Waspada
Waspada » Belajar Daring Tidak Menjamin Hasil Baik
Medan

Belajar Daring Tidak Menjamin Hasil Baik

DEKAN Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr Arifin Saleh Siregar. Belajar daring tidak menjamin hasil baik. Waspada/Ist
DEKAN Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr Arifin Saleh Siregar. Belajar daring tidak menjamin hasil baik. Waspada/Ist

MEDAN (Waspada): Penerapan belajar di rumah melalui sistem dalam jaringan atau daring) harus diakui tidak menjamin hasil baik.

Belajar daring tidak menjamin hasil baik, karena minimnya infrastruktur dan sulitnya mengawasi mana mahasiswa/siswa yang serius mengikuti pelajaran, dan mana yang tidak.

Demikian dikatakan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisip) Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr Arifin Saleh Siregar (foto).

Dia merespon ketika diminta pendapatnya terkait belajar daring selama pandemi Covid-19, Senin (15/6).

Arifin Saleh Siregar mengatakan, pembelajaran daring lebih banyak bersifat teoritis dan minim praktik.

Karena tidak dimungkinkan adanya interaksi langsung dengan mahasiswa/siswa.

Apalagi, bagi mereka yang tinggal di lokasi yang infrastruktur komunikasinya masih kurang baik, tentu akan kesulitan untuk mengakses internet.

Kemudian, terlalu banyak distraksi yang bisa mengganggu konsentrasi mahasiswa atau siswa saat belajar.

Karena itu, sistem belajar daring tidak maksimal mengantarkan materi belajar kepada mahasiswa atau siswa.

Begitu juga sebaliknya, mahasiswa/siswa tidak akan maksimal menyerap materi yang disampaikan dosen dan guru.

Pengawasan terhadap anak didik juga pasti tidak maksimal. Belajar daring saat ini hanya bermanfaat mengurangi penyebaran Covid-19. ‘’Disamping itu, kuliah daring juga membosankan,’’ katanya.

Capaian pembelajaran, khususnya bagi mahasiswa per mata kuliah yang sudah disusun sebelumnya juga susah diwujudkan. Ini tentu akan berdampak terhadap kompetensi yang seharusnya dikuasai mahasiswa.

Di samping itu, kata Arifin Saleh, kuliah daring tidak tepat untuk kuliah yang ada praktikum laboratorium dan praktikum lapangan.

Lebih-lebih yang harus menggunakan alat, seperti mesin atau pertanian. Termasuk, yang berhubungan atau berkomunikasi dengan masyarakat dalam rangka problem solving.

Solusinya, sambung Arifin Saleh, akan lebih baik bila dilakukan perpaduan antara belajar daring dengan tatap muka. Boleh 60 persen daring, 40 persen tatap muka. Atau sebaliknya, atau diatur sedemikian rupa.

Psikologi Anak Didik

Hal senada disampaikan Dosen Universitas Medan Area (UMA) Indra Muda Hutasuhut. Menurutnya, belajar tatap muka lebih baik.

Sebab, penyampaian materi dan emosional oleh dosen atau guru akan lebih berpengaruh pada psikologi anak didik.

Begitu juga tingkat intelegensi atau kemampuan anak untuk menangkap ilmu yang diberikan walaupun dengan berbagai media, sebagai sarana belajar tentunya tidak sama.

Bagi anak yang berasal dari keluarga mampu, mungkin ini bisa ada harapan keberhasilannya.

“Pertanyaannya, bagaimana dengan anak-anak yang ada di kampung dan pedalaman,” tanyanya.

Kata Indra Muda, pada dasarnya, pandemi Covid-19 ini sangat berpengaruh besar pada dunia pendidikan.

Karenanya harus ada pemikiran brilian dari pemerintah untuk mendorong proses ini, sehingga sistem pencegahan Covid-19 dilakukan secara intens, cepat, akurat.

Dan bisa memberi dampak yang cukup memberi jaminan kepada generasi muda.

Sejumlah orang tua yang ditemui Waspada juga mengakui, jika selama pandemi Covid-19 ini, proses belajar anak, baik mulai dari tingkat SD sampai perguruan tinggi tidak maksimal.

”Selain biaya paket data membengkak, anak-anak juga belajarnya kurang serius,” sebut Gunawan Pulungan, warga Medan Tuntungan.

Hal serupa juga disampaikan Robert Tarigan, warga Medan Selayang.

”Selama Covid-19 ini, anak saya tidak pernah lagi baca buku, kalau pun ada belajar daring, bisa dihitung jari.

Pokoknya proses belajar anak-anak tidak sesuai harapan, saya khawatir kalau begini terus kecerdasan anak-anak akan menurun,” katanya.

Meski demikian, kedua orangtua tersebut, mengaku lebih baik juga belajar anak-anak menurun, dari pada kena Covid-19. ”Nyawa lebih berharga dari apapun,” kata keduanya. (m19)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2