Waspada
Waspada » Smart Label Sebagai Indikator Kematangan Buah dan Kesegaran Daging
Headlines Kesehatan

Smart Label Sebagai Indikator Kematangan Buah dan Kesegaran Daging

Smart label sebagai indikator kematangan buah dan kesegaran daging. Waspada/Ist
Smart label sebagai indikator kematangan buah dan kesegaran daging. Waspada/Ist

LABEL merupakan salah satu bagian dari produk pangan yang penting karena mencakup informasi mengenai produk tersebut. Peraturan Pemerintah No.69 Tahun 1999 tentang Label dan Iklan Pangan, “Label pangan diartikan sebagai setiap keterangan mengenai pangan yang berbentuk gambar, tulisan, kombinasi keduanya atau bentuk lain yang disertakan pada pangan, dimasukkan ke dalam, ditempelkan pada atau merupakan bagian kemasan pangan”.

Peraturan mengenai label pangan di Indonesia juga dimuat dalam Peraturan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) No. 31 Tahun 2018 tentang Label Pangan Olahan.

Bahan pangan merupakan segala sesuatu yang berasal dari sumber hayati produk pertanian, perikanan, peternakan, dan air. Bahan pangan terdiri dari bahan pangan segar seperti buah-buahan, sayuran, daging, ikan, kacang-kacangan, umbi, dan lainnya serta bahan pangan olahan. Label merupakan bagian penting dari bahan pangan saat bahan pangan dipasarkan.

Label pada bahan pangan harus memuat informasi paling sedikit mengenai nama produk, berat produk dan berat bersih produk, nama dan alamat pihak yang memproduksi atau pihak pengimpor, tanggal dan kode produksi, keterangan kedaluwarsa, dan informasi lainnya yang dibutuhkan dan bermanfaat bagi konsumen.

Di Indonesia bahan pangan segar seperti buah-buahan umumnya tidak dikemas dan label berupa stiker yang ditempel pada buah. Label pada buah-buahan biasanya memuat 4 atau 5 digit angka yang menyatakan buah tersebut diperoleh dengan suatu teknik agronomi sehingga konsumen dapat mengetahui cara pembersihan buah sebelum dikonsumsi ataupun mengenai modifikasi genetika yang diterapkan pada buah-buahan.

Pada kenyataannya, arti angka yang terdapat pada label buah belum banyak diketahui oleh konsumen dan tidak terdapat informasi lainnya pada label buah. Tingkat kematangan buah merupakan hal terpenting saat memilih buah.

Salah satu alasan banyaknya buah ditolak oleh konsumen adalah buah dengan tingkat kematangan yang kurang matang atau matang berlebih. Pengetahuan mengenai tingkat kematangan sangat minim didapatkan sehingga kebanyakan konsumen akan memilih buah dengan cara menekan buah sehingga merusak buah secara fisik.
Jika label pada buah dimanfaatkan sebagai sumber informasi mengenai tingkat kematangan buah, maka label akan lebih memberikan manfaat kepada konsumen dan mengurangi kerusakan fisik pada buah. Smart lable merupakan inovasi dalam bidang pangan mengenai label pada berbagai bahan pangan segar.

Di Indonesia sudah banyak dilakukan penelitian mengenai smart label pada buah-buahan dan daging segar sebagai indikator kesegaran bahan pangan, tetapi belum banyak produsen bahan pangan yang menerapkan smart lable pada bahan pangan yang dipasarkan. Ripesense merupakan salah satu inovasi kemasan pintar (intelligent packaging) dengan menggunakan smart lable. Ripesense berbasis smart lable ini telah dipasarkan di Amerika Serikat.

Pada kemasan ini buah dikemas dalam kemasan plastik polyethyelene terephthalate (PET) yang dilengkapi dengan smart lable. Smart lable pada buah dapat berubah warna sesuai dengan tingkat kematangan buah di dalam kemasan tersebut yaitu juicy, firm, dan crisp.

Smart lable pada buah menerapkan prinsip sensor yang mendeteksi aroma atau senyawa volatil yang dihasilkan dari buah pada saat proses pematangan. Pada smart lable juga dicantumkan keterangan mengenai kematangan buah sesuai dengan masing-masing warna yang akan dihasilkan oleh smart lable.

Warna pada smart lable akan berubah dari merah menjadi kuning seiring dengan meningkatnya tingkat kematangan buah. Inovasi smart lable pada buah sangat bermanfaat untuk konsumen saat memilih buah.
Konsumen dapat memilih buah dengan tingkat kematangan yang diinginkan tanpa harus menekan buah dan merusak kemasan ataupun merusak buah secara fisik. Smart lable juga berkembang pada produk daging segar di China.

Smart lable yang ada pada produk daging dipasangkan alat berupa kode batang dan lapisan lainnya yang diisi dengan tinta khusus yang reaktif terhadap senyawa amonia. Label ini akan membentuk warna putih jika daging dalam kemasan tersebut masih dalam keadaan segar dan akan membentuk warna biru jika daging dalam kemasan tersebut sudah mulai membusuk atau melewati masa simpannya.

Tingkat keamanan bahan pembuatan smart lable juga harus diperhatikan. Tinta digunakan dalam smart lable pada daging terbuat dari bahan alami yaitu pigmen ubi ungu yang aman dan tidak beracun.

Kesegaran pada daging merupakan salah satu indikator penting saat konsumen memilih daging. Pengetahuan mengenai kesegaran daging pada masyarakat umum sangat minim sehingga banyak masyarakat yang tidak dapat membedakan daging segar dan tidak segar.

Smart lable pada daging merupakan salah satu solusi yang dapat memudahkan konsumen dalam memilih daging dan memudahkan produsen daging dalam pengontrolan daging yang dipasarkan. Smart lable pada daging juga sudah ditemukan oleh peneliti di Indonesia.

Tim Peneliti Institut Pertanian Bogor (IPB) berhasil mengembangkan kemasan pintar berbasis smart lable untuk produk daging dan ikan. Pembuatan label hanya berasal dari bahan sederhana yaitu bubuk tapioka, gula, garam, bahan lainnya, serta pewarna merah venol red.

Smart lable ini menerapkan prinsip sensor terhadap gas asam volatil yang dihasilkan oleh bakteri apabila sudah mengkontaminasi daging dan label sehingga jika daging sudah tidak segar, label akan berubah warna dari merah menjadi kuning.

Label pada bahan pangan selama ini sering dihiraukan konsumen. Smart lable merupakan salah satu inovasi dalam bidang pangan yang dapat memudahkan konsumen dalam menentukan tingkat kematangan buah-buahan dan tingkat kesegaran pada daging hanya dengan melihat label yang tertera pada kemasan.

Sampai saat ini, smart lable belum banyak diterapkan pada buah-buahan ataupun daging yang beredar di pasar Indonesia. Produsen bahan pangan seperti buah dan daging segar sebaiknya melirik inovasi ini karena sangat menguntungkan dan bermanfaat bagi konsumen ataupun produsen. Waspada

Zulfa Nur Hanifa, STP, Mahasiswa Magister Ilmu Pangan Institut Pertanian Bogor

 

Berita Terkait

Memuat....
UA-144743578-2