Waspada
Waspada » Pemkab Tapsel Dorong Petani Sawit Sejahtera Dan Peduli Alam
Lapsus

Pemkab Tapsel Dorong Petani Sawit Sejahtera Dan Peduli Alam

Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) X, Zulkarnain memperlihatkan peta hutan di Tapsel dan menjabarkan sistem kerja. Waspada/Anum Saskia
Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH) X, Zulkarnain memperlihatkan peta hutan di Tapsel dan menjabarkan sistem kerja. Waspada/Anum Saskia

TAPSEL (Waspada) : Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara, mendorong petani sawit hidup sejahtera dan peduli alam sekitar, terutama yang berdekatan dengan hutan lindung.  Hal itu terungkap dalam catatan Waspada yang ikut serta dalam kegiatan kunjungan Jurnalis menuju sawit berkelanjutan,dari pendampingan petani kelapa sawit mandiri hingga mengedukasi konsumen di Tapanuli Selatan, 3 s/d 6 Februari 2020.

Kabupaten Tapanuli Selatan merupakan koridor keanekaragaman hayati yang menyambungkan hutan  kunci di Sumatera Utara, yaitu hutan lindung Batang Toru dan Batang Angkola serta Taman Nasional Batang Gadis.
Tapanuli Selatan, yang memliki kawasan hutan seluas 277.926 hektar yang merupakan  habitat bagi satwa langka, di antaranya harimau sumatera (Panthera tigris sumatrae), orangutan tapanuli  Pongo tapanuliensis), tapir (Tapirus indicus), dan trenggiling sunda (Manis javanica).

Kegiatan diskusi bersama Pemkab Tapsel di Kantor Bupati. Waspada/Anum Saskia
Kegiatan diskusi bersama Pemkab Tapsel di Kantor Bupati. Waspada/Anum Saskia

Kegiatan sekaligus mendiskusikan bagaimana menciptakan permintaan atas kelapa sawit berkelanjutan untuk mempertahankan fungsi  ekologi dan optimalisasi manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.
Pemkab Tapteng terlihat sangat serius mendorong kemajuan petani sawit, misalkan mendorong petani sawit swadaya memiliki ISPO.

Sebab,salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) adalah petani harus menerapkan good agricultural practices atau praktik budi daya tanaman sawit yang baik sesuai dengan standar yang ditentukan.

Maka, dengan cepat Bupati Tapanuli Selatan Syahrul M.Pasaribu, menggelar loka karya  dalam program Good Growth Partnership (GGP) bersama Conservation International (CI) untuk Indonesia.

Good Growth Partnership (GGP) adalah sebuah platform yang bekerja lintas sektoral  antara produksi (production), keuangan (financial) dan permintaan (demand) yang  berpijak pada ruang lingkup yang luas dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan serta inisiatif untuk mengurangi laju deforestasi dan mengupayakan  pembangunan berkelanjutan pada rantai pasok 3 komoditas utama, yaitu: kedelai, daging sapi, dan kelapa sawit.

Bupati Tapsel berkeinginan kabupaten yang ia pimpin dua periode ini dapat menjadi salah satu contoh terbaik (pilot project) penerapan petani kelapa sawit swadaya berkelanjutan di Indonesia. Maka, dalam diskusi jurnalis bersama perwakilan Bupati Tapteng, Rabu (5/2) yang dihadiri Kepala Bapeda Tapsel, Abadi Siregar,Tenaga Ahli Pemkab Tapsel Saulian  Sabbih Situmorang, Sekretaris Dinas Pertanian Kab Tapsel Derianto Harahap merangkap Sekretaris FoKSBI Tapsel dan Kabid Penyuluhan Dinas Pertanian Faisal Simamora.

Dalam diskusi itu, mengemuka bahwa Pemkab Tapsel sangat serus dalam pembinaan terhadap petani sawit, bahkan sudah memberikan penyuluhan berkesinambungan agar petani sawit bisa berkembang. Bahkan pihak Pemkab memberikan arahan agar menjaga kelestrian hutan yang ada di sekitar lahan sawit petani, dengan memanfaatkan lahan untuk tanaman pohon buah.

“Hal ini sangat penting agar Tapteng bukan saja penghasil sawit tapi penghasil beragam buah-buahan yang kelak mendorong agro wisata,”kata Abdi. Siregar.

Petani sawit yang ikut Sekolah Lapang yang mengakui hasil panen lebih bagus. Waspada/Anum Saskia
Petani sawit yang ikut Sekolah Lapang yang mengakui hasil panen lebih bagus. Waspada/Anum Saskia

Kunjungi Petani Sawit

Saat perjalanan ke kawasan di Lingkungan Binasari Kelurahan Pardomuan, Kecamatan Angkola Selatan, Kabupaten Tapanuli Selatan, yang bertemu dengan Sfaf Forestri Kordinator Concervation Internasional (CI) Sarmaidah Damanik dan pihak Perkebunan PT Austindo Nusantara Jaya(ANJ) diwakili Staf Konservasi Boy Tarigan serta beberapa orang petani sawit.

Dalam bincang-bincang tersebut, Sarmaidah Damanik menyebutkan pihaknya tengah melakukan pembibitan pohon durian yang nantinya akan diajarkan kepada petani sawit yang ada di sekitar kawasan hutan lindung. “Jadi nantinya bibit durian ini bisa dikembangkan oleh petani,bahkan bisa jadi sumber ekonomi baru warga,”katanya.

Saat yang sama juga mengemuka bahwa di area hutan Angkola itu terpasang kamera trap, dimana Hutan Lindung Angkola seluas 10 ribu hektare di Kabupaten Tapanuli Selatan telah menjadi habitat dari sejumlah satwa langka dan tumbuhan dilindungi. Untuk mengetahui satwa apa saja yang mendiami hutan tersebut.

Satwa di hutan lindung yang terdeteksi dari kamera trap. Waspada/Anum Saskia
Satwa di hutan lindung yang terdeteksi dari kamera trap. Waspada/Anum Saskia

Pemasangan kamera trap

Dengan pemasangan kamera trap, berbagai satwa terlihat dan menjadi bahan bagi Pemkab Tapsel untuk memberikan perlindungan secara khusus.

Mempermudah melihat kawasan hutan, sebanyak 12 titik mencakup wilayah 4.800 hektare, meliputi wilayah Hutan Lindung Angkola dan sekitarnya. Tidak tanggung, setelah perekaman berlangsung selama 95 hari, dari bulan Maret hingga Juni 2019, berhasil merekam 450 foto, terdiri dari 420 foto satwa (15 jenis mamalia dan 3 jenis burung). Sisanya, 30 foto manusia termasuk anggota tim.

“Beberapa satwa yang berhasil ditangkap, antara lain, tapir, rusa sambar, babi celeng, kancil, kijang, kambing hutan, beruang madu, binturong, musang belang, musang leher kuning, trenggiling, beruk, landak raya, landak ekor panjang, alap-alap kawah, kuau raja, sempidan biru, dan anjing kampung,”terang Sarmaidah Damanik.

Menuju Sawit Berkelanjutan, 706 Petani Ikuti Sekolah Lapang

Seluruh perkebunan sawit di Indonesia saat ini wajib memiliki Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). Bagi perusahaan untuk mendapatkan sertifikat itu mungkin mudah karena administrasi yang lengkap dan modal yang besar. Namun, bagaimana dengan petani mandiri?

Untuk mewujudkan sertifikasi ISPO dan RSPO bagi petani mandiri, Conservation International (CI) Indonesia bekerja sama dengan pemerintah Tapanuli Selatan menjalankan program dengan target sertifikasi sedikitnya untuk 1000 petani mandiri.

Dari target tersebut, saat ini telah ada 706 petani yang sedang dalam tahap mendapatkan sertifikat tersebut. Salah satu kegiatan yang harus dilalui oleh petani sebelum mendapatkan sertifikat adalah sekolah lapang.

Isner Manalu, Volcafe Project Manager Conservation International (CI) Indonesia menjelaskan, melalui sekolah ini para petani diajarkan menciptakan kebun yang berkelanjutan dengan memanfaatkan apa yang ada di sekitarnya (alam).Seperti pengendalian gulma, pembersihan lingkungan, pemupukan, pembuatan kompos, dan pengendalian penyakit.

Program yang dijalankan sejak 2018 lalu itu diawali dengan mengadakan training of trainer kepada para kader petani andalan yang terdiri dari 15 penyuluh pertanian lapangan (PPL) dan 27 kader. Setelah terampil, mereka bisa ke kelompok tani masing-masing dan melanjutkan sekolah lapang itu bersama angota kelompoknya.

Ada  9 modul yang diajarkan untuk petani, antaranya good agricultural practices, modul konservasi, pentingnya hutan, pemanasan global, agro ekosistem, fungsi hutan untuk lingkungan, dan modul sertifikasi ISPO. Satu modul diajarkan dalam 1 kali pertemuan, satu pertemuan dilaksanakan 1 minggu sekali.

Menurut Isner, saat ini sudah ada 706 petani yang tergabung dalam program tersebut. Petani tersebut berasal dari 17 kelompok tani di Kecamatan Angkola Selatan, Batang Toru, dan Muara Batang Toru.

Hetty Tambunan, selaku Communication dan Outreach CI Indonesia menambahkan, target dari program itu adalah 1000 petani untuk mendapatkan sertifikat ISPO yang ditargetkan selesai pada tahun 2023 mendatang. Tiga ratus (300) petani lainnya ditargetkan akan terkumpul dalam tiga tahun ke depan. Sementara, 700 petani yang sudah bergabung akan mengikuti tahap berikutnya melengkapi administrasi, salah satunya legalitas lahan.

Kata dia, proses mendapatkan sertifikat ISPO dan RSPO memerlukan proses panjang. Legalitas menjadi tahap yang paling sulit. Selain itu, petani juga harus tergabung dalam organisasi petani formal yang berbadan hukum.

Bertemu Peserta Sekolah Lapang

Perjalanan tim jurnalis berikutnya adalah bertemu dengan petani sawit di Muara Batang Toru, yakni perkebunan sawit mandiri di kawasan APL, rencana Sertifikasi RSPO dan kunjungan ke perkebunan sawit di lahan gambut dan restorasi.

Petani sawit di tempat ini menceritakan salah satu syarat untuk mendapatkan sertifikat Indonesian Sustainable Palm Oil System (ISPO) dan Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) adalah petani harus menerapkan good agricultural practices atau praktik budi daya tanaman sawit yang baik sesuai dengan standar yang ditentukan. Maka, Pemkab Tapsel memberi kesempatan kepada petani untuk mengikuti Sekolah Lapang bersama Penyuluh Pertanian Lapangan(PPL).

Seorang petani, Edi Parlindungan Purba mengungkapkan, sebelum mengikuti sekolah lapang, yang dirangkai program sertifikasi petani mandiri, mendapatkan banyak hal terutama dalam merawat tanaman sawitnya, selama ini hanya mengikuti kebiasaan dan kemampuan yang dimiliki.

Dia mencontohkan, seperti dalam merawat gulma, sebelumnya tidak pernah memikirkan makhluk hidup yang hidup di dalam tanah, yang penting gulmanya hancur, tidak ganggu tanaman sawit. Demikian juga saat memupuk sawit, dilakukan ketika memiliki uang lebih memberikan pupuk secara berlebihan dan ketika tidak memiliki uang untuk membeli pupuk tidak dipupuk sama sekali.

“Tetapi, setelah ikut sekolah lapang, kami diajarkan menjaga lingkungan hidup agar akar sawit bisa tetap tumbuh dengan baik. Pemupukan dengan tetap, tepat waktu, tepat jenis, tepat, dosis dan tepat tempat,”katanya.

Hal lain, kata dia, untuk pengendalian gulma, jika dulu menghabiskan 8-9 liter herbisida, saat ini hanya membutuhkan 3,5 liter herbisida. Selain itu, petani juga mulai menggunakan burung hantu untuk membasmi hama tikus, feromon untuk kumbang tanduk, dan bunga pukul 8 untuk ulat api.

Setelah melakukan hal itu, lanjut Edi, terjadi peningkatan produktivitas dari tanaman sawit yang dimilikinya. Jika sebelumnya buah sawit memiliki banyak duri, sekarang sawit menjadi lebih bagus. Hasil panen juga meningkat, dari sebelumnya 1 ton dalam dua hektare menjadi 1,5 ton dua hektare meskipun dalam kondisi trek.

“Saat memanen dulu cuma kita lihat buah berwarna merah yang ternyata penglihatan kami yang salah. Sekarang kami tahu buah matang bisa dilihat dari brondolan,” ujar Edi.

Menuju PKS PTPN III Hapesong

Kunjungan tim jurnalis ke PTPN III Hapesong, bertemu dengan Masinis Kepala,Monica Manurung. Ternyata, apa yang didapatkan petani sawit dalam kegiatan Sekolah Lapang, sangat bersentuhan dengan sistem penerimaan hasil panen sawit di PTPN III Hapesong ini.

Buktinya, buah sawit yang diterima harus sempurna tua termasuk brondolan sawit dan ukuran yang sudah ditentukan. “Jadi kelapa sawit yang tiba, kita sortir, jika ada yang tidak sesuai akan dikembalikan kepada pemasok. Kita pastikan kelapa sawit yang masuk pabrik tidak ada masalah termasuk pengirimnya juga harus jelas “kata Monika Manurung.

Para wartawan juga diajak melihat pabrik pengolahan kelapa sawit yang ada tempat penyaringan limbah, pemilahan kulit sawit dan pemilahan cangkang sawit.

Perjalanan tim wartawan asal Medan dan Jakarta selanjutnya, menggelar diskusi bersama Kepala Kesatuan Pengelola Hutan (KPH)X, Zulkarnain yang memaparkan tentang keberadaan hutan yang juga menjadi sumber kehidupan masyarakat,sehingga perlu edukasi berkelanjutan.Dengan begitu hutan akan terjaga sebagai kelanjutan kehidupan . *** Anum Saskia ***

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2