Klaim Raja Di Kuburan Tak Bernama

  • Bagikan
SAKSI Tamba di depan kuburan orang hanyut yang diklaim sebagai kuburan Datu Manggiling. Waspada.id
SAKSI Tamba di depan kuburan orang hanyut yang diklaim sebagai kuburan Datu Manggiling. Waspada.id

SELASA, 23 November 2021 sekira pukul 08:00 Wib, tim waspada.id dari Kota Padang Sidimpuan menuju titik kuburan yang diklaim oleh Parsadaan Raja Toga Sitompul (PRTS) sebagai makam leluhurnya. Titik itu harus melewati jalur terjal dan curam di rimba Simarboru (Sipirok, Marancar dan Batangtoru).

Dalam bayangan tim waspada.id, lokasi kuburan yang diklaim di dalam gugatan PRT Sitompul sebagai kuburan Datuk Manggiling itu terurus rapi dan bau aroma kembang. Tapi, realitanya, sungguh ironi. Tak ada jejak jalan setapak apalagi pemukiman di sepanjang jalan menuju ke kuburan seorang datuk yang sejatinya disanjung dan dihormati. Konon, gegara kuburan ini, PRT Sitompul sempat menggugat beberapa pihak karena dianggap melarang turunannya merawat kuburan itu.

Butuh waktu hampir satu jam dari lokasi daratan menuju titik kuburan. Tamba, 48 tahun, “kompas hidup” yang sekaligus saksi di balik klaim sejarah seonggok kuburan itu terlihat cekatan memandu tim waspada.id, meski tubuh lelaki ini sedikit tambun. Berbeda dengan Asrul, pemandu utama berpostur lebih kecil, lincah, dan gesit.

Begitu tiba di lokasi setelah melewati medan sulit, tim waspada.id terperangah melihat kuburan yang diklaim sebagai makam Datuk Manggiling itu hampir tak menyisakan jejak kaki peziarah para cucunya. “Ini bukan kuburan datuk tapi kuburan orang hanyut yang meninggal di tahun 1986,” cerita Tamba.

Tamba adalah salah satu putra dari tiga saksi yang ikut mengubur mayat pemancing ditemukan tergeletak di pinggir sungai dengan kondisi tubuh tak utuh lagi. Dagingnya mengelupas dan sudah menebarkan aroma tak sedap.

Dari ketinggian sekitar 10 meter di atas Sungai Langean Batang Toru, Tapanuli Selatan, sosok Tamba mengunggah kisah lama warisan orang tuanya. Sekira tahun 1986, kata Tamba, almarhum bapaknya pergi menjala ikan bersama temannya. Ketika melintas di sekitar Langean, almarhum bapak Tamba menemukan sesosok mayat yang kulitnya sudah terkelupas.

Mereka tidak langsung menguburkan mayat itu tapi mengangkat dan membawanya ke atas, beberapa meter dari permukaan sungai. Setelah itu, cerita Tamba di lokasi kuburan, penemuan mayat itu dikabarkan ke warga desa.

Berselang beberapa hari, almarhum bapak Tamba kembali ke lokasi dan menguburkan mayat tanpa identitas itu. “Menurut bapak saya kondisi mayat sudah tinggal tulang belulang, hanya sedikit tersisa kulitnya disertai bau menyengat,” ujar Tamba sembari membersihkan makam tersebut.

Tamba mengenang kembali cerita almarhum bapaknya itu pada 2012. Saat itu heboh dan bertebaran isu soal adanya makam leluhur Sitompul di Langean.

“Dulu kuburan ini hanya berukuran delapan batu, atau sekitar setengah meterlah. Sekarang taunya malah bertambah jadi dua meter. Seingat saya, kalau menurut cerita bapak, ini mayat orang hanyut. Itu saja yang saya tau. Soal cerita makam leluhur setahu saya, ya, hanya ini ada kuburan seperti yang bapak saya ceritakan,” kenang Tamba.

MAHADAS Siregar, 58, saksi hidup yang menemukan mayat orang hanyut yang kemudian diklaim sebagai kuburan Datu Manggiling. Waspada/dok.
MAHADAS Siregar, 58, saksi hidup yang menemukan mayat orang hanyut yang kemudian diklaim sebagai kuburan Datu Manggiling. Waspada/dok.

Cerita pusara tak bernama ini juga datang dari saksi hidup Mahadas Siregar, 58 tahun. Saksi ini teman bapak Tamba menjala saat menemukan mayat itu. “Waktu itu umur saya sekitar 16 tahun, sekarang saya 57 tahun, hampir 58. Dulu saya dan bapak Jakongal, orang tua Tamba mencari ikan ke Batang Toru. Perjalanan ke sana kurang lebih 4-5 jam (kampung Marancar Jolu). Sampai di sana kami terus mencari ikan (menjala), tiba-tiba teman saya melihat sesosok mayat. Posisi saya waktu itu agak jauh dari situ,” kenang Mahadas saat bercerita kepada waspada.id, Kamis 25 November 2021, di Kota Padang Sidimpuan.

Kisah Mahadas, jika ia pergi menjala ikan pasti membawa bekal makanan untuk disantap di pinggiran sungai Batang Toru. Setelah itu ia mencari ikan hingga ke Ulos. “Esok harinya kami baru pulang ke kampung. Tiba-tiba, satu minggu kemudian, almarhum (Bapak Tamba) ngajak saya cari ikan lagi ke sana. Sampai di sana kami melihat mayat itu masih bau, almarhum mengambil daun aren dan membungkus mayat yang tak utuh lagi itu. Lalu mayat itu dibawa ke atas, sekitar 15 meter dari sungai,” kata Mahadas.

Sampai di atas, lanjut Mahadas, yang saat itu berada sekitar 10 meter, almarhum mengambil kayu dan diruncingkan untuk menggali kuburan itu. Setelah itu, “almarhum memanggil saya dan bilang mayat sudah ditanam. Dia minta tolong untuk mengambil batu-batuan buat tanda ada kuburan manusia. Kedalaman kuburan sekitar setengah meter. Habis itu kami pulang, sampai di situ yang saya tau,” kata saksi.

Mahadas menjelaskan bahwa lokasi kuburan itu merupakan area kebun kelompok tani. Dia terkejut begitu tiba-tiba tersiar kabar ada kuburan nenek moyang marga Sitompul di situ. “Saya katakan pada waktu itu, tidak masuk akal kalau di situ ada kuburan leluhur Sitompul karena daerah itu adalah lintasan kami. Yang saya tau itu kuburan orang hanyut,” ujar saksi yang mulai menua termakan usia.

Dia juga heran ketika datang belakangan nisan kuburan yang terbuat dari batu sungai itu sudah panjang sekitar dua meter. “Saya dua kali ke daerah situ. Belakangan ini saya ke sana (tahun ini) sudah panjang kuburannya,” ujar Mahadas.

SATU dari tiga bale-bale yang dibangun oleh Pahlawan Sitompul Cs. Menurut Agussalim, saksi kunci yang ikut membangun bale-bale, di sini juga dibangun kuburan palsu. Waspada/Ist
SATU dari tiga bale-bale yang dibangun oleh Pahlawan Sitompul Cs. Menurut Agussalim, saksi kunci yang ikut membangun bale-bale, di sini juga dibangun kuburan palsu. Waspada/Ist

Kuburan Bodong

Dugaan rekayasa Pahlawan Sitompul untuk menguatkan klaim bodong tanah leluhur Lobu Sitompul dilakukan dengan berbagai cara. Lebih konyol lagi, pengakuan Agussalim, teman Pahlawan Sitompul, selain disuruh membuat tiga bale bale bersama 30 warga Pasar Sempurna, Marancar, dia juga disuruh membuat makam palsu (bodong).

“Saya pastikan bahwa di sekitar bale-bale yang kami bangun di atas itu tidak ada kuburan. Yang ada itu semua kuburan buatan,” tegas Agussalim, kepada waspada.id, Kamis 25 November 2021, di Kota Padang Sidimpuan. (Lihat Boks: Kronologi Penjualan Tanah Secara Ijon Oleh Pahlawan Sitompul) | RIZALDI ANWAR

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *