Korban Besar Kasus Rasisme Bulgaria 

SOFIA (Waspada): Ketua Uni Sepakbola Bulgaria (BFU) Borislav Mihaylov, Selasa (Rabu WIB), mundur dari jabatannya sebagai korban besar dari kasus rasisme pendukungnya kepada Timnas Inggris pada laga Kualifikasi Euro 2020.

Korban Besar Kasus Rasisme Bulgaria 
KAPTEN Bulgaria Ivelin Popov (kanan), malu dengan insiden rasisme yang melibatkan timnya.(Debati)

 Akibat insiden rasisme pada laga Grup A di Sofia itu, 14 Oktober lalu, Harry Kane cs yang akhirnya menang telak 6-0 sempat dua kali meninggalkan lapangan pertandingan sebagai bentuk protesnya.

Pasca pertandingan itu, Presiden Federasi Sepakbola Eropa (UEFA) Aleksander Ceferin menyatakan sepakbola harus melancarkan perang kepada para pelaku pelecehan rasial.

Inggris menang besar, tetapi terus-terusan dicemooh secara rasis oleh fans Bulgaria. Insiden itu memaksa Perdana Menteri Inggris Boris Johnson mengutuk rasisme sebagai perbuatan keji yang di antara bentuknya adalah menirukan suara kera dan salut ala Nazi.

Johnson menyeru UEFA mengambil tindakan keras. Menurut Reuters, Rabu (16/10), gayung bersambut ketika Perdana Menteri Bulgaria Boyko Borisov mendesak Mihaylov untuk mundur.

"Saya mendesak Borislav Mihaylov untuk mengundurkan diri sesegera mungkin!" tulis Borisov di Facebook, seraya menambahkan bahwa adalah "tak bisa dibenarkan jika Bulgaria...dikaitkan dengan rasisme dan xenofobia".

Beberapa jam kemudian BFU menyatakan Mihaylov sudah mengajukan pengunduran dirinya dan menyerahkan otoritasnya kepada anggota Komite Eksekutif BFU pada Jumat (18/10).

Pengunduran diri Mihaylov terjadi beberapa saat sebelum markas besar BFU digeledah jaksa dan polisi. Tetapi belum jelas apakah ini berkaitan dengan pengunduran diri Mihaylov atau pelecehan rasis terhadap pemain-pemain kulit hitam Inggris.

Beberapa saat sebelum UEFA mengumumkan penyelidikan atas perilaku fans Bulgaria itu, Ceferin menekankan lagi komitmennya untuk memberantas penyakit rasisme.

"Lebih luas lagi, keluarga besar sepak bola, semua orang dari pengelola sampai pemain, pelatih dan fans harus bekerja sama dengan pemerintah dan LSM untuk melancarkan perang terhadap kaum rasis," klaim Caferin.

Sedangkan Ivelin Popov sebagai kapten Timnas Bulgaria, merasa malu dengan kasus rasisme tersebut.

“Penting bahwa saya berbicara seperti ini karena masalahnya sangat besar bagi semua orang, bagi federasi kami dan untuk Inggris,” papar pemain FC Rostov tersebut.

“Kami akan mendapat hukuman besar dan ini tidak baik untuk sepakbola Bulgaria. Tentu saja saya merasa malu, saya tidak ingin seperti ini,” pungkas Popov. (m15/rtr)