Dirjen Yankes Kemenkes RI Lakukan Monev Intervensi Stunting di RSUD dr Pirngadi Medan

  • Bagikan

MEDAN (Waspada): Direktur Jendral (Dirjen) Pelayanan dan Kesehatan (Yankes) Kementerian Kesehatan RI, Prof Dr H Abdul Kadir PhD Sp THT -KL (K), MARS melakukan monitoring dan evaluasi (Monev) Pencegahan dan Penanganan Stunting di RSUD dr Pirngadi Medan, Rabu (24/11)

Dalam Monev itu, kehadiran Dr H Abdul Kadir PhD Sp THT -KL (K), MARS dan timnya disambut langsung oleh Plt Direktur Utama RSUD dr Pirngadi Medan, dr. Suryadi Panjaitan, Sp.PD dan jajarannya.

Usai melihat sejumlah fasilitas rumah sakit, Abdul Kadir menjelaskan kehadirannya ke rumah sakit milik Pemko Medan itu untuk melihat langsung kesiapan rumah sakit Pirngadi menangani pasien Stunting.

“Kunjungan kami kesini sebenarnya ingin melihat langsung bagaimana pelaksanaan posyandu dalam menangani stunting. Misalnya bagaimana pengukuran berat badan, tinggi badan yang dilaksanakan oleh posyandu. Apakah menggunakan alat parameter yang benar atau tidak benar.

Bagaimanapun mereka mencatatkan kasus stunting di Kartu Menuju Sehat (KMS) sehingga demikian didapatkan status bahwa anak itu mengalami stunting, gizi kurang dan lainnya. Setelah itu kan ada tindak lanjutnya, jika ada stunting, gizi kurang mereka akan kirim ke puskesmas, selanjutnya puskesmas akan mengirimnya ke rumah sakit Pirngadi. Itu tujuan utama kami untuk datang ke Medan ini,” ucapnya.

Kemudian diungkapkannya bahwa kasus stunting di Medan setelah melihat langsung salah satunya di posyandu di Medan di puskesmas Binjai, katanya disana pihaknya menemukan bahwa masih banyak kekurangan dalam pelayanan dan penanganan stunting ini terutama sarana dan prasarana.

“Kami melihat alat ukur yang digunakan itu masih kurang. Disitu masih menggunakan timbangan yang skalanya sudah tidak terbaca, pengukuran tinggi badan juga sudah tidak memenuhi standar kemudian juga membuat pelaporan masih belum benar. Jadi kita harap kan kedepan ada perbaikan,” tegasnya.

Pada kesempatan itu pula ia membeberkan bawah jumlah stunting di Indonesia masih tinggi yakni sekitar 28 persen dari usia balita. Katanya kasus stunting ini paling banyak di Nusa Tenggara Timur (NTT), Jawa barat, Sulawesi Barat sedangkan di Kota Medan justru sebutnya kasusnya cukup bagus. ” Kalau di Medan justru kasusnya cukup bagus tidak tinggi seperti daerah lain, stunting inikan ada kaitannya juga dari kemampuan masyarakat nya juga,” ucapnya.

Untuk penyebab terbesar hadirnya kasus stunting ini ujarnya lagi besar kaitannya dengan faktor pendidikan masyarakat, pengetahuan orangtua, seperti bagaimana memberikan gizi yang cukup kepada anak balita dan kedua ada kaitannya dengan faktor ekonomi dan ketiga ada kaitannya dengan faktor penyakit. Penyakit infeksi masih banyak diderita anak anak di Indonesia.

“Harapan kita terhadap Rumah Sakit Pirngadi ini siap jika terdapat kasus stunting dan harus dirawat di rumah sakit ini,” katanya lagi.

Lanjut Abdul Kadir menerangkan bahwa anak stunting itu bukan hanya tubuhnya yang pendek tetapi sel-sel otaknya juga kecil sehingga intelejensi nya rendah. Oleh karena itu pemerintah memberikan perhatian yang lebih agar anak anak harapan bangsa ini tidak menjadi beban masyarakat kedepannya.

Dirut RSUD dr Pirngadi Medan, Suryadi mengatakan bahwa pihaknya siap memberikan pelayanan terbaik buat pasien Stunting.

Kini pihaknya sedang merawat 1 pasien Stunting, balita usia 3 bulan asal Medan Amplas. “Kita saat ini memberikan pelayanan kesehatan yang baik dengan memberikan nutrisi dan tindakan pelayanan kesehatan lainnya agar tumbuh kembangnya menjadi membaik,” ucap Suryadi Panjaitan yang juga menjabat Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Kota Medan ini.

Sementara itu, Dirjen juga sempat menyebutkan bahwa pihaknya
sudah memberikan bantuan beberapa alat bantu ukur, timbangan dan lainnya hanya saja dibandingkan dengan bantuan Kemenkes dari jumlah posyandu yang ada itu tidak seimbang.

Untuk itu ia berharap Pemda setempat mengambil alih tanggung jawab itu dan berharap dana desa sedapat mungkin bisa dioptimalkan untuk perbaikan sarana dan prasarana posyandu.(cbud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *