LPS Pulang Kampus Sambangi Unimed Ajak Mahasiswa Jadi Milenial Cerdas Melek Keuangan

MEDAN (Waspada): 'LPS Pulang Kampus' merupakan sebuah kegiatan sosialisasi Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) di lingkungan kampus atas kerjasama LPS dan Fakultas Ekonomi (FE) Universitas Negeri Medan (Unimed), mengajak mahasiswa menjadi generasi milenial yang cerdas serta melek keuangan.

LPS Pulang Kampus Sambangi Unimed Ajak Mahasiswa Jadi Milenial Cerdas Melek Keuangan
DIREKTUR Group Manajemen Risiko LPS Dewi Gayatri bersama Wakil Rektor III Unimed Prof. Dr. Sahat Siagian, M.Pd, Wakil Dekan I FE Unimed Eko Wahyu Nugrahadi, para narasumber foto bersama, di sela pembukaan Kuliah Umum dan Seminar 'Milenial Cerdas Melek Keuangan', di Auditorium Unimed, Rabu (6/11). Waspada/Sugiarto

Kuliah umum dengan tema 'Milenial Cerdas Melek Keuangan' tersebut dibuka Wakil Rektor III Unimed Prof. Dr. Sahat Siagian, M.Pd, dan dihadiri Direktur Group Manajemen Risiko LPS Dewi Gayatri, Wakil Dekan I FE Unimed Eko Wahyu Nugrahadi, para dosen, serta diikuti seribuan mahasiswa FE Unimed, di Auditorium Unimed, Rabu (6/11).

Kegiatan tersebut bertujuan memberikan pengetahuan tentang mengelola keuangan dengan bijak dan meningkatkan kesadaran masyarakat khususnya mahasiswa mengenai keberadaan, fungsi dan tugas Lembaga Penjamin Simpanan sebagai bagian dari kestabilan sistem perekonomian Indonesia.

Direktur Group Manajemen Risiko LPS Dewi Gayatri selaku Keynote Speaker menjelaskan, LPS yang dibentuk berdasarkan UU No.24 tahun 2004 merupakan lembaga independen di bawah Presiden yang berfungsi menjamin simpanan nasabah dan turut aktif dalam memelihara stabilitas sistem perbankan sesuai dengan kewenangannya.

"LPS merupakan salah satu dari 4 pilar KSSK (Komite Stabilitas Sistem Keuangan) yang terdiri dari Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan terakhir LPS. LPS diberi amanah berdasarkan UU No.24 tahun 2004 sebagai Lembaga Penjamin Simpanan," ungkap Dewi Gayatri.

Disebutkan, dalam melaksanakan fungsinya LPS mempunyai tugas antara lain, merumuskan dan menetapkan kebijakan pelaksanaan penjaminan simpanan. Kemudian melaksanakan penjaminan simpanan, merumuskan dan menetapkan kebijakan dalam rangka turut aktif memelihara stabilitas perbankan, merumuskan, menetapkan dan melaksanakan kebijakan penyelesaian Bank Gagal (bank resolution) yang tidak berdampak sistemik, serta melaksanakan penanganan Bank Gagal yang berdampak sistemik.

Mengapa kegiatan ini dilaksanakan di kampus Unimed? Dewi Gayatri mengatakan, kampus merupakan salah satu mitra strategis LPS yang memiliki peran dalam pengembangan ilmu pengetahuan yang dapat mendukung peran dan fungsi LPS. Selain itu, mahasiswa sebagai komponen utama kampus berpotensi sebagai agen yang dianggap efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.

"Kenapa kita hadir di Unimed. Karena ternyata Unimed mempunyai bibit-bibit unggulan. Teman-teman mahasiswa inilah yang nantinya akan menjadi ujung tombak perekonomian negara. Kita juga ingin bergaul dengan teman-teman mahasiswa Unimed, karena mereka sebagai penyambung lidah pemerintah ke masyarakat," tegasnya.

Kalau ditanya mengapa kegiatan ini dilaksanakan di Medan, lanjutnya lagi, karena Kota Medan merupakan salah satu yang memiliki Dana Pihak Ketiga (DPK) tertinggi di Indonesia.

Dia menyebutkan, DPK yang terdiri dari tabungan, deposito, giro untuk bank umum di Medan sekitar Rp205,5 T. Sedangkan untuk Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Rp1,3 T. "Suatu jumlah yang tidak sedikit. Medan salah satu yang tertinggi DPK-nya di Indonesia, sehingga kewajiban kami untuk mensharing bagaimana DPK itu dijamin atau nggak oleh pemerintah. Itu salah satu alasan kita ke Medan," ujarnya.

Dewi Gayatri juga menyebutkan, berdasarkan data BPS, sekitar 33 persen penduduk Indonesia merupakan generasi milenial. Sehingga masa depan negara, masa depan Indonesia itu di tangan teman-teman mahasiswa saat ini. Milenial menjadi modal utama dalam membangun dan menjaga perekonomian.

Dia juga mengajak para milenial untuk melek keuangan atau memahami apa yang dimaksud dengan produk-produk perbankan, seperti tabungan, asuransi, dana pensiun, investasi, dan lainnya.

"Teman-teman mahasiswa harus tahu. Kita tidak bisa tidak memahami itu. Seperti simpanan minimal ada 4 yaitu tabungan, deposito, giro, dan sertifikat atau surat berharga. Kemudian investasi ada saham, ada reksadana dan lain-lain," jelasnya.

"Ini saatnya, teman-teman (mahasiswa) juga harus tahu. Khusus untuk simpanan, LPS menjamin uang nasabah itu, maksimal Rp2 miliar per nasabah per bank. Kalau lebih misalnya memiliki Rp10 M, bisa dibagi menjadi lima bank, jadi aman semuanya bisa dijamin. Tapi ada syaratnya yaitu 3T," tegasnya.

Sementara itu, dalam kegiatan LPS Pulang Kampus dengan format Talkshow yang interaktif dengan mahasiswa, menghadirkan narasumber yakni Kepala Divisi Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan LPS Fuad Zaen, Dosen FE Unimed Dr. Azizul Kholis, SE, MSi, CMA, CSRS, kemudian Financial Blogger, Windi Teguh, serta Moderator Dr. Mhd Yusuf Harahap, MSi (Dosen FE Unimed).

Pada kesempatan itu, Fuad Zaen menjelaskan, terkait dengan program penjaminan simpanan, LPS menjamin hingga Rp2 miliar per nasabah per bank dengan syarat 3T yaitu, Tercatat pada pembukuan bank, Tingkat bunga simpanan tidak melebihi bunga penjaminan LPS, dan Tidak melakukan tindakan yang merugikan bank.

"Jadi kalau uang kita misalnya lebih dari Rp2 miliar atau Rp10 miliar, dan ingin dijamin oleh LPS, maka uang tersebut bisa disimpan di bank-bank lainnya sesuai ketentuan dari LPS," ujarnya.

Dia mengatakan, kalau ditanya seberapa banyak uang LPS untuk menjamin simpanan nasabah di bank, Fuad Zaen menyebutkan, per September 2019 aset LPS mencapai Rp118,79 triliun. (m41)