Waspada
Waspada » Mendadak Dagang, Raih Kesempatan Di Tengah Kesempitan
Kuliner

Mendadak Dagang, Raih Kesempatan Di Tengah Kesempitan

Sejak selesai shalat subuh, Rini sudah sibuk mengepak-ngepak barang dagangannya. Puluhan bungkus plastik ukuran sedang, berisi kripik pisang bersalut gula putih, terhampar di atas meja. Semuanya siap masuk kantong plastik besar yang telah disiapkan Rini.
“Ini semua pesanan teman-teman kantor. Hari ini saya giliran masuk kantor, jadi saya bawa. Seminggu lalu saya buka pre order. Alhamdulillah banyak yang pesan,” kata Rini, seorang PNS Daerah Kota Tangerang Selatan.
Rini bukan pedagang sungguhan. Kesibukannya berjualan baru saja dilakoninya. Dia mengaku mendadak dagang karena butuh masukan tambahan sejak suaminya yang bekerja di perusahaan swasta, terkena Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) sejak Juli lalu akibat imbas Covid-19.  Uang pesangon yang tak seberapa, diakui Rini hanya mangkir di Bank sekedar jadi saving money. Mau dibuat modal usaha yang rada serius, dinilai tak mencukupi.
Rini akhirnya memutuskan berjualan kecil-kecilan. Karena dia suka cemilan, maka dibuatnya aneka kripik mulai dari singkong, pisang sampai kentang.
“Saya beranikan diri untuk jualan apa yang saya bisa produksi sendiri. Pemasaran juga cuma seputar keluarga besar kami, teman-teman kantor, tetangga dan sedikit-sedikit teman-teman media sosial,” kata Rini.
Ibu muda lainnya bernama Dina juga memutuskan berjualan empon-empon atau jamu tradisional berbahan rimpang seperti jahe, kunyit atau kencur. Hobinya minum jamu membuat dia berpikir kenapa tidak membuat sendiri dan berusaha memasok kepada teman-temannya.
“Saya jualan ini justeru didorong oleh teman-teman. Beberapa teman juga ikut jualan. Jadi mari kita saling dukung dengan saling membeli barang dagangan masing-masing. Seru juga, sih! JadI mirip gotong royong ,” kata Dina.
Keuntungan yang diraih berjualan aneka minuman tradisional ini, diakui Dina cukup lumayan. Asal mau repot dan lelah, pasti ada keuntungan dibalik itu.
“Kuncinya adalah kita mau apa tidak? Ternyata setelah dijalani, berjualan itu menyenangkan. Apalagi kalau tahu pelanggan kita jadi merasa tambah sehat dengan produk kita. Luar biasa senangnya melebihi uang yang kita dapat,” kata Dina.
Indah, seorang ibu dua anak sempat maju mundur saat memutuskan untuk membuka konter pulsa di teras rumah. Takut jadi saingan tetangga yang juga berjualan yang sama. Tapi dia menberanikan diri, karena cuma usaha itu yang dia ssnggup.
“Saya akhirnya beranikan diri. Momennya pas. Semua orang juga jualan, kok! Kenapa saya tidak?”ujarnya, semangat.
Fenomena mendadak dagang di kalangan keluarga, dikatakan pemerhati keluarga, Agus Syafei, sebagai hal yang sangat baik. Apalagi selama pandemi, ide kreatif menjadi lebih diperlukan dari sebelumnya, guna mengusir kegelisahan akan faktor keberlangsungan ekonomi keluarga.
“Kuncinya ada pada keinginan untuk saling membantu, solidaritas, gotong royong antar sesama. Kalau mau dagangan kita dibeli orang lain, maka sebaiknya kita juga membeli dagangan teman kita,” ujar Agus.
Saat ini memang sudah biasa melihat pemandangan pedagang dadakan di rumah-rumah, di pinggir jalan maupun di berbagai media sosial. Bahkan grup-grup jualan online atau  E commerce pun bertaburan dimana -mana.
Kementerian koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM) mencatat, ada penambahan jumlah pedagang baru sejak awal corona di Indonesia. Sebagian besar berjualan lewat internet, termasuk memanfaatkan jasa ritel online seperti tokopedia, bukalapak dan banyak lagi.
Selain pedagang dadakan, tidak sedikit juga yang merupakan pemain lama alias pedagang kelas menengah yang berkreasi supaya bisa menyambung usaha di tengah lemahnya daya beli.
Paling banyak digemari dalam bisnis kecil-kecilan adalah kuliner murah meriah. Jenis herbal juga diminati karena manfaat menjaga daya tahan tubuh yang sedang dibutuhkan orang saat pandemi.
Data terbaru Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutka  jumlah UMKM di Indonesia masih tetap berada di kisaran 64 juta. Jumlah itu merupalan 90 persen dari gerak perekonomian bangsa.
Di saat pandemi, sebagian besar UKM, terdampak. Ada yang bahkan sampai harus gulung tikar.
Tapi sebagian lagi memilih bertahan dengan segala cara. Salah satu yang paling banyak adalah beralih ke jualan online. Toko fisik tutup, beralih ke toko di dunia maya. (J02)

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2