Dinkes Medan Terus Tekan Angka Kasus Stunting

  • Bagikan
STUNTING. Dinkes Medan terus tekan angka kasus stunting. Ilustrasi
STUNTING. Dinkes Medan terus tekan angka kasus stunting. Ilustrasi

MEDAN (Waspada): Permasalahan stunting atau gagal tumbuh pada anak masih menjadi permasalahan di Kota Medan. Meski disebutkan Dinkes Kota Medan angka kasus stunting ini sudah mengalami penurunan.

PLT Kadis Kesehatan Kota Medan Mardohar Tambunan menyebutkan pada Senin (1/11) bahwa jumlah kasus stunting sudah menurun dari 400 kasus menjadi sekitar 300 kasus. Dan terakhir paling banyak ditemukan di Titipapan Medan Labuhan.

“Jumlah stunting kita sudah menurun, standar nasional itu 27 persen, jadi kita sudah mengantisipasinya dan kita juga sudah melakukan berbagai program untuk menekan stunting ini,” katanya.

Adapun program itu, diantaranya seperti pemberian makanan tambahan, peningkatan edukasi kepada ibu soal pola asuh, melakukan promotif dan preventif di masyarakat. Karena stunting ini juga kebanyakan katanya karena pola asuh.

Ia juga menyebutkan terus berkoordinasi dengan lintas instansi, sebab sebutnya penekan angka stunting ini berkaitan dengan semua instansi seperti BKKBN, Perkim, dan lainnya.

“Mengatasi ini harus melibatkan semua instansi. Stunting ini paling banyak perannya kemiskinan, masalah air, lingkungan, pola asuh. Paling banyak di Titi papan medan labuhan. Tapi data terakhir kita di Titipan itu mereka sudah bagus tapi tetap kita awasi,” ucapnya.

Urutan Ke 115

Sementara itu, berdasarkan data Studi Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2019, prevalensi stunting saat ini masih berada pada angka 27,7%.

Data World Bank tahun 2020 menunjukkan, prevalensi stunting Indonesia berada pada urutan ke 115 dari 151 negara di dunia.

Karena itu sebelumnya Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy menjelaskan, berapa hal penyebab tingginya angka stunting di daerah karena masalah kurangnya asupan gizi kronis pada anak, rendahnya cakupan akses air dan sanitasi penduduk, rendahnya pendidikan orang tua, pola asuh yang salah, dan kurangnya tenaga kesehatan terutama ahli gizi dalam pemantauan perkembangan balita. Ini harus diatasi dan diselesaikan.

Lebih lanjut, menurut dia, pandemi Covid-19 yang terjadi saat ini akan memberikan pengaruh besar kepada peningkatan stunting pada kelompok miskin yang akan berdampak kepada menurunnya daya beli terhadap pangan bergizi.(cbud)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *