Waspada
Waspada » BMKG: Waspadai Kebakaran Hutan
Medan

BMKG: Waspadai Kebakaran Hutan

MEDAN (Waspada): Musim panas atau kemarau kini sudah memasuki wilayah Sumatera Utara (Sumut) juga khususnya Kota Medan. Hal ini berdasarkan pengamatan Badan Meteorologi Klimatologi Geofisika Sumut (BMKG Sumut) pada Minggu (21/5).

“Memang wilayah Sumut pada umumnya, kita  sudah memasuki musim kemarau. Jadi memang potensi hujan untuk wilayah Sumut, Medan khususnya  untuk 2 hari kedepan kita prediksikan cuaca cerah berawan,” kata petugas Prakiraan Cuaca BMKG Medan,
Defri Mandoza.
Namun disebutkannya kalau untuk kondisi yang perlu diwaspadai saat ini adalah tingginya suhu udara dan juga potensi terjadinya kebakaran hutan.
Berdasarkan pantauan Deteksi Hotspot (titik api) dengan menggunakan sensor MODIS pada satelit TERRA dan AQUA memberikan gambaran lokasi wilayah yang mengalami kebakaran hutan itu
terpantau 8 titik api diantaranya Humbang Hasundutan, Mandailing Natal, Tapanuli Selatan.
Bahkan di wilayah titip api ini juga akan berdampak munculnya kabut asap namun untuk di wilayah Medan  masih aman.
“Kabud asap itu akan terjadi di wilayah kebakaran. Hal ini tidak terlalu signifikan begitu juga penyebarannya juga tidak terlalu besar. Namun untuk diwilayah sekitarnya harus ada antisipasi atau waspada,” tegas Defri Mandoza.

Suhu Maksimum

Saat ini berdasarkan pengamatannya, suhu maksimum di wilayah Sumut dan Medan masih di kisaran 25-33 derajat Celcius yang dilihat mulai pagi hari.
Sehingga kalaupun cuaca panas masih dikatakan belum ekstrim namun diprediksinya cuaca panas akan terjadi pada akhir Maret masih kemarau.
Menanggapi ini, Kepala Dinas (Kadis) Kehutanan Provinsi Sumatera Utara (Sumut), Ir. Herianto, Msi mengaku saat ini pihaknya mengakui Sumut memang memasuki musim kemarau yang dikhawatirkan akan terjadi kebakaran hutan di sejumlah rawan titik api di Sumut.
“Saat ini kita sudah mulai memasuki panas atau kemarau, kita berkoordinasi dengan Daerah Operasi  Pengendalian Kebakaran Hutan yang dikomandoi oleh Kementerian Kehutanan yang ada di Sumut,” ungkap Herianto yang baru saja dilantik oleh Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi ini.
Kedua kita juga sudah punya peraturan Gubernur (Pergub) tentang koordinasi pengendalian kebakaran hutan di Provinsi Sumut atau sudah ada satgas sehingga kalau Kebakaran hutan itu yang bertanggung jawab itu adalah BPBD Sumut. Karena kebakaran itu tidak hanya terjadi dikawasan hutan tetapi juga terjadi di lahan milik masyarakat ini.
Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa terkait potensi kebakaran ini  semua instansi akan dilibatkan baik pemerintah Provinsi, Daerah, kabupaten dan aparat dari Polri-TNI.
“Saat ini kita sudah bahu membahu melihat potensi titik api pada setiap harinya bahkan setiap jam dan detik. Yang diawasi itu diantaranya seputar Danau Toba di 7 kabupaten kota Simalungun, Samosir, Humbang Hasundutan dan Dairi,” paparnya.
Bahkan untuk menyikapi ini, Senin (22/2) ia akan mendampingi Gubernur dengan Forkopimda untuk rapat koordinasi pengendalian kebakaran hutan nasional yang dipimpin oleh Presiden RI secara nasional melalui virtual.

Sigap

Sementara itu, bukan hanya rawan pada hutan di Sumut, musim kemarau ini juga rawan pada pertanian di Sumut jika petani tidak sigap dalam menyikapi musim kemarau ini.
Berdasarkan ungkapan Kabid Hortikultura Dinas TPH Sumut, Bahruddin Siregar bahwa Musim kemarau buat sebagian tanaman cuaca ini cukup bagus namun itupun perlu penjagaan ekstra semisal katanya harus terus melakukan pengairan agar tidak terjadi kekeringan lahan.
“Kalau suhu masih dikisaran maksimum 30 derajat masih bagus buat tanaman. Tapi kalau airnya gak ada itu yang susah dan berpengaruh bisa timbul kekeringan,” katanya.
Di Sumut dikatakannya ada daerah yang sudah mulai kemarau . Makanya pihaknya dari dinas mempersiapkan pompanisasi .
“Untuk pertanian di wilayah timur harus berhati-hati, Seperti Tapsel, Taput inikan bahaya . Kita juga sudah membagi pompa kepada petani,” ujarnya.
Sehingga ia  meminta agar segera berbenah jangan begitu musim kering pompanya tidak dapat digunakan. Adapun fungsi pompa yang dimaksud pada musim hujan dapat sebagai menyedot air di lahan pertanian kalau musim kering bisa digunakan untuk membasahi lahan lahan yang kering. Makanya sangat penting para petani mempersiapkan pompanisasi itu,” katanya lagi.
Hal terparah dikatakannya bisa terjadi  gagal panen di musim kemarau ini. Tanaman yang dikhawatirkan adalah tanaman padi.
“Saya sarankan petani menanam padi Gogo (Padi gogo adalah padi yang ditanam di tanah kering dan bukan sawah yang tergenang air)
karena jenis ini tidak terlalu membutuhkan air yang banyak hanya saja produksinya rendah. Kalau biasa 7 ton kalau padi Gogo bisa 5 dan 6 ton,” ucapnya.
Ia menghimbau kepada seluruh Kabupaten Kota harus siap dan terjun kelapangan untuk melihat daerah mana saja  yang rawan pada musim kemarau ini. (cbud)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2