Waspada
Waspada » Ayah Perkosa Anak Layak Dihukum Mati
Medan

Ayah Perkosa Anak Layak Dihukum Mati

DEKAN Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut, Dr Ardiansyah, MA. Ayah perkosa anak layak dihukum mati. Waspada/ist
DEKAN Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut, Dr Ardiansyah, MA. Ayah perkosa anak layak dihukum mati. Waspada/ist

MEDAN (Waspada):  Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut, Dr Ardiansyah, MA  (foto) menyebutkan, perbuatan seorang ayah yang perkosa anak kandungnya layak dihukum mati.

“Perbuatan pelaku ini sangat bejat dan dapat dihukum dengan hukum mati. Karena si pelaku melakukan perzinaan adalah muhshan (telah menikah). Dalam syariat Islam bahwa pelaku perzinaan yang telah menikah dengan nikah yang sah dihukum dalam syariat Islam dengan hukum rajam. Yaitu dilempar pakai batu hingga mati atas pelaku perzinaan tersebut,” kata Dekan Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sumut, Dr Ardiansyah, MA (foto), Selasa (9/2).

Dia menjawab maraknya kasus pemerkosaan oleh ayah terhadap anak kandung, akhir-akhir ini dihimpun dari beberapa media sepanjang bulan Januari ada 5 kasus terungkap di Medan, Deliserdang,Langkat dan Tanjungbalai dan Sibolga.

“Banyaknya kasus seperti ini menjadi peristiwa akhir zaman yang membuktikan semakin jauhnya umat dari agamanya. Oleh karena itu, semakin serius kita untuk memperhatikan pemakaian internet di tengah tengah masyarakat kita yang dengan mudahnya mengakses gambar dan video pornoh dan cabul,” ungkapnya.

Kondisi Ekonomi

Ditambahkannya, perilku kejahatan seksual itu bisa juga dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan tekanan sosial budaya ditambah lagi dengan jauhnya kehidupan dari nilai nilai agama dan adat menjadi penyebab kerusakan tatanan keluarga dan masyarakat secara umum.

Ditambahkannya, saat ini sangat diperlukan peran dan perhatian semua pihak kepada individu. Kita menghimbau peran serta semua pihak untuk berkontribusi dalam mengedukasi masyarakat kita khususnya di bidang agama.

Oleh karena itu, pengajian dan majelis ta’lim mestilah terus dilaksanakan. Masa pandemi ini kegiatan dangan tetap mematuhi protokol kesehatan. Selain itu bisa juga dengan kegiatan pengajian secara daring terus digalakkan.

“Penyuluh agama dan para muallim serta guru mengaji haruslah berperan aktif dalam memberikan bimbingan dan penerangan berkenaan dengan ajaran agama di tengah tengah masyarakat,” ujarnya.

Tentu imbal balik dari itu, sambung Ardiansyah, walaupun para muallim kita tidak mengharapkan insentif dari kewajiban tersebut. Tetapi hendaklah pemerintah memberi dukungan terhadap petugas keagaamaan tersebut.

“Dengan kata lain, kita mengharapkan perhatian pemerintah kepada guru agama dan muallim di daerah-daerah agar mereka lebih fokus dalam memberikan bimbingan kepada umat. Sebab, merekalah para guru agama dan ustadz kita sebagai lentera di tengah tengah masyarakat yang sedang kegelapan ini,” ungkapnya.(m22)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2