Kreativitas di Rumah, Bantu Anak Lawan Bosan Selama Pandemi Covid-19 - Waspada

Kreativitas di Rumah, Bantu Anak Lawan Bosan Selama Pandemi Covid-19

  • Bagikan

JAKARTA (Waspada): Sudah beberapa bulan ini Yuli mengaku kewalahan dengan sikap anak lelakinya. Yohan kini sering membantah, sulit diajak bicara dan hanya asik dengan laptop atau gawainya. Sekolah yang sudah mulai mengadakan tatap muka, tidak jadi pilihan. Yohan yang duduk di bangku SMP itu tetap memilih belajar dari rumah.

“Sejak pertengahan pandemi anak saya jadi kelihatan berbeda. Sering sekali membantah perkataan orang tua dan jarang bicara. Saya sangat khawatir,” kata Yuli, warga Bogor, Jawa Barat, dijumpai Jumat (24/9).

Indah, ibu muda asal Depok, juga pernah mengalami hal serupa saat pandemi melanda awal tahun lalu. Dua anaknya yang berusia SD dan SMP sempat merasa tertekan karena tidak bisa sekolah langsung. Belajar di rumah terasa berat, termasuk untuk Indah sendiri. Dia harus ikut membantu pelajaran anak-anaknya lewat internet, padahal pekerjaan rumah sangat banyak.

“Sekarang sudah lebih baik, apalagi sudah ada pembelajaran tatap muka secara bergantian. Jadi beban saya dan anak-anak sedikit berkurang. Tapi anak-anak masih kelihatan sedikit cemas karena belum sepenuhnya bebas seperti saat sebelum pandemi,” kata Indah.

Yohana Theresia, M.Psi., Psikolog dari Yayasan Heart of People.id mengatakan, pandemik yang telah berlangsung satu tahun lebih ternyata tidak hanya dirasakan oleh orang dewasa, namun juga anak. Tanpa disadari bahwa anak merupakan korban tersembunyi dari dampak pandemik.

Di banyak kasus yang ditemui, dan berdasarkan hasil penelitian yang di Soetikno, Agustina, Verauli, dan Tirta (2020) ditengarai adanya peningkatan permasalahan perilaku dan masalah akibat paparan stress di kala pandemik saat ini.

Beberapa masalah yang timbul antara lain menarik diri dari keramaian (withdrawal), gangguan somatik atau somatic symptom disorder (munculnya gejala dari tubuh akibat kecemasan yang berlebihan), agresi, depresi maupun masalah perilaku lainnya.

“Kondisi ini tidak lebih dikarenakan beberapa faktor pencetus, seperti ruang bergerak yang terbatas, pendidikan berkualitas yang belum merata, orang tua yang sibuk, serta kondisi psikis yang tidak stabil,” ujar Yohana dalam webinar parenting yang diadakan oleh Faber-Castell yang bertemakan “Soft Skill Apa yang Dibutuhkan di Era Digital”, Sabtu (25/9).

Maka timbul cara instan yang banyak diambil orang tua untuk mengatasi hal tersebut dengan memberikan gawai kepada anak, padahal pemberian gawai bukannya tanpa dampak.

“Pemberian gawai seperti dua mata uang, selain positif dari gawai seperti memberikan kemudahan, informasi dan hiburan namun gawai juga memiliki efek negatif, khususnya jika tanpa dibatasi waktu penggunaannya,” ungkap Yohana.

 Beberapa efek negatif dari gawai menurut Yohana berdasarkan riset yang dilakukan oleh  Straker, Leon M. & Howie, Erin K. (2016) dan Dr. John Hutton (2020), yakni  gangguan kesehatan fisik, terlambat bicara, masalah atensi dan konsentrasi, masalah pada executive function serta masalah perilaku.

Untuk itu, Yohana menyarankan kepada orang tua untuk cerdas memiliki bentuk permainan yang cocok bagi anak yang dibagi berdasarkan umur dan kebutuhannya. Permainan yang tepat juga sangat berguna untuk mendorong kreativitas bagi anak, dimana kreativitas sangatlah berguna bagi salah satu modal kesuksesan seseorang dimana depan.

“Apalagi di era pandemi seperti saat ini, anak-anak sangat membutuhkan stimuli yang membuat jiwa dan raganya berkembang dengan baik,” tandas Yohana. (J02/Dian Warastuti)

  • Bagikan