Digitalisasi Belum Sentuh Rakyat Kecil

  • Bagikan
ACARA diskusi nasional secara daring dengan Tema "Digitalisasi Untuk Wong Cilik, Siapa Yang Mewujudkan ?", yang digagas oleh Perkumpulan Manifes Indonesia, Senin (29/11). Waspada/Ist
ACARA diskusi nasional secara daring dengan Tema "Digitalisasi Untuk Wong Cilik, Siapa Yang Mewujudkan ?", yang digagas oleh Perkumpulan Manifes Indonesia, Senin (29/11). Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Program komunikasi digital (digitalisasi) yang digulirkan pemerintah masih belum  sepenuhnya menyentuh kebutuhan rakyat bawah.

Realitas ini terungkap di acara diskusi nasional secara daring dengan Thema “Digitalisasi Untuk Wong Cilik, Siapa Yang Mewujudkan ?”, yang digagas oleh Perkumpulan Manifes Indonesia, Senin (29/11).

Leriadi sebagai Pelaksana Kegiatan menyatakan bahwa kegiatan webinar Manifes Indonesia dalam rangka menyatukan gagasan seluruh komponen anak bangsa bagaimana agar solusi yang terbaik bisa dijalankan pemerintah.

Ketersediaan infrastruktur TIK menjadi “sorotan” bersama dari para peserta diskusi.

Adalah peserta diskusi dari Sumatera Utara bahkan Jakarta, mengeluhkan hal yang sama terkait adanya kesenjangan (gap) atas kebijakan digitalisasi nasional di bidang infrastruktur digital itu.

“Akses internet saat ini, faktanya  tidak stabil. Masih terputus-putus seperti malam ini. Padahal, kabarnya infrastruktur jaringan internet kita, tengah menuju ke generasi kelima atau 5G, ” tegas Ridwan, peserta diskusi dari Jakarta.

Ketidakstabilan koneksi juga “memakan” data internet cukup banyak, timpal peserta lainnya. Konektivitasnya pun belum merata. Ketidaktauan publik atas program digitalisasi, juga masih sangat minim. sambung peserta dari Sumut.

Jangkau 83.812 Desa

Terkait itu, sebelumnya, Direktur Pengelolaan Media Kemenkominfo, Dr Nursodik Gunarjo, M.Si, secara terbuka  menyampaikan perkembangan situasinya.

“Belum semua wilayah, tersambung internet generasi keempat atau 4G. Untuk infrastruktur digital, ditarget harus mampu menjangkau 83.812 desa. Saat ini, baru mencapai 66.600 desa saja yang terkoneksi internet 4G. Prioritas capaian ke depan menyasar ke 9.000-an desa yang berada di kawasan 3T (terluar, terdepan, tertinggal).

Bagi wilayah yang sudah terkoneksi, Kemenkominfo RI, terus meningkatkan literasi digitalnya. Harapannya, bisa mendongkrak ekonomi digital masyarakat di sana.

Di sisi lain, panel ahli digitalisasi, Prof. Dr Jaswar Koto menilai, soal penggunaan akses internet (internet providing), mestinya bisa dioptimasi lewat teknologi AI – artificial intelegent.

Teknologi AI mampu mendeteksi akses internet secara “smart”. Kecepatan maupun kebutuhan data internet bisa teridentifikasi dengan baik.

Sehingga, ini bisa menjawab ekspektasi wong  cilik di dunia digital. Kecepatan internetnya bisa diakselarasi namun data internetnya, jauh lebih hemat.

Jaswar bahkan sudah menerapkannya di bidang pendidikan. Di kampusnya, data internet ketika mengakses zoom meeting misalnya, bisa diminimasi namun dengan kualitas internet yang cukup bagus.

Penggunaan “AI” di saat zoom meeting mampu menghemat hingga menjadi 9 GB/semester dari yang sebelumnya di 849 GB/semester. Dalam skala nasional. Ini bakal lebih bisa menghemat uang negara jika diterapkan.

Penyediaan Infrastruktur TIK harus berorientasi bagi terciptanya layanan digital yang efektif dan efisien, tegas Prof.Jaswar Koto Wakil Rektor I universitas Insan Cita Indonesia ( UICI)

Eddy Aswari, MM dalam diskusinya memaparkan bahwa pemerintah harus bersinergi dengan semua stackholder agar program digital sampai pelosok negeri tercapai.

Peserta lain memberikan tanggapan, Zulhajji Siregar, S.Sos dari Tapanuli Selatan menegaskan bahwa Digitalisasi Di Tabagsel belum terkoneksi sampai pendalaman pedesaan, sekarang sudah 3G, 4G t api didesa belum 1G belum juga.

Senada, Ketua Komisi A DPRD Sumut Hendro Susanto berpendapat, diskusi nasional ini sangat menarik, karena berbicara kepentingan umum. “Kami dari DPRD Sumut siap mengawal dan mendukung program digitalisasi sampai pelosok negeri oleh Kemenkominfo RI, khususnya di Sumatera Utara,” ujarnya.

Acara Diskusi Nasional dibawa oleh Moderator Muhammad Radius Anwar, Protokol Henny Pratiwi, SP, MM Dan Do’a oleh Ustad Muhammad Mas’ud Silalahi, S SOS.

“Manifes Indonesia akan menggelar webinar nasional lanjutan, ” lanjut papar Leriadi. (rel)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *