Mari Menghijaukan Danau Toba

Oleh Tetty PH Sihombing, S.Hut, M.Si dan Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP

Mari Menghijaukan Danau Toba

Lahan kritis adalah lahan yang tidak dapat berfungsi sebagaimana mestinya sebagai media tata air dan media produksi. Lahan kritis menyebabkan air hujan yang turun ke permukaan tanah menjadi aliran permukaan yang langsung menuju sungai, danau, waduk dan atau laut. Jika volume air permukaan sangat besar, maka bisa berdampak pada terjadinya banjir dan longsor. Sementara air yang masuk ke tanah sangat sedikit yang menimbulkan terjadinya kekeringan pada musim kemarau karena kandungan air tanah sangat sedikit. Timbulnya lahan kritis disebabkan karena pengelolaan lahan tidak sesuai dengan peruntukannya.

Kerusakan hutan dan lahan juga terjadi disekitar DTA Danau Toba. Hal ini dapat dilihat dari lahan kritis yang ada di DTA Danau Toba seluas 29.611 Ha (KLHK, 2018). Kerusakan DTA Danau Toba disebabkan oleh alih fungsi lahan dari kawasan bervegetasi menjadi lahan pertanian dengan sistem pengelolaan lahan land clearing, khususnya pada lahan-lahan dengan kondisi topografi yang berlereng curam sampai terjal dan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. 

Permasalahan lahan kritis di DTA Danau Toba perlu segera ditangani dengan langkah cepat dan komprehensif. Pembangunan bidang Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) tahun 2015-2019 telah memprioritaskan pemulihan Danau Toba, dimana Danau Toba merupakan satu dari 15 danau prioritas di Indonesia yang harus direstorasi. Untuk itu, penanganan Danau Toba harus dilakukan secara serius oleh semua pihak.

Salah satu bentuk wujud nyata yang telah dilaksanakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) dalam mengatasi lahan kritis adalah melalui kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan. Kegiatan Rehabilitasi Hutan dan Lahan (RHL) adalah upaya untuk memulihkan, mempertahankan, dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktivitas dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga.

Bentuk nyata pemulihan hutan dan lahan rusak dilakukan melalui kegiatan penanaman pada lahan kritis dan pembuatan bangunan sipil teknis. Penanaman dilakukan di dalam kawasan hutan lewat kegiatan reboisasi dan agroforestry sedangkan di luar kawasan hutan dilakukan melalui kegiatan penghijauan lingkungan, hutan rakyat dan agroforestry.

Permasalahan yang sering terjadi pada pelaksanaan kegiatan RHL adalah adanya konflik budidaya tanaman dimana masyarakat lebih memilih menanam tanaman monokultur dengan umur tanaman berdaur pendek (tanaman holtikultura). Untuk mengatasinya, maka perlu ada komoditas tanaman hutan/perkebunan yang mempunyai fungsi ekologis dan ekomoni tinggi untuk menggantikan tanaman holtikultura. 

Agar pemulihan hutan dan lahan berhasil, maka pemilihan jenis tanaman harus dipertimbangkan, karena tanaman yang ditanam selain dapat memberikan dampak dari aspek lingkungan (ekologi) juga harus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat sekitar. Tanaman yang dipilih harus merupakan tanaman yang dapat meningkatkan ekonomi masyarakat sekitar sehingga ada rasa memiliki dari masyarakat dan mau menjaga serta memelihara tanaman yang ditanam. 

Salah satu jenis tanaman yang ditanam dalam kegiatan RHL selama ini adalah macadamia. Hanya saja, jenis tanaman macadamia yang tumbuh dan berkembang di sekitar DTA danau Toba saat ini adalah jenis tanaman yang buahnya beracun sehingga tidak memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Saat ini telah dikembangkan jenis macadamia yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekitar. Adapun beberapa jenis tanaman macadamia yang dapat menghasilkan buah yang dapat di makan adalah Macadamia Tetrafolia dan Macadamia Integrifolia.  Macadamia memiliki banyak sifat yang sangat mendukung pelaksanaan kegiatan RHL, yaitu :

Tanaman lokal
Umumnya masyarakat di sekitar DTA Danau Toba telah mengenal macadamia (jenis lokal tetapi buahnya beracun). Namun, saat ini tanaman yang akan dikembangkan adalah macadamia yang tidak beracun, dapat dimakan dengan rasa yang gurih dan harganya mahal.

Faktor iklim dan topografi
Tanaman macadamia sangat sesuai tumbuh pada suhu rendah dan dataran tinggi sehingga cocok untuk penanganan hulu DAS, khususnya di DTA Danau Toba.

Tanaman tahan kebakaran
Tanaman macadamia bersifat evergreen dan tahan kebakaran sehingga cocok untuk ditanam kawasan Danau Toba yang sangat rawan kebakaran. Tanaman macadamia dapat berperan melindungi lahan dari bencana erosi, dan juga berperan meningkatkan penyerapan air ke dalam tanah menjadi air tanah sehingga berperan mencegah terjadinya kekeringan pada musim kemarau. 
 

Faktor sosial ekonomi
Tanaman macadamia sudah bisa di panen mulai umur 6 tahun. Dari 1 (satu) pohon  dalam 1 (satu) tahun bisa menghasilkan 20-29 kg buah dengan harga kacang 1 (satu) kg adalah antara Rp.300.000,- sampai Rp.500.000,-. Masyarakat dapat memperoleh manfaat ekonomi lebih dari lahannya (±200 juta-1 milyar per ha), pendapatan kotor pada usia tanaman >6 tahun melebihi budidaya tanaman hortikultura, bahkan mempunyai prospek ekspor.

Dukungan destinasi wisata
Kacang macadamia akan menjadi produk unggulan kuliner kawasan Danau Toba.

KLHK memperingati World Day to Combat Desertification (WDCD) tanggal 27 Juni 2019 di Desa Huta Ginjang Kecamatan Muara Kabupaten Tapanuli Utara sekaligus Launching Penanaman Macadamia dengan tujuan pengembangan tanaman macadamia di wilayah DTA Danau Toba dan sekitarnya. Kegiatan Launching Penanaman Macadamia ini sesuai dengan Misi ke 5 Gubernur Sumatera Utara yaitu “BERMARTABAT DENGAN LINGKUNGAN” Sehingga Pemerintah Provinsi Sumatera Utara mendukung dan menyerukan untuk menanam Macadamia di wilayah Sumatera Utara yang berpotensi sebagai habitat dari aspek iklim dan ketinggian tempat, khususnya di DTA Danau Toba. 

Dengan adanya gerakan penanaman, diharapkan merupakan salah satu solusi/terobosan terhadap permasalahan di DTA Danau Toba. Permasalahan lahan kritis di DTA Danau Toba dapat berkurang seiring dengan kemauan masyarakat mau menanam macadamia yang dapat memberikan manfaat bagi mereka. Jika pemulihan hutan dan lahan dapat berjalan sesuai dengan perencanaan pembagunan dalam bidang LHK maka pelahan-lahan kawasan di DTA Danau Toba dapat kembali hijau, kerusakan lahan berkurang, dan Danau Toba sebagai destinasi wisata lokal, nasional dan internasional dapat tercapai.

Ayo menanam di DTA Danau Toba.

Horas…Horas…Horas….

Penulis :
Tetty PH Sihombing, S.Hut, M.Si (Staf Fungsional PEH BPDASHL Asahan Barumun) dan Prof. Dr. Ir. Abdul Rauf, MP  (Guru Besar Pertanian USU)