Waspadai Penyakit Paru Kronis Di Masa Pandemi Covid - Waspada

Waspadai Penyakit Paru Kronis Di Masa Pandemi Covid

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Pada peringatan Hari Kewaspadaan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) setiap 17 November, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengingatkan ancaman besar bagi mereka yang abai. WHO menyebut, PPOK merupakan penyebab kematian ketiga terbanyak di dunia, yakni 3,23 juta kematian di tahun 2019 dengan merokok sebagai penyebab utamanya.

“Pada masa pandemi COVID-19, virus Sars-CoV-2 akan menyerang sistem pernapasan dan ini membuat para penderita PPOK lebih rentan mengalami penyakit paru-paru kronis,” kata Spesialis Kardiovaskular Dr. Arto Yuwono Soeroto dalam temu media peringatan Hari PPOK Sedunia, Selasa (23/11).

Melihat kondisi tersebut, maka dipandang perlu untuk memberikan kewaspadaan secara persuasif kepada masyarakat. Faktor yang penting dari pencegahan PPOK adalah mengurangi paparan dari asap rokok.

Di Indonesia, berdasarkan data riset kesehatan dasar 2013 prevalensi ppok mencapai  3,7% atau sekitar 9,2 juta jiwa yang mengalami PPOK

Pada orang dengan PPOK, terdapat gejala keluhan saluran pernapasan yang menetap seperti batuk berdahak, sesak nafas, memiliki keluhan yang menetap.

Gejala pernapasan tersebut bersifat menetap dan progresif yang disebabkan karena adanya kerusakan saluran napas pada gelembung alveolus atau kantung udara kecil di dalam paru-paru yang menjadi tempat pertukaran oksigen dan karbondioksida.

“Kerusakan tersebut disebabkan oleh pajanan dengan gas atau partikel berbahaya seperti merokok dan polusi,” katanya.

Riset Kesehatan Kementerian Kesehatan memperlihatkan jumlah perokok di Indonesia masih sangat tinggi, kira-kira 33,8% atau 1 dari 3 orang di Indonesia merokok. Hal ini memberikan kontribusi pada kejadian PPOK yang besar.

Angka merokok dengan perokok pria mempunyai proporsi yang besar sekitar 63% atau 2 dari 3 pria di Indonesia saat ini merokok. Selain itu peningkatan prevalensi merokok cenderung lebih tinggi pada kelompok remaja usia 10 sampai 18 tahun, yakni sekitar 7,2% naik menjadi 9,1% di tahun 2018 atau hampir 1 dari 10 anak di Indonesia merokok.

Wakil Menteri Kesehatan RI dr. Dante Saksono Harbuwono mengatakan penyebab utama PPOK adalah merokok sangat penting disosialisasikan ke masyarakat.

“Implikasi kesehatan, implikasi investasi manusia itu jadi terhambat dengan adanya paparan rokok pada anak-anak yang berusia 10 sampai 18 tahun yang menjadi ‘PR’ kita semua bersama,” ucap dr. Dante.

PPOK bukan termasuk penyakit menular, PPOK adalah penyakit paru obstruktif yang dapat diobati, sehingga tatalaksananya lebih diupayakan pada pencegahan perburukan gejala maupun fungsi paru. PPOK disebabkan karena adanya korelasi erat antara paparan partikel atau gas berbahaya yang signifikan dan meningkatnya respons utama pada saluran napas dan jaringan paru. (J02)

  • Bagikan
Search and Recover