BKKBN Sumut Gelar Webinar Stunting Bersama 100 API

BKKBN Sumut Gelar Webinar Stunting Bersama 100 API

  • Bagikan
SEBAGIAN pembicara dalam kegiatan webinar. BKKBN Sumut gelar webinar stunting bersama 100 api. Waspada/ist
SEBAGIAN pembicara dalam kegiatan webinar. BKKBN Sumut gelar webinar stunting bersama 100 api. Waspada/ist

MEDAN (Waspada): Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menggelar webinar 100 profesor berbicara stunting secara nasional dan maraton bersama Asosiasi Profesor Indonesia (API) di seluruh perwakilan provinsi selama 3 hari dimulai tanggal 5-8 Juli 2021.

Melalui zoom meeting dan live youtube BKKBN Perwakilan Sumatera Utara, Rabu(7/7) bersama ketiga narasumber yaitu Prof. Drs. Heru Santosa, M.S, Ph.D , Prof. Dr. Syawal Gultom, M.Pd dan Prof. Dr. Ir. Albiner Siagian, BKKBN Perwakilan Provinsi Sumatera Utara menggelar webinar 100 profesor berbicara dengan tema “Langkah awal pencegahan dan penurunan stunting di masyarakat” tingkat provinsi Sumatera Utara. Dalam webinar ini, peserta ditargetkan sebesar 300 orang yang terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa, SDM aparatur dan tenaga pengelola program bangga kencana di tingkat kab/kota
Ketua penyelenggara webinar yaitu Koordinator Bidang pelatihan dan pengembangan BKKBN Perwakilan Sumatera Utara, Dra. Tengku lafalinda, dalam laporannya,mengharapkan webinar kali ini dapat memberikan tambahan wawasan dan pengetahuan bagi kita terkait dengan stunting
“Saya berharap kegiatan ini menjadi tambahan pengetahuan bagi kita pada seluruh lini masyarakat sehingga kita dapat mengerti secara utuh apa itu stunting dan bagaimana rangkaian pencegahan dan penurunannya sehingga dapat diaplikasikan oleh masyarakat utamanya pada level keluarga” harapnya

Tenaga Muda

Kepala BKKBN RI,Dr. (HC), dr. Hasto Wardoyo, Sp.OG (K) berharap pemerintah dan seluruh lini masyarakat bekerjasama dalam menyiapkan betul tenaga muda Indonesia yang berkualitas berdaya saing yang mempunyai peranan penting dalam menciptakan keluarga yang sejahtera

“Tugas kita saat ini adalah menyiapkan betul tenaga muda yang berkualitas berdaya saing karena kalau tidak, maka bonus demografi akan lewat begitu saja tanpa kita bisa memetik atau mentranformasikannya,”ujarnya.

Dijelaskannya, karena saat ini yang mempunyai peranan penting dalam kesejahteraan adalah mereka yang muda. Mereka yang akan menjadi pasangan hidup baru dan melahirkan generasi baru, mereka itu bisa menjadi penentu tidak menikah pada usia muda, tidak putus sekolah kemudian kehamilan tidak terlalu banyak dan tidak berulang-ulang sehingga juga dapat bekerja dengan baik dan tidak penggangguran.

“Inilah menjadi tujuan utama kita untuk menciptakan keluarga yang bebas stunting. Harapannya nantinya kajian itu menjadi referensi yang baik untuk membuat suatu kebijakan. Saya yakin bahw ketika pemerintah dalam hal ini BKKBN dapat mengambil Langkah-Langkah untuk membuat kebijakan yang tepat dengan berbagai pertimbangan.Tantangan penurunan stunting menuju 14% di tahun 2024 sungguh luarbiasa besar,”pungkasnya.

Deputi Lalitbang BKKBN RI, Prof. drh. M. Rizal Martua Damanik, M.RepSc, Ph.D mendapatkan kesempatan untuk memberikan arahan dan penjelasan terkait stunting.

Kata dia, stunting saat ini merupakan ancaman terhadap kualitas sumber daya manusia, Indonesia masih punya pekerjaan rumah mendasar dalam peningkatan kualtas SDM. Data Riskesdas menunjukkan satu dari tiga anak indonesia mengalami stunting dan saat ini sudah dipetakan wilayah yang angka prevalensi stunting yang tinggi yaitu disektiar 6600-an desa yang tersebar di 360 kabupaten/kota.

Secara garis besar intervensi yang disiapkan dalam upaya percepatan penurunaan stunting dapat dibagi menjadi 3 fase yaitu fase calon pasangan usia subur yang memiliki peran strategis untuk memastikan kondisi calon pengantin berada dalam kondisi ideal untuk menikah dan hamil (fase pranikah), fase hamil dan fase pasca salin.

“Upaya untuk menurunkan angka stunting harus dilakukan secara timbal balik, yaitu melalui hubungan secar vertical maupun horizontal dengan pemerintah dan masyarakat. Derajat penurunan angka stunting dipengaruhi oleh beberapa factor yaitu, lingkungan yang sehat, pendiidkan dan kerjaan dan perilaku hidup sehat, pelayanan Kesehatan,”tambah Rizal.

Plt Kaper BKKBN Sumut, Dra Rabiatun Adawiyah, mengharapkan kegiatan ini dapat memberikan tambahan wawasan bagi kita dan seluruh keluarga Indonesia terkait dengan stunting. (m22)

  • Bagikan