Bapundung dan Basyair Tak Lekang Dimakan Waktu

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Seni tradisi lisan di berbagai wilayah di Indonesia adalah satu dari berbagai macam kekayaan budaya Indonesia. Kekayaan tradisi lisan inilah yang sampai kini masih dipertahankan sebagai jati diri suatu wilayah.

Di Kalimantan Selatan, seni tradisi lisan yang sangat dikenal adalah bapundung dan basyair.

Bapandung adalah sastra lisan Banjar bercerita yang biasanya diadakan sebagai hiburan. Bapandung ini mirip dengan monolog, tetapi ada perbedaan yang cukup kuat antara keduanya. Bapandung merupakan monolog yang tidak hanya bercerita biasa, tetapi juga mempertunjukkan tiga hal yakni mempertunjukkan busana tokoh, yang selalu berganti sesuai pergantian karakter; Si pamandungan harus merubah cara bicara dan tingkah laku sesuai perubahan karakter; adanya konflik tertentu.

Sedangkan basyair adalah sastra lisan membaca syair dalam bahasa banjar. Pada masa dulu, basyair adalah hiburan setelah masa panen, syair dibaca sebagai penghilang penat. Syair juga biasa digunakan sebagai nasihat pada acara keagamaan atau pada acara perkawinan. Dewasa ini, syair sebagai tontonan mulai kurang diminati masyarakat karena masyarakat modern lebih memilih tontonan seperti sinetron, film dan lain-lain.

Guna melestarikan, melindungi mengenalkan sastra lisan bapandung dan basyair kepada generasi muda, Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Selatan melakukan Revitalisasi Sastra Lisan Bapandung dan Bimbingan Teknis Pelindungan Sastra Lisan  Basyair.

“Harapannya, jumlah penutur atau pendukung sastra lisan bapandung dan basyair di kalangan anak muda makin banyak,” kata Kepala Balai Bahasa Kalimantan Selatan, Luthfi Baihaqi, Jumat (29/10).

Revitalisasi kedua jenis sastra lisan ini  melibatkan siswa dari beberapa sekolah di Banjarmasin. Pelaksanaan kegiatan selama 7 hari bertempat di Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan yang dilakukan adalah revitalisasi sastra bapandung (bimtek) dan kemudian pemasyarakatan aksi.

Bimbingan teknis pelindungan sastra lisan basyair dilakukan di wilayah Kabupaten Hulu Sungai Tengah.  Kegiatannya berupa pemberian materi dan praktik. Materi yang diberikan kepada peserta berupa pengantar penulisan syair, pengenalan syair banjar; praktik penulisan syair banjar; praktik basyair dan pementasan basyair.

“Kegiatan hampir serupa dilakukan juga untuk sastra lisan Bapundung,” imbuh Luthfi.

Tantangan dalam melaksanakan kegiatan ini adalah anggaran yang terbatas, sehingga waktu pelaksanaan pun tidak dapat maksimal.

“Selain itu juga kondisi pandemi juga menjadi tantangan pelaksanaan kegiatan,” ujar Luthfi.

Meski demikian tantangannya, tetap saja kegiatan dilakukan dengan semangat diantara seluruh tim dan masyarakat. Semuanya demi pelestarian sastra lisan Bapundung dan Basyair yang tak boleh lekang dimakan waktu. (J02)

Editor: Dian W
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *