Disesalkan Fenomena Anak Adukan Orang Tua Ke Pengadilan

Disesalkan Fenomena Anak Adukan Orang Tua Ke Pengadilan

  • Bagikan
DEKAN Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU, Dr Ardiansyah. Disesalkan fenomena anak adukan orang tua ke pengadilan. Waspada/ist
DEKAN Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU, Dr Ardiansyah. Disesalkan fenomena anak adukan orang tua ke pengadilan. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Sangat disesalkan saat ini fenomena anak yang adukan orang tua kian bertambah. Padahal, semestinya orang tua mendapat kebahagiaan dari sikap dan perilaku anaknya, terutama saat usia sudah tua.

Hal itu antara lain disampaikan Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN SU, Dr Ardiansyah (foto), Selasa (2/2), merespon pemberitaan viral tiga anak gugat ibu kandung terkait harta warisan.

Sempat dimediasi sebelum naik meja hijau, namun gagal. Viralnya kasus tiga anak kandung menggugat ibu kandung terkait harta warisan hingga naik ke meja hijau di Pengadilan Agama (PA) Pangkalan Balai Kabupaten Banyuasin, banyak kecaman dari berbagai kalangan.

“Sangat miris rasanya berulang kasus anak yg melaporkan dan menggugat orangtuanya dengan berbagai latar belakang. Hal ini paling tidak mengindikasikan rapuhnya institusi keluarga dan hilangnya ikatan kasih-sayang dalam kehidupan keluarga.

Dalam pepatah ada disebutkan ‘janganlah seperti kacang lupa akan kulitnya,” kata Ardiansyah.
Disebutkanya, hadirnya seorang anak di muka bumi Allah ini pastilah melalui orangtua kandungnya. Dalam

Alquran dijelaskan bahwa seorang ibu mengandung anaknya 9 bulan 10 hari.

Setelah itu ditambah pula dengan menyusuinya dua tahun lamanya. Orang tua (Ibu dan Ayah) membesarkan dan menghidupi anaknya dengan penuh pengorbanan. Tidak pernah kenal lelah dan letih dalam menghidupi anak-anaknya.

Oleh karena itu Allah SWT telah mengingatkan agar anak tidak melawan atau durhaka kepada kedua orangtuanya. “Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak.

Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik.” (QS. Al-Isra’: 23)

Sejajar

Menurutnya, ayat ini menjadi landasan penting dalam menegaskan kedudukan orangtua yang sejajar dengan kewajiban mengesakan Allah SWT.

Dalam ayat tersebut juga telah dijelaskan bahwa mengatakan “ah” saja sebagai penolakan kasar terhadap orangtua. Apalagi menuntut dan menyeret mereka ke ranah hukum merupakan perbuatan yang seharusnya tidak pantas untuk dilakukan seorang anak terhadap orangtuanya.

“Layaknya pepatah mengatakan air susu dibalas air tuba. Kebaikan orangtua dan pengorbanannya dibalas dengan sikap kasar dari anaknya. Sungguh hal itu sangat tercela. Semoga Allah SWT menganugerahkan kepada kita keturunan yang shaleh dan Shalehah berbakti kepada kedua orangtua,” ungkapnya.

Sebelumnya juga diberitakan di Kota Medan,seorang ibu digugat anak senilai Rp 12  miliar.

Tergugat dituding tak menafkahi anak kandungnya selama lima tahun. Sidang anak gugat ibu sebesar Rp 12 miliar kembali digelar dengan agenda duplik di Pengadilan Negeri (PN) Medan, Senin (1/2).

Dalam sidang yang beragendakan duplik tersebut, tergugat Ria Desi N Hutapea menyangkal gugatan yang dilayangkan Lando F Sinurat, terkait tudingan tak memberikan nafkah anak kandungnya itu selama 5 tahun.(m22)

  • Bagikan