Masalah Sampah Tak Menjadi Perhatian Pemerintah

P. BRANDAN (Waspada): Indonesia termasuk lima besar negara di dunia dalam hal problem membuang sampah ke sungai dan laut. Target pemerintah mengurangi sampah plastik sampai 70 % hingga tahun 2025 sulit tercapai karena tingkat kesadaran warga menjaga lingkungan masih rendah.

Masalah Sampah Tak Menjadi Perhatian Pemerintah
Pinggiran Sungai Pelawi di Kec. Babalan menjadi tempat pembuang sampah. Waspada/Asrirrais

Seperti halnya di Kec. Babalan, masyarakat seenaknya membuang sampah ke pinggiran Sungai Pelawi. Kebiasan buruk yang berdampak tercemarnya lingkungan ini sudah berlangsung selama bertahun-tahun, tapi tak mendapat perhatian dari aparat pemerintahan. Aparat pemerintahan setempat terkesan tutup mata.

Tak hanya di Sungai Pelawi, tapi masyarakat juga terkesan bebas membuang sampah di Sungai Babalan, termasuk di sepanjang Parit Kanal yang dibangun pada masa penjajahan kolonial Belanda. Berbagai jenis sampah yang mencemari lingkungan ini seakan sudah menjadi pemandangan biasa di daerah ini.

Pantauan Waspada beberapa hari lalu, di ujung jembatan pinggiran Sungai Pelawi terlihat sampah plastik dan beragam jenis sampah, baik berasal dari limbah rumah tangga maupun sampah dari para pedagang menumpuk, bahkan volumenya semakin hari semakin besar.

Jika melintas di lokasi ini, aroma busuk terasa cukup menyengat hidung. Selain berpotensi mencemari air sungai yang banyak digunakan warga untuk berbagai keperluan, sampah ini dapat membahayakan kesehatan masyarakat, sebab bakteri terus berkembangbiak di lokasi ini.

Salah seorang aktivis lingkungan di Langkat, Azhar Kasim, kepada Waspada, Kamis (19/9) mengatakan, impossible target pemerintah untuk mengurang sampah di laut dan sungai sampai 70% hingga tahun 2025 dapat tercapai jika semua pihak tak ada kepedulian menjaga lingkungan.

Ia merasa prihatin mencermati problem klasik tentang sampah di kota ini. Selain mengkritik kebiasan masyarakat membuang sampah tidak pada tempatnya, aktivis lingkungan itu juga menyesalkan kurang respeknya aparat kecamatan, lurah dan Kades dalam masalah ini.

"Label P. Brandan kota kumuh dan jorok harus dihilangkan. Masyarakat harus diberi edukasi untuk menjaga lingkungan," ujarnya seraya meminta kepada Wakil Bupati Langkat, Syah Apandin, yang notabene putra P. Brandan agar lebih fokus memperhatikan masalah ini.

Azhar juga mendesak Bupati Langkat Terbit Rencana untuk memberi penekanan kepada camat, lurah dan Kades yang dinilai kurang peduli terhadap problem sampah yang sudah sangat mengganggu lingkungan. "Ini adalah pesoalan serius yang harus segera diatasi," tukasnya. (a02)