan batu ginjal. Banyak juga orang yang berpendapat kalau penyakit hipertensi dan diabetes melitus makan obat untuk mengontrol tekanan darah dan diabetes justru akan mempercepat kerusakan ginjal. Ini salah, kalau tidak terkontrol diabetes dan tekanan darahnya justru malah mempercepat gagal ginjalnya,” tegasnya.
Di Hari Ginjal ini, dia kembali mengingatkan kembali masyarakat tentang bahaya gagal ginjal.
“Terapkan hidup bersih dan sehat,  tidak merokok, cukup minum, tidak konsumsi obat sembarangan. Orang-orang yang hipertensi dan diabetes untuk rutin mengontrol tekanan darah dan gula darah,” tambahnya.(cbud)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2