Sunat Saat Dewasa? dr Boyke Bilang, Ini Manfaatnya - Waspada

Sunat Saat Dewasa? dr Boyke Bilang, Ini Manfaatnya

  • Bagikan
dr Boyke Dian Nugraha, pakar kesehatan seksual

JAKARTA (Waspada): Praktisi kesehatan seksual, dr Boyke Dian Nugraha SpOG MARS menjelaskan sejumlah dampak positif sunat, khususnya bagi orang dewasa.  Di antaranya adalah mengurangi risiko tertular penyakit menular untuk pasangannya.

Dia menegaskan sunat atau sirkumsisi selain dari aspek agama dan budaya, juga ada aspek kebersihan dan kesehatan.

Seperti diketahui virus HPV atau Human Papillomavirus memicu terjadinya penyakit menular seksual (PMS). Virus ini dalam kondisi tertentu bisa memicu kanker. Selain itu Boyke mengatakan pada pria yang tidak disunat, berpotensi terdapat kotoran, bakteri, atau virus lainnya di sekitar kepala penisnya.

 

“Sebab dalam kondisi normal kepala penis pria yang tidak disunat tertutup kulup atau kulit. Butuh perawatan khusus, seperti pembersihan secara berkala bagi pria yang tidak disunat,” ujar Boyke, saat berbicara dalam webinar kesehatan tentang manfaat sunat bagi pria dewasa, yang digelar Forum Jurnalis Online (FJO), Kamis (8/4).

Dia juga mengatakan ada sejumlah pasangan perempuan yang khawatir jika pasangannya tidak disunat terdapat bakteri Ecoli atau sejenisnya. Itu sebabnya, sunat di kalangan pria dewasa justeru banyak yang diusulkan pasangan wanitanya.

Sejumlah metode mulai dari konvensional, laser atau electric couter, dan klamp bisa menjadi prosedur pilihan ketika seseorang ingin dikhitan. Pada pria dewasa, prosedur apakah yang paling dianjurkan?

“Dulu awalnya sunat dengan cara konvensional. Didahului anestesi, terus dipotong sedikit dari atas dulu bagian kanan, melingkar ke kanan, lalu melingkar ke kiri baru dijahit. Dengan pemotongan tersebut banyak risiko yang bisa dihadapi saat khitan seperti perdarahan dan infeksi yang cukup tinggi karena adanya luka terbuka,” terang Prof. Andi Asadul Islam, Ketua PP Ikatan Ahli Bedah Indonesia (IKABI) dalam acara yang sama.

Namun, keputusan penggunaan metode khitan kembali lagi pada pasien. Prof Andi menjelaskan, pada laser, digunakan semacam lempeng besi tipis yang dipanaskan dengan listrik. Prinsipnya, sama seperti solder. Ketika ujung lempeng menyala proses pemotongan pun dilakukan.

 

Risiko perdarahan saat khitan, dikatakan Prof. Andi tergantung ukuran penis. Sebab, makin besar ukuran penis, makin besar juga pembuluh darah sehingga risiko perdarahan makin besar.

 

Berbeda dengan metode klamp di mana prosedur dilakukan tanpa jahitan dan menggunakan semacam alat penjepit. Lagipula, jika menggunakan klamp diameter penis maksimal yang dikhitan yakni 3,4 cm.

Genky, lajang asal Jepang salah satu pelaku sunat dewasa, yang turut hadir pada webinar  menyatakan, meski dalam budaya Jepang tidak dikenal sunat, dia tetap melakukan sunat demi kesehatan. (J02)

                         

 

  • Bagikan