Setahun Melayani, Sejiwa Didominasi Pengaduan Masalah Keluarga dan Sosial - Waspada

Setahun Melayani, Sejiwa Didominasi Pengaduan Masalah Keluarga dan Sosial

  • Bagikan
Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga

JAKARTA (Waspada): Setahun sudah layanan kesehatan jiwa (Sejiwa) diluncurkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kementerian PPPA) bersama Kantor Staf Presiden (KSP), Kementerian Kesehatan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI), dan PT Telkom.

Sejak diluncurkan 29 April 2020 lalu, masalah keluarga dan dukungan sosial primer menjadi dua alasan utama para penelepon layanan Sejiwa

Layanan Sejiwa merupakan respon pemerintah untuk menjamin pemenuhan hak kesehatan mental masyarakat di masa pandemi Covid-19. Pasalnya, tidak hanya kesehatan fisik, tetapi pandemi Covid-19 juga membawa implikasi yang besar terhadap kondisi psikologis masyarakat. Melalui call center 119 extension 8, masyarakat bisa mendapatkan edukasi, konsultasi, dan pendampingan psikologi.

Menteri PPPA, Bintang Puspayoga menyebutkan, secara global terdapat empat faktor utama munculnya masalah kesehatan mental akibat pandemi Covid-19, yaitu faktor jarak dan isolasi sosial, resesi ekonomi, stres dan trauma pada tenaga kesehatan, serta stigma dan diskriminasi.

“Selain itu, meningkatnya angka kekerasan berbasis gender yang cukup tajam di masa pandemi juga turut menambah daftar risiko,” tuturnya dalam Webinar dan Peluncuran Buku Seri Sumbangan Pemikiran Psikologi untuk Bangsa Ke-5 HIMPSI, Jumat (30/4).

Menurut Bintang, meski masalah kesehatan mental ini dihadapi oleh hampir seluruh kalangan masyarakat, namun mengakarnya budaya patriarki dan semakin meningkatnya ketimpangan di masa pandemi membawa risiko yang lebih besar bagi perempuan dan anak.

“Selama masa pandemi, perempuan rentan mengalami beban ganda karena tanggung jawab domestik seolah menjadi tanggung jawab pihak perempuan saja. Padahal perempuan juga menghadapi berbagai tantangannya sendiri, seperti pemutusan hubungan kerja, pemulangan pekerja migran, hingga bisnis yang terancam gulung tikar,” ujar Menteri Bintang.

Bintang pun mengharapkan adanya dukungan dan sinergi dari berbagai pihak untuk dapat meningkatkan kualitas SEJIWA yang berkelanjutan.

“Layanan sejiwa tentunya perlu terus didukung, dikawal, dimonitor, dan dievaluasi demi peningkatan kualitas yang berkelanjutan. Dalam hal ini sinergi dari pilar-pilar pembangunan tentunya sangat dibutuhkan. Terutama dari kalangan akademisi untuk terus mengembangkan layanan, dengan memajukan riset, terlibat dalam perumusan-perumusan strategi, dan pada akhirnya bisa mentransformasikan ranah ilmiah menuju pemanfaatan,” tutur Bintang.

Sementara itu, Kepala Kantor Staf Presiden, Moeldoko mengatakan bahwa banyak aspek yang menimbulkan kecemasan berlebih pada masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19.

“Penurunan pertumbuhan ekonomi membuat banyak orang kehilangan pekerjaan ataupun tidak dapat mencari pekerjaan, kecenderungan pemutusan hubungan kerja pun muncul. Bahkan keadaan semakin memburuk karena adanya angka kekerasan, terutama kekerasan dalam rumah tangga yang meningkat sebagai efek domino atas peningkatan tekanan akibat pandemi Covid-19,” ungkap Moeldoko.

Senada dengan Menteri PPPA, Moeldoko juga menekankan pentingnya kerjasama lintas sektor, termasuk dengan mitra nonpemerintah.

“Pada intinya kami menyadari bahwa diperlukan kerja bersama lintas sektor untuk mengatasi tantangan yang ada. Kontribusi ikatan profesi dan mitra nonpemerintah sangat saya apresiasi dan dibutuhkan dalam melakukan upaya percepatan serta monitoring dan evaluasi pelaksanaan pelayanan kesehatan jiwa di Indonesia,” ujarnya

Ketua Umum HIMPSI, Seger Handoyo menyatakan komitmen HIMPSI sebagai relawan SEJIWA untuk terus memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Sejiwa sudah melayani masyarakat selama setahun dan masih mempunyai komitmen untuk bisa terus memberikan layanan kesehatan jiwa melalui call center 119 extension 8. Terima kasih kepada pemerintah yang telah memutuskan untuk melanjutkan layanan SEJIWA dalam satu tahun ke depan. Ini memberikan saluran kepada masyarakat untuk bisa menyampaikan persoalannya,” ujar Seger.(J02)

 

 

 

 

  • Bagikan