Waspada
Waspada » Beli HP Dengan Upal, Pekerja Tower Ditangkap Polisi
Medan

Beli HP Dengan Upal, Pekerja Tower Ditangkap Polisi

KAPOLSEK Patumbak Kompol Arfin Fahreza memperlihatkan tersangka pengedar uang palsu dan barang buktinya, Selasa  (1/12) di Mapolsek Patumbak. Waspada/Ist
KAPOLSEK Patumbak Kompol Arfin Fahreza memperlihatkan tersangka pengedar uang palsu dan barang buktinya, Selasa  (1/12) di Mapolsek Patumbak. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Seorang pekerja pembangunan tower diamankan ke Mapolsek Patumbak setelah membeli handphone (HP) bekas pakai dengan uang palsu (upal).

Tersangka berinisial BH alias B, 34, warga Jalan Delitua, Gang Sei Deli, Kelurahan Suka Makmur, Kec. Delitua, Kabupaten Deliserdang.

Kapolsek Patumbak Kompol Arfin Fachreza kepada wartawan, Selasa  (1/12) menjelaskan, pengungkapan kasus itu berawal saat korban (belum diketahui identitasnya) menjual HP Vivo Y17 melalui aplikasi OLX seharga Rp1.750.000 pada Rabu (25/11).

“Saat itu tersangka menawarnya menjadi Rp1.700.000. Kemudian keduanya sepakat bertemu di Jalan Garu VI Gang Merbuk, Medan Amplas.

Setelah menerima uang dari tersangka, korban curiga dan memanggil temannya untuk memeriksa uang tersebut,” ujar Arfin.

Setelah diperiksa, ternyata uang itu palsu. Korban dan temannya kemudian mengamankan tersangka berikut 19 lembar uang palsu pecahan seratus ribu. Petugas yang mendapat laporan kemudian mengamankan tersangka ke Polsek Patumbak.

Keesokan harinya, Unit Reskrim Polsek Patumbak melakukan pengembangan ke rumah tersangka dan kembali mengamankan 17 lembar uang palsu pecahan seratus ribu.

Selain 36 lembar uang palsu pecahan seratus ribu, polisi turut mengamankan barang bukti lainnya berupa mesin printer merk Canon type MG2570 S, penggaris besi, pisau cutter, lima suntik printer dengan isi tinta berbagai warna, satu rim kertas ukuran A4, lima botol kecil tinta berbagai warna dan satu cartridge Canon.

Tersangka, kata Kapolsek akan dijerat Pasal 26 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) Jo Oasal 36 ayat (1), ayat (2) dan ayat (3) UU RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan pidana penjara paling lama 15 tahun dan pidana denda paling banyak Rp50 miliar.

Sementara, tersangka mengaku membuat sendiri uang palsu itu. Dia mempelajari cara membuat uang palsu dari YouTube.

“Belajar dari YouTube. Saya menggunakan uang palsu itu untuk kebutuhan sehari-hari,” katanya. (m10)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2