Waspada
Waspada » ANKM-I Minta Wali Kota Perhatikan Kondisi Nelayan Medan Utara
Medan

ANKM-I Minta Wali Kota Perhatikan Kondisi Nelayan Medan Utara

KAPAL-KAPAL nelayan tradisional tertambat di tangkahan nelayan karena sulitnya mendapatkan solar subsidi dan merajalelanya aktivitas kapal-kapal pukat trawl di perairan Belawan dan Selat Malaka. ANKM-I minta Wali Kota yang baru perhatikan kondisi nelayan medan utara. Waspada/Ist
KAPAL-KAPAL nelayan tradisional tertambat di tangkahan nelayan karena sulitnya mendapatkan solar subsidi dan merajalelanya aktivitas kapal-kapal pukat trawl di perairan Belawan dan Selat Malaka. ANKM-I minta Wali Kota yang baru perhatikan kondisi nelayan medan utara. Waspada/Ist

BELAWAN (Waspada): Ketua Aliansi Nelayan Kecil Modern-Indonesia (ANKM-I) Sumatera Utara Rahman Gafiqi SH  mengharapkan Wali Kota Medan yang baru dilantik memperhatikan kondisi nelayan tradisional di pesisir Medan Utara yang semakin termarjinalkan.

Sulitnya para nelayan tradisional mendapatkan bahan bakar minyak (BBM) solar bersubsidi dan aktivitas kapal-kapal pukat trawl yang merajalela hingga membuat penghasilan nelayan sangat minim dan menderita.

“Sudah bertahun-tahun nelayan di Medan Utara ini menderita sementara para pemilik kapal-kapal pukat trawl dan pengelola bisnis perikanan semakin kaya raya.

Ironisnya, permasalahan dan penderitaan nelayan tidak pernah mendapat perhatian serius dari pemerintah,” tegas Rahman Gafiqi kepada Waspada, Rabu (3/3).

Rahman menyebutkan,  para nelayan kecil dan tradisional sulit mendapatkan minyak solar subsidi sebagai bahan pokok untuk melaut ditambah lagi.

Di mana zona-zona tangkap nelayan tradisional semakin hari semakin hancur mulai dari beroperasinya kapal-kapal berskala besar yang menggunakan alat tangkap yang dilarang UU No 45 tahun 2009 tentang perikanan  seperti kapal-kapal pukat trawl, bauke hami dan kapal-kapal pukat teri lingkung yang melakukan penangkapan ikan di wilayah tangkap nelayan kecil berakibat terus berkurangnya hasil tangkap para nelayan.

“Akibat semakin kompleksnya permasalahan para nelayan tradisional tentu saja membuat perekonomian nelayan tradisional terus semakin berkurang. Bagaimana para nelayan bisa menyekolahkan anak-anaknya hingga keperguruan tinggi jika  hasil tangkap nelayan dan kebutuhan pokok nelayan tak dapat dibeli dengan harga subsidi,” tutur Rahman.

Sumber Kehidupan

Oleh sebab itu, tambah Rahman, ANKM-I Sumut berharap kepada Wali Kota Medan yang baru agar segera memperhatikan nasib  nelayan tradisional di pesisir Medan Utara yang selama ini  terus terdzholimi oleh keangkuhan dan ketamakan para pengusaha yang mengeruk hasil laut yang menjadi rumah dan sumber kehidupan bagi nelayan itu sendiri.

“Harapan kami juga agar Wali Kota Medan yang baru ini membuat  terobosan baru terutama membuat Rumpon (rumah ikan) di zona-zona tempat para nelayan melakukan penangkapan ikan agar menjaga kelestarian laut dan menjadikan lahan baru bagi daerah tangkap nelayan tradisional khususnya nelayan pesisir utara Kota Medan.

Selain itu, tambah Rahman, sudah bertahun-tahun nelayan tradisional sulit mendapatkan minyak solar subsidi dan tidak adanya stasiun pengisian bahan bakar nelayan (SPBN)  bagi 20 ribu nelayan kecil khususnya nelayan pesisir utara Kota Medan.

“Hanya para  pengusaha kapal pukat trawl dan pengelola perikanan yang mendapatkan solar subsidi dengan partai besar sementara nelayan kecil dan nelayan tradisional sulit mendapatkannya,” sebut Rahman. (m27)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2