Waspada
Waspada » Jejak Asing Di Kematian Golfrid
Lapsus

Jejak Asing Di Kematian Golfrid

INFOGRAFIS dari berbagai sumber oleh Tim Waspada
INFOGRAFIS dari berbagai sumber oleh Tim Waspada

KEMATIAN Golfrid, aktivis Walhi Sumatera Utara, pada 6 Oktober 2019, menyisakan kecurigaan. Walhi meragukan visum dan penyelidikan institusi resmi kepolisian. Perlawanan dari Gg Wijaya XV No. 10, Padang Bulan, Medan.

Waspada/Ist
Waspada/Ist

Kamis sore itu, sekitar pukul 16.36 WIB, 14 November 2019, Kennedy Silaban tengah asyik berbincang bersama koleganya di Jalan Bajak I, Gang Paranginan 20, Medan Amplas, Medan. Dihadapan mereka, teronggok teko biru berisi tuak dan tiga gelas kosong bekas air tuak yang baru mereka teguk.

“Sebenarnya tak cocok jam segini (siang) minum tuak, tapi ini tadi datang kawan marga Simbolon, katanya tuak dari Siantar, terpaksa kami minum juga,” celetuk Kennedy, masih kerabat Golfrid, kepada Waspada, membuka cerita pertuakan yang sudah seperti mentradisi di Gang Paranginan itu.

Pengakuan Kennedy, di lingkungan Gang Paranginan, hampir semua terpaut pertalian saudara. “Golfrid itu ada tiga kali dalam seminggu datang ke sini, tapi dia bersama anak dan istrinya. Sebab, waktu kuliah, dia tinggal di situ, di rumah Mak Tuanya,” kata Kennedy sembari menunjuk rumah semi permanen, tak jauh dari mereka duduk.

Mak Tua (kakak dari ibu Golfrid) juga tinggal di Gang Paranginan, di seberang rumah Kennedy. Mak Tua membuka usaha warung dengan nama;Toko Opung Petra.

Setelah Golfrid Siregar, 34 tahun, aktivis lingkungan dan kuasa hukum Walhi Sumut, tewas kecelakaan, ”Banyak orang datang ke sini untuk menggali cerita kematian Golfrid,” tambah Kennedy lagi.

Kennedy mencoba memanggil kembali ingatan tentang tragedi itu. Kata dia, pada malam sebelum Golfrid meninggal, ia kebetulan juga baru tiba di rumah. Tak lama berselang, Golfrid muncul mengambil sepeda motornya yang ia parkir di depan rumah Kennedy.

Sejurus kemudian, Golfrid meninggalkan rumah Kennedy sekitar pukul 23.50 WIB. Malam itu, kebetulan hujan baru saja reda. Kennedy hanya melihat Golfrid sendiri dan langsung permisi pulang. ”Dia cuma pamit sebentar, mungkin tidak enak saja karena keretanya (motor) diparkir di rumah saya,” ungkap Kennedy.

Kennedy melihat Golfrid mengenderai motornya, mengenakan helm moncong, tidak dipakai penuh di kepala. “Helmnya diletak sebatas di atas kening saja,” kenang Kennedy.

Menurut dia, suasana pada malam celaka itu tampak sepi. Biasanya, Gang Paranginan selalu ramai meski hingga menjelang larut malam. “Begitu sampai di rumah, tidak ada lagi warga yang nongkrong,” cerita Kennedy.

Kennedy mengaku mendapat informasi pada malam itu Golfrid, bersama dua temannya, ada minum tuak di warung dekat rumahnya. Tapi, sebut Kennedy, tuak itu dibeli dari Jalan Bahagia seharga Rp10 ribu per satu teko. Itulah tuak yang diminum Golfrid bersama temannya. ”Aku tau informasi ini pun dari polisi,” kata Kennedy.

Dia memastikan di Gang Paranginan tidak ada warung penjual tuak. “Soal berapa banyak Golfrid meminum tuak, aku juga tidak tahu kali,” katanya.

Kennedy mengaku mendapat info di lambung Golfrid ada kandungan alkohol dari Walhi dan polisi. ”Golfrid kecelakaan setelah pulang dari rumah kami. Dan tiga hari kemudian dia meninggal dunia,” kenang Kennedy Silaban.

Tapi, kata Kennedy, “kalau itu klen bilang bukan laka lantas, sebenarnya itu bukan urusan kitalah. Karena ahli sidik sudah ada di situ, ahli forensik sudah ada di situ, kedokteran sudah ada di situ. Semua ahli-ahli sudah ada di situ. Kalau kayak kita ini, kan, (orang) awam, mana tau?”

Kematian aktivis lingkungan dan kuasa Hukum Walhi Sumut ini kemudian meruak. Pasalnya, Walhi Sumut mencurigai kematian Golfrid bukan karena kecelakaan lalu lintas, seperti hasil visum dan penyelidikan polisi, tapi ada dugaan dibunuh.

Untuk membuktikan keseriusannya, kemudian Walhi menggelar konferensi pers dan mengumumkan pembentukan Tim Pencari Fakta kasus kematian Golfrid. Acara digelar di rumah makan Bebek Ubud, Jalan Kapiten Pattimura 421, Medan Baru, pada Selasa siang 15 Oktober 2019, sambil dilakukan pemotongan tumpeng memperingati HUT Walhi ke 39.

Tapi, sudah satu bulan lebih, perkembangan hasil kerja TPF kasus Golfrid ini senyap, hampir tak ada kabarnya.

Dana Tarigan yang coba ditemui Waspada terkesan menghindar. Janji bertemu beberapa kali untuk wawancara selalu batal. Belakangan, Selasa (19/11), Dana Tarigan menerima telepon Waspada.

“Maaf bang lagi break sebentar ini. Kalau soal TPF belum bisa kita ungkap ke publik karena akan kita sampaikan jika sudah bertemu lagi dengan pihak-pihak terkait, di antaranya Komnas HAM dan Polri. Baru setelah itu akan kita sampaikan hasilnya,” ujar Dana dari seberang telepon sesulernya tanpa menyebut jadwal penyampaian perkembangan hasil TPF mereka ke publik.

Dana berkeras hati bahwa Golfrid diduga mati dibunuh. Diapun merilis tragedi kematian bekas stafnya itu ke berbagai media internasional; New York Times, Al Jazera, BBC, CNN dan beberapa media terkemuka di Indonesia. Dana menggunakan jaringan media untuk membangun opini internasional.

Kampanye kematian Golfrid versi Dana Tarigan “diamini” kelompok aktivis di bebarapa negara, salah satunya Friends of the Earth yang mendemo Konsulat Jenderal RI di Melbourne, Australia, pada Kamis 31 Oktober 2019.

Mereka menyampaikan surat yang isinya; pertama, 240 organisasi dunia meminta Indonesia terbuka dalam mengusut kematian Golfrid Siregar, kedua, kasus terakhir yang diperjuangkan Golfrid adalah pembangunan PLTA Batang Toru, ketiga, memastikan KBRI Melbourne telah menerima surat yang akan diteruskan ke KBRI Canberra.

Surat itu pun sudah mereka kirimkan kepada KBRI di sejumlah kota kota besar di dunia seperti Philipina, Jepang, Amerika Serikat dan Eropa. Kepada ABC Indonesia, Sam Cossar menyampaikan kecurigaan kematian Golfrid Siregar memiliki kaitan dengan profesinya sebagai pengacara Walhi Sumut.

Dalam beberapa pemberitaan, misalnya, Dana melansir kejanggalan kematian Golfrid seperti dia tidak meyakini kecepatan mengendarai motor 40 kilometer perjam bisa membuat kepala orang remuk dan menyebabkan kematian. Kemudian di bagian lengan kanan korban ada lumpur sementara kondisi jalan tempat Golfrid jatuh adalah aspal bersih.

Tapi, kecurigaan Dana itu langsung dimentahkan polisi. “Orang jatuh naik sepeda pun bisa meninggal. Jadi, kecepatan naik motor itu tidak bisa dijadikan ukuran orang bisa meninggal atau tidak,” kata salah seorang pamen di Polda Sumut, kepada Waspada di Mapolda, Senin.

Salah seorang penyidik juga mematahkan kecurigaan Dana karena tidak didukung bukti-bukti otentik seperti kerja polisi yang melakukan pemeriksaan saksi-saksi, melakukan visum et revertum, olah tempat kejadian perkara, hingga merekonstruksi kecelakaan Golfried dari sejak dia meninggalkan rumah hingga terjatuh di underpass Titi Kuning. “Kayaknya dia bicara asal saja, tanpa didukung bukti-bukti. Terkesan ngawur. Jadi gak perlu kali ditanggapi,” kata salah seorang penyidik di kepolisian.

Salah satu media terkemuka nasional juga menulis kisah kematian Golfrid dengan menurunkan tim wartawannya. Media itu menulis, pada Rabu, 2 Okt 2019 Sekitar jam 20.40 WIB, kamera pengawas (CCTV) yang terpasang tak jauh dari rumah Mak Tua menangkap gambar sepeda motor mirip milik GS (Golfrid Siregar) membonceng seseorang dan bertemu dengan dua pria yang mengendarai sepada motor jenis matic di ujung salah satu gang.

Mereka bercakap-cakap. Salah satu pria naik ke sepeda motor mirip milik GS. Mereka berbonceng tiga. Rombongan pergi dengan sepeda motor matic berada di depan sepeda motor mirip milik GS, tulis media itu.

Tapi, ketika Waspada turun ke lokasi di Gang Paranginan, keberadaan CCTV itu langsung ditepis Kennedy. “Di sini kek mana parbotut (penjual barang butut) semua, tak kenal CCTV di sini, ah,” kata Kennedy sambil tertawa.

Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kota Medan, Suriono, juga mengomentari soal keberadaan CCTV di sekitar lokasi kematian Golfrid di kawasan underpass Titi Kuning.

Kata Suriono, saat ini belum ada di pasang kamera CCTV di Underpass Titi Kuning, tempat ditemukannya Golfrid Siregar kecelakaan. Baru di beberapa persimpangan saja yang aktif CCTV nya.

Salah satunya, di persimpangan lalu lintas sebelum Underpass Titi Kuning yaitu simpang Jl. Tritura-Jl.STM, kemudian setelah lewat Underpass Titi Kuning yaitu Simpang Jl. Karya Wisata-Jl. Abdul Haris Nasution.

“Rekaman CCTV di setiap persimpangan hanya tersimpan sementara saja. Rekaman CCTV akan terhapus otomatis jika sudah lewat dari satu bulan. File rekamannya juga tidak ada disimpan di Dishub Kota Medan,” kata Suriono kepada Waspada, Kamis (21/11).

Alasan terhapusnya otomatis rekaman CCTV, kata Suriono, untuk menghemat kapasitas memori penyimpan. Sebab, bila terus disimpan, tidak akan cukup untuk rekaman baru.

UNDERPASS Titi Kuning, tempat Golfrid ditemukan terjatuh dari sepeda motornya. Waspada/Rama Andriawan
UNDERPASS Titi Kuning, tempat Golfrid ditemukan terjatuh dari sepeda motornya. Waspada/Rama Andriawan

Garis Waktu Kematian Golfrid

Rabu, tgl 2 Okt 2019 sekitar pkl 17.00 WIB Golfrid meninggalkan rumahnya dan pamit kepada istrinya, Resmi Barimbing. Istri Golfrid menitip barang untuk dikirim ke perusahaan ekspedisi JNE. Saat itu Golfrid bilang, selesai dari JNE, dia akan ke Marendal, ketemu temannya.

Rabu, tgl 2 Okt 2019 sekitar pkl 17.30 WIB, Golfrid bertemu dengan Tulus Partamoan di warung Mak Tua korban.

Rabu, tgl 2 Okt 2019 sekitar pkl 17.45 WIB, Golfrid bertemu Chandra Silaban di warung Mak Tua Korban.

Rabu, tgl 2 Okt 2019 sekitar pkl 19.00 WIB s/d Pkl Korban bertemu dgn Benhard Hutapea di warung milik Kennedy di Bajak I Lor. Paranginan No. 20 Harjosari II Medan Amplas, menunggu hujan reda. Pada saat itu korban bersama-sama dengan Manurung, Kennedy Silaban, Lambas Tambunan dan J Sianturi.

Rabu, tgl 2 Okt 2019 sekitar pkl 22.30 WIB, Ricky Rendrawan Manurung datang ke warung Kennedy Silaban dan melihat korban minum tuak dengan Adi, setelah itu saksi ikut minum tuak bersama korban dan Adi.

Rabu, tgl 2 Okt 2019 sekitar pkl 23.50 WIB, Golfrid meninggalkan warung milik Kennedy Silaban.

Kamis, tgl 3 Okt 2019 sekitar pkl 01.00 WIB, Korban ditemukan saksi-saksi sudah tergeletak berlumuran darah dan sepeda motor dalam posisi terbalik di underpass Jalan A H Nasution Kelurahan Titi Kuning, Kecamatan Medan Johor-Kota Medan.

Kamis, tgl 3 Okt 2019 sekitar pkl 01.12 WIB Korban tiba di RS. Mitra Sejati dalam Kondisi tidak sadarkan diri. Setelah mengantar korban dan sepeda motor korban ke RS. Mitra Sejati, 5 (lima) orang saksi (kemudian jadi tersangka pencurian barang-barang milik Golfrid) kembali pulang dengan membawa Tas milik Golfrid.

Pada hari Minggu, tanggal 6 Oktober 2019, sekitar pukul 15.20 WIB, Golfrid dinyatakan meninggal dunia di RSU H Adam Malik Medan.

Sebelumnya, polisi menyebut dugaan sementara penyebab tewasnya aktivis Walhi Sumatera Utara (Sumut) Golfrid Siregar karena kecelakaan tunggal. Polisi juga menyatakan ada alkohol ditemukan di lambung Golfrid saat proses autopsi.

“Dari pemeriksaan yang dilakukan tanggal 9 (Oktober), hasil autopsi dalam lambung kita temukan adanya unsur alkohol,” jelas Kabid Labfor Polda Sumut Kombes Wahyu di Mapolda Sumut, Jumat (11/10/2019).

Meski pemeriksaan dilakukan enam hari setelah kejadian, katanya, unsur alkohol masih terdapat di dalam lambungnya.

“Hanya alkohol, di lambung tidak ditemukan adanya narkoba dan toxic yang lain,” ujarnya.

Dia menjelaskan, jika seseorang mengonsumsi alkohol dalam jumlah sedikit, maka unsur alkohol itu bisa bertahan selama 12 hari di dalam lambung. Dia menyebut unsur alkohol itu juga dipengaruhi jumlah yang dikonsumsi.

“Misalnya kita mengkonsumsi alkohol dengan jumlah sedikit, di dalam lambung, unsur alkohol itu bisa bertahan sampai 12 hari. Apalagi kita mengkonsumsi dalam jumlah yang besar atau banyak,” ujarnya.

RUMAH Kennedy. Waspada/Rama Andriawan
RUMAH Kennedy. Waspada/Rama Andriawan
RUMAH Kennedy. Waspada/Rama Andriawan
RUMAH Mak Tua. Waspada/Rama Andriawan

Kesaksian Orang Terakhir Sebelum Golfrid Tewas

Tulus Partomoan Tambunan (TPT): Pada Rabu 2 Oktober 2019 sekitar pukul 17.30 WIB, Tulus bertemu Golfrid di rumah Mak Tua Golfrid di Jalan Bajak I, Kelurahan Harjo Sari II, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan, untuk meminta tolong agar Golfrid mengurus Pesangon di tempat kerjanya yang lama (sebagai sopir Tangki Elnusa).

Chandra Silaban: Pada pukul 17.45 WIB, Chandra bertemu Golfrid di warung Mak Tua Korban (Boru Sitompul).

Benhard Hutapea: Pada pukul 19.00 WIB, bertemu Golfrid di warung milik Kennedy Silaban di Jalan Bajak I Lorong Paranginan No 28 Kelurahan Harjo Sari II, Kecamatan Medan Amplas, Kota Medan. Benhard melihat Golfrid bersama Manurung, J Sianturi dan tiga orang laki-laki yang tidak dikenalnya, sekitar pukul 20.00 WIB. Bernhard Hutapea pergi dari warung tersebut untuk ke gereja.

Chairil Abidin Alias Adi: Pada pukul 22.15 WIB, tiba di Kedai Kennedy Silaban. Situasi malam itu sepi, sambil mengambil teko dan menuang tuak, Adi melihat korban minum tuak setengah gelas. Pada pukul 22.30 WIB, Ricky Manurung datang ke warung Kennedy Silaban dan melihat korban minum tuak dengan Adi. Setelah itu Ricky ikut minum tuak bersama Golfrid dan Adi. Sebelum mereka duduk bareng, Ricky sempat membeli tuak satu teko di luar Jalan Bajak I.

Disaat minum, Golfrid tidak menunjukkan tanda-tanda keanehan. Sikapnya biasa saja. Meski dia sudah lama mengenal Golfrid, di mata Ricky, Golfrid adalah sosok pendiam. “Golfrid sering jadi tempat bertukar pikiran. Dia sering datang ke Gang Paranginan, biasanya main kartu joker. Golfrid tidak pernah cerita soal pekerjaannya, meski sering nongkrong di sini,” kata Ricky kepada Waspada, Rabu (20/11).

Ricky keseharian bekerja sebagai penyanyi panggilan untuk acara pesta dan hajatan lainnya. Ia juga mengaku jarang di rumah karena terkadang bekerja ke luar kota.

Kennedy Silaban: Pada pukul 19.00 WIB, Golfrid datang ke warung milik Kennedy Silaban untuk minum kopi dan menunggu hujan reda. Sekira pukul 23.50 WIB korban pergi dari warung tersebut dengan menggunakan jaket hitam, tas ransel dan helm tidak terpakai penuh, hanya di atas kening.

Kini, meski Walhi Sumut di Gg Wijaya XV No.10, Padang Bulan, Medan, kekeh mencurigai Golfrid tewas dibunuh, bahkan sudah menjadi konsumsi media asing dan kepentingan asing, Polda Sumatera Utara akhirnya menutup kasus kematian Golfrid.

“Belum ada temuan atau bukti-bukti baru terkait kematian kuasa hukum Walhi Sumut itu,” kata Kapolda Sumut Irjen Pol Agus Andrianto melalui Kasubbid Penmas AKBP MP Nainggolan, kepada Waspada, Rabu (20/11) di Mapoldasu. (Tim)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2