Waspada
Waspada » Wawancara Refleksi Akhir Tahun Pengembangan Pariwisata Danau Toba Harus Terpadu
Lapsus

Wawancara Refleksi Akhir Tahun Pengembangan Pariwisata Danau Toba Harus Terpadu

JAKARTA (Waspada) : Danau Toba yang merupakan danau hasil letusan gunung berapi pada puluhan ribu tahun lalu telah dicanangkan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) salah satu dari empat destinasi pariwisata super prioritas .

Penetapan kawasan Danau Toba sebagai salah satu destinasi pariwisata super prioritas merupakan hal yang wajar mengingat keindahan alam Danau Toba yang terbentang di 7 kabupaten, yakni Simalungun, Toba Samosir, Tapanuli Utara, Humbang Hasundutan, Dairi, Karo, dan Samosir merupakan potensi yang besar sebagai destinasi pariwisata berkelas dunia.

Sejak penetapan 10 destinasi prioritas oleh Presiden Jokowi, perkembangan pembangunan di kawasan Danau Toba dari tahun ke tahun memang sudah terlihat , namun soal kordinasi antar pemerintah daerah belum dilakukan secara maksimal. Artinya pemerintah daerah di 7 kabupaten masih jalan sendiri sendiri.

Berbagai masukan dan tantangan untuk menjadikan Danau Toba sebagai destinasi wisata kelas dunia, sekaligus refleksi akhir tahun 2020 pemerhati dan pelaku pariwisata yang sangat vokal menyuarakan pariwiswata Danau Toba Ir Sanggam Hutapea, MM, saat diwawancarai secara khusus, Rabu (30/12) di Jakarta, memaparkan berbagai pandangan yang cukup mendasar untuk pengembangan dan pembangunan kawasan Danau Toba menuju wisata kelas dunia. . Berikut rangkuman wawancara beberapa wartawan dengan Ir Sanggam Hutapea,MM.

Pengembangan kawasan Danau Toba sebagai destinasi wisata internasional harus dilakukan secara terpadu dan terintegrasi di antara aspek pendukung lainnya.

Dia menilai akses ke Danau Toba di era pemerintahan Jokowi ini sudah sangat terbuka, karena pemerintah memberikan perhatian penuh dengan membangun jalan tol guna memperpendek jarak tempuh ke Danau Toba. Demikian juga dengan pembangunan bandara Internasional Silangit di Siborong-borong TapanuliUtara, yang makin mendekatkan wisata langsung menikmati keindahan kawasan Danau Toba.
Selain itu, Sanggam Hutapea pun menilai akses transportasi di danau juga sudah membaik dan memadai, apa lagi dengan kehadiran beberapa kapal penyeberangan yang diluncurkan pemerintah di beberapa lokasi, seperti kapal penyeberangan dri Tigaras Kebupaten Simalungun ke Samosir, penyeberangan dari Muara ke Samosir, penambahaan kapal penyeberangan dari Ajibata ke Ambarita Samosir, serta ketersediaan kapal kapal milik pengusaha lokal yang sudah memenuhi syarat laik berlayar.

Akan tetapi, kawasan Danau Toba sebagai obyek yang diandalkan menjadi daya tarik mendatangkan wisatawan masih monoton mengandalkan keindahan alamnya saja. Artinya, menuju destinasi wisata kelas dunia, tidak cukup hanya mengandalkan keindahan alam Danau Toba, tetapi harus digali dan ddikembangkan berbagai potensi lainnya yang ada di kawasan Danau Toba, seperti menjadikan mengembangkan sumberdaya alam kawasan Danau Tobha ang memiliki potensi di bidang pertanian untuk dijadikan kawasan wisata, berbagai situs budaya yang selama ini belum dikemas.
Jika tidak ada upaya dan kerja keras menggali potensi potensi terpendam di kawasan Danau Toba, maka perubahan dan pembenahan yang bisa membuat wisatawan tertarik. Bila hanya menikmati keindahan alam Danau Toba saja, menurut Sanggam Hutapea wisatawan yang berkunjung tidak akan betah berlama lama. Bila wisatawan paling dua atau tiga hari saja betah menikmati keindahan alam Danau Toba, maka akan sulit untuk menjadikan Danau Toba sebagai tujuan utama wisatawan .

Alumni pasca sarjana Universitah Gajah Mada itu mengharapkan tujuh kabupaten yang daerahnya bersentuhan langsung di kawasan Danau Toba di Tahun 2021 dapat menjalin kerjasama yang permanen dan sepakat membangun destinasi wisata di kawasan Danau Toba. Artinya setiap daerah mampu menghadirkan destinasi – destinansi yang menjadi daya tarik dan punya khas di daerah masing-masing dan tidak saling berkompetisi.

Tujuh kabupaten itu harus saling melengkapi sehingga setiap wisatawan yang berkunjung ke kawasan Danau Toba tidak hanya singgah di beberapa destinasi wisata saja. Misalnya, di Humbang Hasundutan terkenal dengan pertanian kemenyaan harus dikembangkan sebagai agrowisata, apa lagi saat ini pemerintah juga telah menetapkan Humbang Hasundutan sebagai salah satu daerah pengembangan kawasan lumbung pangan di Sumatera Utara .

Di Bakkara disamping terletak di pinggiran pantai Danau Toba juga memilki nilai budaya sangat tinggai sebab di Bakkara ada istana Raja Sisingamagaraja, dan ini belum semua orang mengetahuinya .

Jujur, selain keindahan alam Danau Toba, masih banyak potensi yang layak jadi destinasi wisata seperti penenun Ulos di Toba, di Pulau Samosir selain budaya yang kuat ada danau di atas danau yakni Danau Sidihoni yang terletak di atas Pulau Samosir, ada juga pemandian air panas selain di Panggururan yakni di desa Rianiate

Sementara di Parapat sebagai gerbang wisata di Danau Toba, ada ‘Istana Presiden’ tempat Pengasingan Presiden pertama RI Soekarno dan Haji Agus Salim yang terletak di semenanjung Marihat, Ada tempat perkemahan yakni camping ground di kawasan Dolok Simarbalatuk. Dari Dolok Simarbalatuk ini merupakan salah satu titik untuk menikmati keindahan alam Danau Toba yang mempesona dan lokasi ini cocok sebagai wisata religi dimana di lokasi ini berdiri kokoh dan mega Gereja Methodist Indonesia , ada juga wisata Kera di Sibanganding. Daerah ini juga dikenal sebagai Batu Lobang yang bernilai sejarah perjuangan, bahkan dari sini bisa melihat langsung wisata Batu Gantung .

Masih banyak potensi- potensi di kawasan Danau Toba yang belum digali dan dikembangkan sebagai obyek wisata. Karenanya Tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba harus bekerja keras menggali dan mengembangkan potensi potensi, sehingga makin banyak tempat tepat wisata yang akan membuat wisatawan betah tinggal berlama lama di kawasan Danau Toba.

Sanggam Hutapea juga menyoroti produk wisata apa yang ditawarkan di Danau Toba. Sejak pemerintah menetapkan Danau Toba sebagai salah satu destinasi wisata, sampai sekarang belum ada bentuk produk wisata kawasan Danau Toba.

Apa sebenarnya produk wisata Danau Toba, apakah keindahan alam, Kuliner, Budaya, atau yang lain? Kalau kita putuskan produk wisata Danau Toba adalah keindahan alam, maka dititik-titik mana wisatawan harus dibawa. Kalau produk wisata budaya, tentu budaya seperti apa yang akan kita tonjolkan.

Di kawasan Danau Toba tempat kuliner ini belum memenuhi. Dia mencontohkan di Bali ada Jimbaran tempat wisatawan makan malam di tepi pantai, dan pada saat makan malam, wisatawan disungguhi tari tarian tradisional dan alunan lagu-lagu. Fasilitas yang begini belum ada di kawasan Danau Toba, Padahal, banyak lokasi di kawasan Danau Toba yang bisa dibenahi sebagai tempat kuliner, dan talenta masyarakat di kawasan Danau Toba yang rata rata andalan menyanyi bisa ditampilkan .

” Jadi perumusan prodak wisata Danau Toba ini harus dikordinasikan BPODT dan dibicarakan seluruh pemerintah daerah supaya semua ambil bagian dan semua merasa memilki. Begitu kita bicara produk maka masyarakat pasti terlibat, di semua wisiata.

Sanggam mengemukakan temuannya di berbagai tempat wisata yang di kunjunginya di Eropa hampir semua ada pengamen. Para pengamen itu dijadwalkan tampil berbagai sudut kota.

Potensi yang dimiliki masyarakat kawasan Danau Toba ini salah satu yang perlu dievaluasi,” tandasnya.

Sanggam Hutapea mengakui belum melihat banyak peran Pemerintah daerah, khususnya Pemda di wilayah kawasan Danau Toba. Padahal, keberadaan Badan Pelaksana Otorita Danau Toba (BPODT) sebagai wakil pemerintah pusat di kawasan Danau Toba hanya membuat konsep , sedang yang mengeksekusi produk- produk itu sejatinya adalah Pemda di kawasan Danau Toba itu sendiri.

Pembenahan itu termasuk pembangunan toilet, toko souvenir, tempat parkir, mengemas produk produk lokal , dan pengadaan tempat kuliner. Pemerintah harus lebih kreatif karena salah satu kunci keberhasilan pariwisata adalah kreativitas, termasuk bagaimana mereka kreatif mengemas produk- produk lokal.

Salah satu contoh kreatif yang diutarakan Sanggam adalah bagaimana mengemas narasi untuk mengisahkan Tugu-Tugu Marga yang ada di Tapanuli dan di Samosir menjadi obyek wisata menarik bagi wisatawan. Tugu-tugu marga itu harus dinarasikan sebab kalau hanya sekedar tugu maka daya tariknya kurang.

Dari sisi promosi, Sanggam mempertanyakan apakah promosi pariwisata Danau Toba dilakukan diluar negeri atau di dalam negeri. kalau promosi dilakukan ke luar negri maka harus jelas sasarannya, apakah wisatawan Asia atau Eropah.

Sanggam Hutapea mengingatkan bahwa sudah hampir 20 tahun Danau Toba tidak pernah lagi diperhatikan Pemerintah sebelum Presiden Jokowi, sehingga sebenarnya sudah sekitar 20 tahun agenda pariwisata dunia melupakan Danau Toba.

“Mereka-mereka yang dulu mengenal Danau Toba 20 tahun lalu tentu sudah pada tua. Karena sudah 20 tahun terputus karenanya diperlukan terobosan untuk mengenalkan pariwisata Danau Toba ke pasar potensial.

Lazimnya, menurut Sanggam Hutapea, untuk promosi kawasan wisata baru penopangnya itu adalah pasar dalam negeri, kalau pasar luar negeri ( wisatawan manacanegara) butuh waktu. Karenanya, Sanggam lebih mendorong promosi diintensifkan untuk pasar domestik dengan melakukan rekayasa-rekayasa mendatangkan wisatawan domestik ke Danau Toba.

Kata kuncinya 7 pemerintah kabupaten yang berada di kawasan Danau Toba yakni, Kabupaten Samosir, Dairi, Pakpak Barat, Tanah Karo, Simalungun, Toba Samosir, Humbang Hasundutan dan Tapanuli Utara proaktif menjalin kerjasama dengan pemerintah daerah di provinsi, kabupaten dan kota Se-Indonesia, dan menawarkan kunjungan ke Danau Toba dengan memberikan berbagai kemudahan seperti diskon yang besar untuk penginapan. Kemudian menggencarkan kegiatan kegiatan bagi pelajar dan mahasiswa.
Sanggam Hutapea pun menyarankan peran aktif Pemda mengimbau diaspora orang Batak yang banyak di perantauan, guna datang berwisata ke Danau Toba.

Pengembangan kawasan wisata Danau Toba bukan semata mata tugas Badan Otorita, tapi lebih banyak sebagai tugas pemerintah provinsi dan kabupaten dengan melibatkan para pelaku pariwisata seperti pengusaha hotel, restauran ( PHRI), biro perjalanan umum dan tentu masyakarat sekitarnya.

Terkait telah ditetapkannya Kaldera Toba sebagai UNESCO Global Geopark menurut Sanggam Hutapea harus dilihat sebagai tantangan dan peluang, khususnya bagi Pemerintah Provinsi Sumatra Utara dan pemerintah di tujuh kabupaten di kawasan Danau Toba guna menjaga kelestarian lingkungan dan keutuhan dari Kawasan Kaldera Toba selain mendorong pengembangan perekonomian masyarakat. Dengan adanya status tersebut, pemerintah harus bekerja keras untuk memanfaatkan momentum.

Menurut Sanggam, membantu masyarakat sekitar kawasan Danau Toba tidak perlu memberikan uang, tetapi bagaimana Pemerintah Daerah menggandeng Badan Usaha Milik Negara (BUMN) atau perusahan-perusahaan besar untuk membenahi lokasi wisata. (Andy Yanto Aritonang)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2